Minggu, 30 November 2008

Kisah Sejati Seorang KAKA

KAKA: "I belong to Jesus"

Lahir di Brasilia tahun 1982 dengan nama Ricardo Izecson dos Santos Leite, Kaka lahir dari sebuah keluarga penginjil yang kaya raya. Namun hal itu tidak membuat ia menjadi sombong dengan mengandalkan kekayaan keluarganya, ataupun mengikuti jalan hidup keluarganya dengan menjadi penginjil. Kaka punya jalannya sendiri dan caranya sendiri.

Sejak kecil ia sangat menyukai sepakbola, bahkan dalam usia remaja ia menjadi pemain yang cukup terkenal didaerahnya dengan bermain sebagai pemain cadangan di klub San Paulo.

Namun pada usia 18 tahun sebuah bencana terjadi, ia mengalami cidera punggung yang serius saat sedang berenang. Dokter mengatakan ia tidak bisa bermain sepakbola lagi, bahkan kemungkinan besar akan lumpuh akbibat cidera itu. Tidak ada tindakan operasi atau terapi yang bisa menyelamatkannya.

Hidup Kaka hancur berantakan saat itu, kecintaannya pada sepakbola demikian besar, kini semua harus berakhir, bahkan sisa hidupnya harus diisi dengan menjalani kelumpuhannya.

Namun Kaka tahu kemana ia harus minta tolong saat dokter sudah angkat tangan. Kaka bergumul dengan Tuhan, tak putus-putusnya ia berdoa memohon kesembuhannya. Ia bernazar pada Tuhan, bila ia sembuh dan dapat bermain sepakbola lagi, ia akan mempersembahkan seluruh prestasinya itu pada Tuhan Yesus.

Dan keajaibanpun terjadi, setahun setelah kecelakaannya itu tepatnya tahun 2001, Tuhan menyembuhkannya, ia sembuh total dari sakitnya. Bahkan ia dapat merumput bermain sepakbola lagi. Tuhan juga memberikan hadiah bonus, ia tidak lagi menjadi pemain cadangan melainkan menjadi pemain utama dan andalan dalam klubnya.

Tuhan membuat permainan Kaka menjadi begitu hebat sehingga manager tim nasional Brazil terpikat akan permainannya, dan memanggil Kaka untuk mengenakan baju kebesaran tim Brazil, emas dan hijau, dipercaya untuk bertarung di piala dunia 2002.

Dari sekian banyak bakat baru bersinar di Brazil, ia hanyalah seorang pemain muda yang belum setahun membela klubnya, namun sudah dipanggil masuk tim nasional. Bagi Kaka itu adalah keajaiban dan anugerah yang besar baginya.

Walaupun dia hanya jadi pemain cadangan dan duduk dipinggir lapangan menonton pertandingan para seniornya di piala dunia, namun Kaka sudah sangat senang dapat ikut serta dalam kompetisi sebesar piala dunia. Kaka tidak menyadari Tuhan sedang menyediakan keajaiban lainnya bagi dia.

Beberapa pertandingan berjalan begitu keras bagi Brazil, sehingga beberapa pemain bintang harus disimpan karena cidera. Datanglah kesempatan bagi Kaka untuk turun membela timnya. Dibawah pembelaannya Brazilpun menang, peristiwa legendaris yang menggemparkan dunia itupun terjadi, Kaka mengangkat seragam-nya dan di baliknya ada sebuah tulisan yang menggegerkan, kaos putih itu bertuliskan "I Love Jesus".

Itu terus dilakukannya setiap kali teman-temannya merayakan gol. Dan akhirnya Brazil-pun memenangkan Piala Dunia 2002, setelah menaklukan Jerman di final dengan skor 2-0. Dalam parade kemenangan dinegaranya sendiri, kaos kesayangan yang bertuliskan 'I love Jesus' itu tidak pernah dilepasnya. Hal itu menginspirasi banyak pemain Brazil (bahkan pemain negara lain) melakukan hal yang sama.

Saat diwawancara oleh stasiun TV dan ditanya mengapa ia melakukan hal itu, ia berkata, "Saya ingin memperlihatkan dengan hidup dan kerja saya, apa yang telah Tuhan lakukan bagi saya, supaya orang lain dapat melihat apa yang Tuhan bisa lakukan dalam kehidupan mereka."

Permainannya yang cantik di Piala Dunia tidak luput dari perhatian sebuah klub raksasa di Italia, AC Milan. Tidak lama kemudian mereka meminta Kaka masuk dalam timnya sebagai pemain utama. Kaka-pun pindah bergabung dengan AC Milan, masuk dalam liga Italia yang keras dan penuh bintang. Namun dalam musim pertamanya di Liga Italia seri A, ia langsung menyumbangkan gelar juara scudetto bagi AC Milan.

Dalam waktu singkat Kaka menjadi bintang dan pujaan banyak orang khususnya wanita, kegantengannya yang seperti seorang bintang film membuat ia selalu dikejar-kejar fans wanita, dimanapun ia berada akan selalu ada jeritan gadis-gadis muda yang mengaguminya.

Namun cinta dan kesetiannya hanya pada Caroline Celico, kekasihnya yang jauh di Brazil. Walaupun kehidupan pemain sepakbola selalu dikeliling wanita-wanita cantik super model, atau pesta-pesta kemenangan, Kaka selalu menghindari semuanya itu. Ia bahkan tidak mau membawa Caroline tinggal dengannya di Italia sebelum pernikahan, seperti yang dilakukan para pemain bola di liga-liga besar.

Tahun 2005, Kaka meminang Caroline, dalam sebuah upacara perkawinan yang sangat sederhana, sangat berbeda dengan pernikahan selebritis lain yang super mewah. Dalam jumpa pers ia menyatakan bahwa ia masih perjaka dan Caroline masih perawan.

"Itu adalah periode yang penting, sebuah ujian untuk cinta kami berdua. Saya seorang pria normal dan pasti tergoda untuk melakukan hubungan sebelum pernikahan, tapi saya bisa melewatinya. Malam pertama kami juga ditandai darah keperawanan, sebagai tanda cinta suci kami."

Walaupun sebuah isu pindah agama sempat menerpanya diakhir tahun 2006, namun Kaka membuktikan pada mata dunia, bahwa ia adalah murid Kristus sejati dalam final liga Champion Mei 2007. Menjadi pahlawan kemenangan melawan Liverpool, Kaka langsung merayakan golnya dengan membuka kaosnya
dan menunjukan tulisan "I belong to Jesus" kemudian berlutut berdoa bersyukur ditengah lapangan. Teman-temannya yang lain turut merayakannya, tapi mereka mengerti dan tidak mengganggu Kaka yang sedang berdoa. Peristiwa ini ditonton jutaan pemirsa yang menyaksikan final Liga Champion 2007.

Bagi Kaka beserta seluruh pemain dan pendukung AC Milan, kemenangan ini merupakan mujizat. Tidak ada yang menyangka AC Milan akan menang, ditengah kepungan 3 raksasa Inggris yang diunggulkan yaitu Manchester United, Chelsea dan Liverpool.

Kaka menjadi Top Skorer dalam Liga Champion, pertarungan liga paling bergengsi dan tertinggi diseluruh dunia. Membuatnya dinobatkan sebagai raja oleh para media Italia, dan pantas dinobatkan sebagai pemain terbaik didunia. Klub-klub kaya seperti Real Madrid diberitakan telah mengajukan penawaran sebesar 100 juta euro (1 trilyun rupiah lebih) jauh memecahkan rekor pemain termahal saat ini.


Do you belong to Jesus???
"Segala Perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku" [Filipi 4:13]

Minggu, 23 November 2008

Solusi Transportasi di kala Banjir













Rata-rata hampir dibeberapa daerah di Indonesia merupakan daerah yang rawan banjir. Terlebih di ibukota Jakarta yang dapat dikatakan sebagai daerah langganan banjir dikala musim hujan tiba. Segala bentuk kesulitan pun selalu menghadang apabila banjir itu datang, rumah-rumah terendam, segala perabotan hanyut, apalagi akses transportasi yang tertutup air dan tak bisa dilewati oleh segala macam jenis kendaraan keculali perahu sampan atau perahu karet sebagai alat evakuasi.














Hal ini tentu saja sangat merepotkan, terutama bagi mereka yang mempunyai mobilitas tinggi, atau yang ingin bepergian tanpa dihalangi oleh halangan banjir. Setelah aku berselancar sejenak ke dunia maya, lalu kusinggah pada salah satu situs, disitu ada beberapa artikel yang disertai gambar-gambar yang menarik tentang mobil amfibi yang dapat berjalan di darat maupun di air. Lalu ku membayangkan jika kendaraan-kendaraan ini dapat dimiliki oleh sebagian dari penduduk Indonesia terutama bagi mereka yang tinggal didaerah rawan banjir, pastilah sangat membantu sekali. Berikut cuplikan dari gambar-gambar mobil tersebut :

Ini adalah salah satu bentuk kreativitas masyarakat di salah satu daerah di China, dimana jalur transportasinya dipisahkan oleh sungai, sehingga kakek ini (pengemudi) memodifikasi kendaraannya bisa berjalan di darat dan disungi. Bentuknya sangat sederhana sekali.

Ketika berada di air bentuknya seperti perahu sampan.







Konsep mobil yang dapat berjalan di darat dan di air ternyata sudah ada sejak jaman dahulu. Di samping adalah sebuah konsep mobil dengan konsep yang sangat modern, yang dibangun pada tahun antara 40-60 an.

Berikutnya adalah Humdinga, sebuah mobil amfibi yang diciptakan untuk segala macam jenis medan. Baik untuk ofroad, jalan raya maupun di air menerjang banjir.





Dan beberapa jenis mobil amfibi lain, yang tentu saja sangat canggih dengan didukung teknologi tinggi.
































Sayangnya mobil-mobil ini hanya diproduksi beberapa saja, dan belum merupakan kendaraan masal. Sehingga harganya masih selangit.
Tetapi melihat potensi banjir di negara kita, apalagi Indonesia adalah negara maritim yang mempunyai wilayah laut yang luas, serta banyaknya sungai-sungai besar yang menghiasi beberapa daerah terutama di Kalimantan. Maka kiranya Pemerintah Indonesia layaknya memikirkan kendaraan Amfibi dapat dijadikan sebagai Mobil Nasional, dengan harga terjangkau. Kendaraan ini selain dapat membantu untuk menjangkau daerah-daerah yang sulit, membantu dikala banjir juga dapat digunakan sebagai transportasi wisata atau untuk berekreasi menyusuri pantai-pantai yang indah, danau atau sungai.
Dan sayangnya juga, ini masih dalam bentuk hayalan tingkat tinggiku. Siapa tau diwaktu yang akan datang dapat memiliki salah satunya. Terutama yang bermerek aquada he...he...he...


Kamis, 20 November 2008

Masukin Giginya donk!

Alkisah disebuah kampung, Ada seorang cewek sebut aja “Monic”, yang (maaf) giginya agak jongos kedepan. Dia ingin sekali belajar naik motor, karena melihat teman-temanya yang selalu kemana-mana naik motor.

Kebetulan lewatlah “Jeky”, pemuda kampung yang selalu berpenampilan necis dengan motor bebeknya yang selalu dia rawat, sehingga selalu nampak kempling seperti orangnya.

Jecky terkenal sebagai seorang pemuda yang baik hati, dan suka membantu.

Tanpa canggung, Monic pun lantas meminta bantuan supaya mau mengajarinya naik motor, dengan motor bebeknya.

Jecky tak keberatan dengan permintaan Monic, lantas dia memberikan kunci motornya pada Monik. Dengan rasa percaya diri tetapi sedikit ragu, Monik meminta Jecky memandunya, untuk mengajari naik motor.

Monic : Jeck, gimana cara menghidupinnya..?

Jecky : Itu kamu putar kuncinya ke “on” lalu tekan tombol starternya.

(sambil membonceng dibelakang layaknya seorang instruktur, Jecky memberikan intruksi kepada Monik) dan motor pun hidup berbunyi.

Monic : Habis ini apa Jeck.

Jecky : Terus masukin giginya, sambil putar gas pelan-pelan, sambil jaga keseimbangan.

(Monik pun mengikuti intruksi Jecky dengan seksama, dan dengan PDnya pula dia masukin “giginya” dengan susah payah, sambil memutar gas pelan-pelan.

Tetapi motornya tetap tidak bergerak. Semakin dia menambah gas, motornya tetap tidak bergerak hanya suara motornya yang semakin kencang meraung.

Jecky : Nic, dimasukin giginya donk, sudah belum? (sambil sedikit berteriak).

Monic : cudah..cudah giginya cudah tak macukin, tapi kok belum bejalan juga. (dengan suara yang sedikit kepelo-peloan).

Jecky pun heran, dia pikir jangan-jangan motornya rusak. Lalu dia cek, untuk turun dari motor dan mengecek dari depan.

Melihat Monic yang susah payah memasukkan giginya, supaya dapat "mingkem", Jecky pun lantas tertawa terbahak-bahak.

Ternyata bukan gigi kopling motor yang dimasukkan Monic, tetapi gigi Monic sendiri yang dimasukan. Pantasan motor tidak jalan-jalan.

He...he...he...

Seharusnya si monic minum Extra Boss kali ya.., biar jongos bisa jadi boss

Kalo sudah jadi boss, beli motor yang enggak pake gigi, biar enggak susah payah nyembunyiin gigi.. he..he...






Kata Tukul kisah diatas hanya "just kiding" nda bermaksud melecehkan, alias hanya fiktif belaka.

Sabtu, 15 November 2008

Komunitas Askarseba, beragam warna dalam satu kebersamaan

Menjadi mahasiswa baru dan tinggal di kota kecil Salatiga sebenarnya bukan lah pilihanku, tetapi karena faktor keberuntungan saja aku bisa menikmati kota kecil yang sejuk dan nyaman tersebut. Mengingat kembali saat pertama aku datang di kota itu untuk menempuh pendidikan S1 di UKSW, sebuah kampus hijau yang indah bagiku. Disitulah ku dapat mengenal keragaman budaya yang ada di Indonesia.

Tinggal di Askarseba (Asrama Kartini 11A Salatiga), sebenarnya juga bukan pilihanku. Sebab awalnya aku sudah mencoba keliling mencari tempat kost di sekitar kampus tetapi ternyata semua sudah penuh. Maklum, aku masuk sebagai mahasiswa yang mendaftar di kloter gelombang ke III, jadi tempat-tempat kost yang ada di sekitar kampus sudah dipenuhi dengan anak-anak baru yang telah mendaftar pada kloter gelombang I dan ke II, apalagi tempat kost di kampung Kemiri yang tempatnya di belakang kampus. Sudah gak ada lagi kamar kosong yang dapat ku tempati. Akhirnya, lewat informasi dari salah satu teman sefakultas. Pilihanku pun jatuh pada fasilitas kampus yang konon katanya sedikit angker bagi beberapa orang apalagi orang jawa, karena yang tinggal di situ hampir semua adalah mahasiswa dari luar jawa, di tambah lagi bangunannya adalah bangunan tua.


Dengan kondisdi terpepet karena belum mendapat tempat tinggal, terpaksa aku mendaftar sebagai salah satu penghuni tempat itu. Kesan pertama saat survey lokasi memang sedikit agak takut. Melihat bangunan yang terkesan tua tetapi sedikit terawat, apalagi beberapa penghuni (kakak-kakak senior) beberapa diantaranya bertampang serem dengan rambut keriting gondrongnya yang diribakkan, wah menambah merinding juga neh. Tapi karena dari pada nggak dapat tempat tinggal, apalagi perkuliahan sudah akan dimulai maka ku datanglah kepada Pak Slamet. Pak Slamet adalah pengelola asrama yang biasa ngurus administrasinya untuk melakukan registrasi penghuni Askarseba, dan mengurus uang bulanan asrama.


Setelah registrasi selesai, besoknya baru aku datang lagi dengan membawa barang-barangku yang hanya se tas ransel. Pagi-pagi sekali, aku datang meminta kunci kamar di ruangan kerja Pak Slamet, dan Pak Slamet memberikan kunci kamar dan menempatkanku di Unit V kamar nomer 217. Dia bilang, kamu aku tempatkan sekamar dengan orang Palu, tapi sementara ini lagi skripsi, jadi kamu jangan banyak ganggu dia. Dengan tampang lugu aku langsung meng iya kan.


Sambil menunggu Pak Slamet mempersiapkan berkas administrasi, dan keperluan kamarku. aku pun duduk menunggu disofa diruangannya. Tiba-tiba dimuka pintu ada cewek masuk mencari pak Slamet, yang kebetulan waktu itu baru keluar dari ruangannya, Dia pun menyapaku dengan ramahnya ”Selamat pagi Kak, Pak Slametnya kemana? ”. Tanyanya.


Aku pun bingung, mana yang kak ini, pikirku. Karena aku merasa paling Yunior saat itu. Tetapi akupun menjawab ”ooh.. emm.. baru keluar sebentar, tunggu aja”. Kataku.

”Oo.. kalau begitu, nanti aja deh Kak, saya akan kembali lagi. Makasih ya Kak” katanya. Akupun semakin bingung, sambil tersenyum dikit aku pun mengangguk.. lalu dia berlalu.


Sebelum ku tahu bahwa dia adalah Hellen S. Ginting, teman beretnis Batak tetapi lama tinggal di Jakarta, yang ternyata juga seangkatanku. Dia mengira aku salah satu senior, karena rambutku dan pawakanku tidak seperti teman-teman yang lain, yang saat itu berkepala pelontos karena baru ikut Osmaru atau Ospek asrama yang terkenal kejam katanya. Sedangkan ketika ku masuk, kegiatan ospek sudah selesai. Rambutku pun masih sedikit panjang, seperti senior-senior yang lain. Pantasan dia memanggilku ”Kak”.


Kamar Unit V . 217


Saat memasuki kamar itu ternyata...., ya ampun meskipun kamarnya berukuran 4x4 tetapi tampak penuh dengan barang, apalagi si empunya kamar ternyata enggak ada di tempat. Karena katanya dia saat itu lagi mengikuti acara kampus di luar kota untuk beberapa hari kedepan. Dengan dikasihkan satu ranjang dan satu tempat tidur, maka ku tata sedemikan rupa tenpa mengubah sedikitpun barang friendkamp (teman kamar) ku yang belum aku temui. Selama hampir empat hari, aku selalu was-was karena gak enak juga tinggal sekamar dengan orang, tetapi aku belum bertemu orang itu. Bahkan aku juga tidak tau mau berbuat apa, sebab belum banyak juga kenal dengan penghuni yang lain.


Ketika dia datang, tampaknya dia sudah tahu kalau akan mendapat friendkam, maka saat itulah aku beranikan diri untuk minta izin mengatur barang-barangku. Tak menyangka Kak Erick, mahasiswa FSM (Fakultas Sain Matematika) asal Palu Sulawesi Tengah ini adalah salah satu mahasiswa teladan di kampus dan di Askarseba. Bersyukurlah aku dapat friendkam pinter dan baik. Meskipun orangnya sedikit keras, dan disiplin.


Bulan-bulan pertama memang kurasa sangat berat untuk tinggal di Asrama meskipun masih tinggal di pulau Jawa, tetapi lingkungan pergaulanku di asrama seperti sudah bukan di pulau Jawa lagi. Di sini aku bertemu dengan teman-teman dari latar belakang daerah yang berbeda, seperti friendkamku berasal dari Palu, ada pula temanku yang dari Ambon, Sumba, Kupang, Manado, Papua, Sumatra, Kalimantan dll. Beragam etnis dan suku bahasa berbaur jadi satu disini.


Mulanya aku belum terbiasa dengan logat bahasa Indonesia Timur yang sedikit keras, dan cepat. Tetapi lambat laun, karena memang setiap hari selalu berada ditengah-tengah mereka maka logat bahasa jawaku yang medok pun mulai hilang. Bahkan dialek bahasaku pun mulai mengikuti bahasa yang mereka pakai. Misal bila bicara dengan teman-teman dari Ambon yang terkenal dengan bahasanya yang cepat dan benada tinggi dengan penggunaan kata-kata yang jelas berbeda dengan bahasa jawa yang kalem, dan teratur. Aku yang mulanya denger mereka ngobrol hanya senyum-senyum saja, tanpa mengerti artinya sehingga jadi bahan ketawaan oleh teman-teman dari Ambon. Lambat laun karena sudah terbiasa akhirnya, ngikut juga dengan logat dan gaya bahasa mereka.


Kebersamaan adalah moto Askarseba


Biarpun yang tinggal disana adalah dari beragam latar belakang etnis dan budaya yang berbeda, tetapi yang membuat kami salut dan betah tinggal disana adalah karena seruan ”kebersamaan” dalam setiap perjumpaan ku dengan teman-teman si Askarseba. Seruan ”kebersamaan” ini pula telah ditekankan pada setiap anak-anak baru, yang baru masuk.


Biasanya, bagi mereka yang masih mempertahankan keegoisannya.. rata-rata tidak akan betah untuk tinggal di Askarseba. Paling hanya bertahan sebulan sampai tiga bulan saja. Karena, tinggal di Askarseba ini harus baku tau, baku sapa dan baku tolong. Jika misalnya saat aku mau keluar menuju kampus, dan tiba-tiba aku berpapasan dengan teman Askarseba lain. Kita harus saling menyapa, dan saling mengenal. Jika tidak kita akan di cap sebagai ”Kapal Kayu”. Artinya ya seperti kapal kayu, yang tak bermesin dan tak besuara, sombong dan lain-lain.


Badansa and Sajojo mari badansa rame-rame


Inilah yang paling ditunggu oleh komunitas Askarseba. Yah pesta dansa..
Yang pasti acara ini tidak dimiliki oleh teman-teman lain yang tinggal di kost-kostan. Acara ini biasanya di gelar saat seusai Osmaru penerimaan penghuni baru, pas malam inagurasi. Atau pas acara habis Wisuda, Paskah, Natal atau ada yang Ulang tahun yang ingin dirayakan dengan lumayan meriah, atau kadang-kadang malah spontanitas begitu saja.


Asrama disini mungkin tidak seperti asrama-asrama di tempat lain, yang super ketat penjagaanya. Di Askarseba waktu jamanku dulu, ada peraturannya tetapi tidak seketat sekarang. Kami masih diberi kebebasan untuk membuat kegiatan-kegiatan diluar kegiatan akademik sebagai kegiatan refresing.


Seperti acara dansa hingga larut malam misalnya, meskipun hal ini curi-curi waktu yang diberikan oleh kepala Asrama. Kadang pula karena kenakalan kami, Kepala Arama sampai marah-marah karena mengabaikan peringatannya, meskipun dia sendiri sih memakluminya, karena ini adalah tradisi asrama.


Aku yang dahulu tidak tahu sama sekali apa itu dansa, sajojo, cha-cha dan poco-poco. Akhirnya karena teman-teman asrama sering menggelar acara ini, akupun ikut-ikutan belaja Merari itu. Padahal tubuhku sangat kaku dan terlihat lucu kalau mengikuti tarian-tarian itu.


Yang lebih menarik adalah ketika yang diputar lagu-lagu dansa. Mulanya aku hanya melihat saja dari salah satu sudut hall unit VI yang dijadikan acara pesta malam itu, sambil mengamati beberapa pasang senior dan teman-temanku yang turun melantai. Terang saja aku takut dan malu kalau mengajak atau menarik cewek untuk berdansa, soalnya aku sendiri tidak tahu dansa. Tapi beruntunglah bukan aku yang menarik cewek, tetapi cewek-ceweklah yang menarik aku untuk mengajak dansa. Kebalik memang.


Yah.. mereka teman-teman cewekku, dengan setia mengajariku berdansa. Salah satunya Hellen yang telah kusebut diatas tadi, dan beberapa teman senior dan yunior cewek yang lain.


Karena bantuan mereka, setiap kali ada acara dansa.. pas ada lagu dansa, maka mulailah aku memberanikan diri mengajak salah satu cewek yang kuangap menarik untuk kuajak dansa. Yihhuuiiii.... asyik.... nampak romantis banget dah...


Begitu pun ketika yang diputar adalah lagu Sajojo... pasti lantai langsung penuh. Mereka yang mulanya hanya duduk-duduk atau berdiri dipinggir saja, kalau lagu ini diputar langsung semua turun melantai....


Pokoknya untuk acara ini sangat berkesan sekali...

Hingga saat kita sudah keluar dari asrama, karena waktu itu ada kebijakan kampus yang menyatakan bahwa penghuni lama asrama harus keluar semua, tak ada yang terkecuali... karena penghuni lama dianggap telah banyak membuat kesalahan, dan pelanggaran. Akhirnya pimpinan Universitas mengeluarkan keputusan itu.


Dari Persahabatan sampai Pertunangan


Biarpun kami telah berpisah, karena harus mencari kost masing-masing tetapi ikatan kebersamaan komunitas asrama tidak putus. Baik cewek maupun cowok. Setiap ada acara seremonial tertentu seperti ulang tahun, perayaan paskah, Natal atau bahkan salah satu diantara kami ada yang wisuda. Kami pun bahu membahu membikin acara perayaan. Bila memungkinkan setelah acara ibadah, pasti ditutup dengan acara pesta dansa lagi. Yang penting tempatnya memungkinkan.


Ikatan emosional persahabatan dan persaudaraan pun terjalin sangat kuat diantara kami. Bahkan banyak diantaranya, karena sudah merasa dekat dan sudah saling mengenal. Antara penghuni Unit cowok dan unit cewek banyak yang saling jadian, bahkan setelah lulus banyak diantaranya yang langsung melanjutkan dijenjang pernikahan.


Yah... terkadang aku masih merindukan saat-saat indah ketika masih tinggal disana. Ketika kita berikrar untuk menjadi manusia yang creative minority for Agent of changes di tempat kerja maupun di lingkungan masyarakat dan bernegara.


Saat ini, sudah kurang lebih 5 tahun bahkan hampir 6 tahun saat-saat indah itu berlalu. Tetapi irama dan aura kebersamaan masih tetap aku rasakan. Meskipn satu persatu dari kami sudah berpencar berjuang untuk nasib ditempat perutusan masing-masing di pelosok Indonesia ini, tetapi kami masih saling contak.


Sahabat karibku, sebut saja Willy Corputy anak Ambon yang sekarang sudah menjadi Guru di salah satu sekolah di Makasar, begitu juga Elly Kudubun asli pulau Tual Maluku Tenggara, yang mulanya menjadi dosen di daerah asalnya sekarang kembali lagi ke Salatiga untuk menjadi pengajar di almamaternya. Apalagi si Ernice cewek bersuara emas asli Tobelo Ternate, yang saat ini menjadi aktifis kemanusiaan di Aceh, Gideon S. Manulang beserta Gilbert adiknya anak Batak, Tia dan Filla yang asli Sunda, Nitran yang asli Posso, Like cewek manis asli Minahasa tapi tinggal di Luwuk Sulteng. Dan masih banyak lagi sahabat-sahabat lain yang tak bisa ku sebut satu persatu, tetapi hingga saat ini masih saling kontak untuk mengabari keberadaan masing-masing.


Yah... inilah warna-warni di Askarseba, yang begitu berwarna, tetapi begitu menyatu dalam kebersamaan.

Asrama Blusse

Senin, 03 November 2008

Si Om Manado yang Sok Tau

Ini sapa pe Oom Kang..?

Kejadiannya di pesawat Garuda flight No. GA603 rute Manado- Makassar - Jakarta . Ada 1 penumpang... orang manado yg baru pertama kali naik pesawat, duduk di seat 20A (Klas economy) udah agak di belakang. Dia naik dari Manado dan tidak ada masalah. Pada saat transit di Makassar, dia turun dari pesawat melalui pintu depan sehingga melewati kompartmen kelas Bisnis, mungkin dia perhatikan perbedaan kelas bisnis dan ekonomi dari ukuran besarnya kursi. Nah pada saat boarding lagi dari Makassar , si Oom Manado naik ke pesawat, duduk di seat no.1F (Bisnis kelas paling depan lagi....).


Kemudian ada cabin crew nanya:

Cabin Crew : Selamat Sore Pak.
Om Manado : Selamat Sore Nona .....
Cabin Crew : Mohon Maaf pak, bisa lihat Boarding Passnya ??
Om Manado : Oh... kita nen tau apa itu koa. Ngana minta apa ??
Cabin Crew : Maaf pak, saya mau lihat potongan pass naik, berupa kertas mungkin ada di tiket yang bapak pegang.
Om Manado : Oh.. kalo teket ada nooo.... ngana mo lia ?? sabar ne ..
Oom Manado ambil tiketnya di kantong celana, kemudian diberikan ke Cabin crew.
Cabin Crew : Oh Maaf pak, tempat bapak bukan disini, tapi di belakang, tepatnya no 20A, di kelas ekonomi. Mohon maaf pak, mari saya antar ke tempat duduk bapak.
Oom Manado : Nimau !!!!!! kita mo dudu disini.... kita suka dudu disini!!!
Cabin Crew : Maaf pak.. tapi bapak bayarnya untuk klas ekonomi sementara yg disini buat yg bayar tiket Klas Bisnis.

Oom Manado : Itu ngana pe urusan.... bukan kita pe urusan noo.... yg kita tau... kita su bayar tiket.. kong kita mau dudu dimuka sini. Pigi sana ..... jauh2 jo ngana......! !!!!

Si cabin crew tetap dengan ramahnya menjelaskan ke oom Manado , tetapi si Oom tetap Ngeyel bin Ngotot gak mau pindah. Akhirnya karena penumpang sudah pada naik semua dan pintu pesawat akan ditutup namun si oom manado tetap gak mau pindah, maka melaporlah si cabin crew ke PIC (Pilot in Command). Si pilot yg kebetulan orang ambon (Fam-nya Tapillatu, klo tdk salah...).. trus keluar untuk ketemu dgn oom Manado .


Pilot : Oom... selamat sore om.... Apa kabar oom ??
Oom Manado: Selamat sore... (tapi tetap tidak tersenyum)
Pilot : Oom dapa lia gagah skali,,,,, mau berangkat ke mana Oom ??
Oom Manado: Jakarta . Ngana orang Menado ???
Pilot : Bukan Oom..... beta orang Ambon .... tapi Oom ... beta ada mau bilang .... kalo mau ke Jakarta musti dudu di belakang Oom.
Oom Manado: Oh ?? Begitu ka?? Kong dorang yg dudu dimuka ini mau pigi mana?
Pilot : ..Klo yang di muka sini Oom... itu mau bale ulang ke Menado.

Oom Manado cepat2..berdiri trus pindah tempat sambil ngomong ke Cabin Crew "Kiapa ngoni nda kase tau dari tadi, klo yg di muka mau bale ke Manado "?
Kita rugi no.. klo su beli teket dari Manado mau pigi jakarta ... maar dapa bale ulang ke Manado '.

------------------------
Diceritain oleh Salmon Tarigan
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...