Minggu, 30 November 2008

Kisah Sejati Seorang KAKA

KAKA: "I belong to Jesus"

Lahir di Brasilia tahun 1982 dengan nama Ricardo Izecson dos Santos Leite, Kaka lahir dari sebuah keluarga penginjil yang kaya raya. Namun hal itu tidak membuat ia menjadi sombong dengan mengandalkan kekayaan keluarganya, ataupun mengikuti jalan hidup keluarganya dengan menjadi penginjil. Kaka punya jalannya sendiri dan caranya sendiri.

Sejak kecil ia sangat menyukai sepakbola, bahkan dalam usia remaja ia menjadi pemain yang cukup terkenal didaerahnya dengan bermain sebagai pemain cadangan di klub San Paulo.

Namun pada usia 18 tahun sebuah bencana terjadi, ia mengalami cidera punggung yang serius saat sedang berenang. Dokter mengatakan ia tidak bisa bermain sepakbola lagi, bahkan kemungkinan besar akan lumpuh akbibat cidera itu. Tidak ada tindakan operasi atau terapi yang bisa menyelamatkannya.

Hidup Kaka hancur berantakan saat itu, kecintaannya pada sepakbola demikian besar, kini semua harus berakhir, bahkan sisa hidupnya harus diisi dengan menjalani kelumpuhannya.

Namun Kaka tahu kemana ia harus minta tolong saat dokter sudah angkat tangan. Kaka bergumul dengan Tuhan, tak putus-putusnya ia berdoa memohon kesembuhannya. Ia bernazar pada Tuhan, bila ia sembuh dan dapat bermain sepakbola lagi, ia akan mempersembahkan seluruh prestasinya itu pada Tuhan Yesus.

Dan keajaibanpun terjadi, setahun setelah kecelakaannya itu tepatnya tahun 2001, Tuhan menyembuhkannya, ia sembuh total dari sakitnya. Bahkan ia dapat merumput bermain sepakbola lagi. Tuhan juga memberikan hadiah bonus, ia tidak lagi menjadi pemain cadangan melainkan menjadi pemain utama dan andalan dalam klubnya.

Tuhan membuat permainan Kaka menjadi begitu hebat sehingga manager tim nasional Brazil terpikat akan permainannya, dan memanggil Kaka untuk mengenakan baju kebesaran tim Brazil, emas dan hijau, dipercaya untuk bertarung di piala dunia 2002.

Dari sekian banyak bakat baru bersinar di Brazil, ia hanyalah seorang pemain muda yang belum setahun membela klubnya, namun sudah dipanggil masuk tim nasional. Bagi Kaka itu adalah keajaiban dan anugerah yang besar baginya.

Walaupun dia hanya jadi pemain cadangan dan duduk dipinggir lapangan menonton pertandingan para seniornya di piala dunia, namun Kaka sudah sangat senang dapat ikut serta dalam kompetisi sebesar piala dunia. Kaka tidak menyadari Tuhan sedang menyediakan keajaiban lainnya bagi dia.

Beberapa pertandingan berjalan begitu keras bagi Brazil, sehingga beberapa pemain bintang harus disimpan karena cidera. Datanglah kesempatan bagi Kaka untuk turun membela timnya. Dibawah pembelaannya Brazilpun menang, peristiwa legendaris yang menggemparkan dunia itupun terjadi, Kaka mengangkat seragam-nya dan di baliknya ada sebuah tulisan yang menggegerkan, kaos putih itu bertuliskan "I Love Jesus".

Itu terus dilakukannya setiap kali teman-temannya merayakan gol. Dan akhirnya Brazil-pun memenangkan Piala Dunia 2002, setelah menaklukan Jerman di final dengan skor 2-0. Dalam parade kemenangan dinegaranya sendiri, kaos kesayangan yang bertuliskan 'I love Jesus' itu tidak pernah dilepasnya. Hal itu menginspirasi banyak pemain Brazil (bahkan pemain negara lain) melakukan hal yang sama.

Saat diwawancara oleh stasiun TV dan ditanya mengapa ia melakukan hal itu, ia berkata, "Saya ingin memperlihatkan dengan hidup dan kerja saya, apa yang telah Tuhan lakukan bagi saya, supaya orang lain dapat melihat apa yang Tuhan bisa lakukan dalam kehidupan mereka."

Permainannya yang cantik di Piala Dunia tidak luput dari perhatian sebuah klub raksasa di Italia, AC Milan. Tidak lama kemudian mereka meminta Kaka masuk dalam timnya sebagai pemain utama. Kaka-pun pindah bergabung dengan AC Milan, masuk dalam liga Italia yang keras dan penuh bintang. Namun dalam musim pertamanya di Liga Italia seri A, ia langsung menyumbangkan gelar juara scudetto bagi AC Milan.

Dalam waktu singkat Kaka menjadi bintang dan pujaan banyak orang khususnya wanita, kegantengannya yang seperti seorang bintang film membuat ia selalu dikejar-kejar fans wanita, dimanapun ia berada akan selalu ada jeritan gadis-gadis muda yang mengaguminya.

Namun cinta dan kesetiannya hanya pada Caroline Celico, kekasihnya yang jauh di Brazil. Walaupun kehidupan pemain sepakbola selalu dikeliling wanita-wanita cantik super model, atau pesta-pesta kemenangan, Kaka selalu menghindari semuanya itu. Ia bahkan tidak mau membawa Caroline tinggal dengannya di Italia sebelum pernikahan, seperti yang dilakukan para pemain bola di liga-liga besar.

Tahun 2005, Kaka meminang Caroline, dalam sebuah upacara perkawinan yang sangat sederhana, sangat berbeda dengan pernikahan selebritis lain yang super mewah. Dalam jumpa pers ia menyatakan bahwa ia masih perjaka dan Caroline masih perawan.

"Itu adalah periode yang penting, sebuah ujian untuk cinta kami berdua. Saya seorang pria normal dan pasti tergoda untuk melakukan hubungan sebelum pernikahan, tapi saya bisa melewatinya. Malam pertama kami juga ditandai darah keperawanan, sebagai tanda cinta suci kami."

Walaupun sebuah isu pindah agama sempat menerpanya diakhir tahun 2006, namun Kaka membuktikan pada mata dunia, bahwa ia adalah murid Kristus sejati dalam final liga Champion Mei 2007. Menjadi pahlawan kemenangan melawan Liverpool, Kaka langsung merayakan golnya dengan membuka kaosnya
dan menunjukan tulisan "I belong to Jesus" kemudian berlutut berdoa bersyukur ditengah lapangan. Teman-temannya yang lain turut merayakannya, tapi mereka mengerti dan tidak mengganggu Kaka yang sedang berdoa. Peristiwa ini ditonton jutaan pemirsa yang menyaksikan final Liga Champion 2007.

Bagi Kaka beserta seluruh pemain dan pendukung AC Milan, kemenangan ini merupakan mujizat. Tidak ada yang menyangka AC Milan akan menang, ditengah kepungan 3 raksasa Inggris yang diunggulkan yaitu Manchester United, Chelsea dan Liverpool.

Kaka menjadi Top Skorer dalam Liga Champion, pertarungan liga paling bergengsi dan tertinggi diseluruh dunia. Membuatnya dinobatkan sebagai raja oleh para media Italia, dan pantas dinobatkan sebagai pemain terbaik didunia. Klub-klub kaya seperti Real Madrid diberitakan telah mengajukan penawaran sebesar 100 juta euro (1 trilyun rupiah lebih) jauh memecahkan rekor pemain termahal saat ini.


Do you belong to Jesus???
"Segala Perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku" [Filipi 4:13]

Minggu, 23 November 2008

Solusi Transportasi di kala Banjir













Rata-rata hampir dibeberapa daerah di Indonesia merupakan daerah yang rawan banjir. Terlebih di ibukota Jakarta yang dapat dikatakan sebagai daerah langganan banjir dikala musim hujan tiba. Segala bentuk kesulitan pun selalu menghadang apabila banjir itu datang, rumah-rumah terendam, segala perabotan hanyut, apalagi akses transportasi yang tertutup air dan tak bisa dilewati oleh segala macam jenis kendaraan keculali perahu sampan atau perahu karet sebagai alat evakuasi.














Hal ini tentu saja sangat merepotkan, terutama bagi mereka yang mempunyai mobilitas tinggi, atau yang ingin bepergian tanpa dihalangi oleh halangan banjir. Setelah aku berselancar sejenak ke dunia maya, lalu kusinggah pada salah satu situs, disitu ada beberapa artikel yang disertai gambar-gambar yang menarik tentang mobil amfibi yang dapat berjalan di darat maupun di air. Lalu ku membayangkan jika kendaraan-kendaraan ini dapat dimiliki oleh sebagian dari penduduk Indonesia terutama bagi mereka yang tinggal didaerah rawan banjir, pastilah sangat membantu sekali. Berikut cuplikan dari gambar-gambar mobil tersebut :

Ini adalah salah satu bentuk kreativitas masyarakat di salah satu daerah di China, dimana jalur transportasinya dipisahkan oleh sungai, sehingga kakek ini (pengemudi) memodifikasi kendaraannya bisa berjalan di darat dan disungi. Bentuknya sangat sederhana sekali.

Ketika berada di air bentuknya seperti perahu sampan.







Konsep mobil yang dapat berjalan di darat dan di air ternyata sudah ada sejak jaman dahulu. Di samping adalah sebuah konsep mobil dengan konsep yang sangat modern, yang dibangun pada tahun antara 40-60 an.

Berikutnya adalah Humdinga, sebuah mobil amfibi yang diciptakan untuk segala macam jenis medan. Baik untuk ofroad, jalan raya maupun di air menerjang banjir.





Dan beberapa jenis mobil amfibi lain, yang tentu saja sangat canggih dengan didukung teknologi tinggi.
































Sayangnya mobil-mobil ini hanya diproduksi beberapa saja, dan belum merupakan kendaraan masal. Sehingga harganya masih selangit.
Tetapi melihat potensi banjir di negara kita, apalagi Indonesia adalah negara maritim yang mempunyai wilayah laut yang luas, serta banyaknya sungai-sungai besar yang menghiasi beberapa daerah terutama di Kalimantan. Maka kiranya Pemerintah Indonesia layaknya memikirkan kendaraan Amfibi dapat dijadikan sebagai Mobil Nasional, dengan harga terjangkau. Kendaraan ini selain dapat membantu untuk menjangkau daerah-daerah yang sulit, membantu dikala banjir juga dapat digunakan sebagai transportasi wisata atau untuk berekreasi menyusuri pantai-pantai yang indah, danau atau sungai.
Dan sayangnya juga, ini masih dalam bentuk hayalan tingkat tinggiku. Siapa tau diwaktu yang akan datang dapat memiliki salah satunya. Terutama yang bermerek aquada he...he...he...


Kamis, 20 November 2008

Masukin Giginya donk!

Alkisah disebuah kampung, Ada seorang cewek sebut aja “Monic”, yang (maaf) giginya agak jongos kedepan. Dia ingin sekali belajar naik motor, karena melihat teman-temanya yang selalu kemana-mana naik motor.

Kebetulan lewatlah “Jeky”, pemuda kampung yang selalu berpenampilan necis dengan motor bebeknya yang selalu dia rawat, sehingga selalu nampak kempling seperti orangnya.

Jecky terkenal sebagai seorang pemuda yang baik hati, dan suka membantu.

Tanpa canggung, Monic pun lantas meminta bantuan supaya mau mengajarinya naik motor, dengan motor bebeknya.

Jecky tak keberatan dengan permintaan Monic, lantas dia memberikan kunci motornya pada Monik. Dengan rasa percaya diri tetapi sedikit ragu, Monik meminta Jecky memandunya, untuk mengajari naik motor.

Monic : Jeck, gimana cara menghidupinnya..?

Jecky : Itu kamu putar kuncinya ke “on” lalu tekan tombol starternya.

(sambil membonceng dibelakang layaknya seorang instruktur, Jecky memberikan intruksi kepada Monik) dan motor pun hidup berbunyi.

Monic : Habis ini apa Jeck.

Jecky : Terus masukin giginya, sambil putar gas pelan-pelan, sambil jaga keseimbangan.

(Monik pun mengikuti intruksi Jecky dengan seksama, dan dengan PDnya pula dia masukin “giginya” dengan susah payah, sambil memutar gas pelan-pelan.

Tetapi motornya tetap tidak bergerak. Semakin dia menambah gas, motornya tetap tidak bergerak hanya suara motornya yang semakin kencang meraung.

Jecky : Nic, dimasukin giginya donk, sudah belum? (sambil sedikit berteriak).

Monic : cudah..cudah giginya cudah tak macukin, tapi kok belum bejalan juga. (dengan suara yang sedikit kepelo-peloan).

Jecky pun heran, dia pikir jangan-jangan motornya rusak. Lalu dia cek, untuk turun dari motor dan mengecek dari depan.

Melihat Monic yang susah payah memasukkan giginya, supaya dapat "mingkem", Jecky pun lantas tertawa terbahak-bahak.

Ternyata bukan gigi kopling motor yang dimasukkan Monic, tetapi gigi Monic sendiri yang dimasukan. Pantasan motor tidak jalan-jalan.

He...he...he...

Seharusnya si monic minum Extra Boss kali ya.., biar jongos bisa jadi boss

Kalo sudah jadi boss, beli motor yang enggak pake gigi, biar enggak susah payah nyembunyiin gigi.. he..he...






Kata Tukul kisah diatas hanya "just kiding" nda bermaksud melecehkan, alias hanya fiktif belaka.

Sabtu, 15 November 2008

Komunitas Askarseba, beragam warna dalam satu kebersamaan

Menjadi mahasiswa baru dan tinggal di kota kecil Salatiga sebenarnya bukan lah pilihanku, tetapi karena faktor keberuntungan saja aku bisa menikmati kota kecil yang sejuk dan nyaman tersebut. Mengingat kembali saat pertama aku datang di kota itu untuk menempuh pendidikan S1 di UKSW, sebuah kampus hijau yang indah bagiku. Disitulah ku dapat mengenal keragaman budaya yang ada di Indonesia.

Tinggal di Askarseba (Asrama Kartini 11A Salatiga), sebenarnya juga bukan pilihanku. Sebab awalnya aku sudah mencoba keliling mencari tempat kost di sekitar kampus tetapi ternyata semua sudah penuh. Maklum, aku masuk sebagai mahasiswa yang mendaftar di kloter gelombang ke III, jadi tempat-tempat kost yang ada di sekitar kampus sudah dipenuhi dengan anak-anak baru yang telah mendaftar pada kloter gelombang I dan ke II, apalagi tempat kost di kampung Kemiri yang tempatnya di belakang kampus. Sudah gak ada lagi kamar kosong yang dapat ku tempati. Akhirnya, lewat informasi dari salah satu teman sefakultas. Pilihanku pun jatuh pada fasilitas kampus yang konon katanya sedikit angker bagi beberapa orang apalagi orang jawa, karena yang tinggal di situ hampir semua adalah mahasiswa dari luar jawa, di tambah lagi bangunannya adalah bangunan tua.


Dengan kondisdi terpepet karena belum mendapat tempat tinggal, terpaksa aku mendaftar sebagai salah satu penghuni tempat itu. Kesan pertama saat survey lokasi memang sedikit agak takut. Melihat bangunan yang terkesan tua tetapi sedikit terawat, apalagi beberapa penghuni (kakak-kakak senior) beberapa diantaranya bertampang serem dengan rambut keriting gondrongnya yang diribakkan, wah menambah merinding juga neh. Tapi karena dari pada nggak dapat tempat tinggal, apalagi perkuliahan sudah akan dimulai maka ku datanglah kepada Pak Slamet. Pak Slamet adalah pengelola asrama yang biasa ngurus administrasinya untuk melakukan registrasi penghuni Askarseba, dan mengurus uang bulanan asrama.


Setelah registrasi selesai, besoknya baru aku datang lagi dengan membawa barang-barangku yang hanya se tas ransel. Pagi-pagi sekali, aku datang meminta kunci kamar di ruangan kerja Pak Slamet, dan Pak Slamet memberikan kunci kamar dan menempatkanku di Unit V kamar nomer 217. Dia bilang, kamu aku tempatkan sekamar dengan orang Palu, tapi sementara ini lagi skripsi, jadi kamu jangan banyak ganggu dia. Dengan tampang lugu aku langsung meng iya kan.


Sambil menunggu Pak Slamet mempersiapkan berkas administrasi, dan keperluan kamarku. aku pun duduk menunggu disofa diruangannya. Tiba-tiba dimuka pintu ada cewek masuk mencari pak Slamet, yang kebetulan waktu itu baru keluar dari ruangannya, Dia pun menyapaku dengan ramahnya ”Selamat pagi Kak, Pak Slametnya kemana? ”. Tanyanya.


Aku pun bingung, mana yang kak ini, pikirku. Karena aku merasa paling Yunior saat itu. Tetapi akupun menjawab ”ooh.. emm.. baru keluar sebentar, tunggu aja”. Kataku.

”Oo.. kalau begitu, nanti aja deh Kak, saya akan kembali lagi. Makasih ya Kak” katanya. Akupun semakin bingung, sambil tersenyum dikit aku pun mengangguk.. lalu dia berlalu.


Sebelum ku tahu bahwa dia adalah Hellen S. Ginting, teman beretnis Batak tetapi lama tinggal di Jakarta, yang ternyata juga seangkatanku. Dia mengira aku salah satu senior, karena rambutku dan pawakanku tidak seperti teman-teman yang lain, yang saat itu berkepala pelontos karena baru ikut Osmaru atau Ospek asrama yang terkenal kejam katanya. Sedangkan ketika ku masuk, kegiatan ospek sudah selesai. Rambutku pun masih sedikit panjang, seperti senior-senior yang lain. Pantasan dia memanggilku ”Kak”.


Kamar Unit V . 217


Saat memasuki kamar itu ternyata...., ya ampun meskipun kamarnya berukuran 4x4 tetapi tampak penuh dengan barang, apalagi si empunya kamar ternyata enggak ada di tempat. Karena katanya dia saat itu lagi mengikuti acara kampus di luar kota untuk beberapa hari kedepan. Dengan dikasihkan satu ranjang dan satu tempat tidur, maka ku tata sedemikan rupa tenpa mengubah sedikitpun barang friendkamp (teman kamar) ku yang belum aku temui. Selama hampir empat hari, aku selalu was-was karena gak enak juga tinggal sekamar dengan orang, tetapi aku belum bertemu orang itu. Bahkan aku juga tidak tau mau berbuat apa, sebab belum banyak juga kenal dengan penghuni yang lain.


Ketika dia datang, tampaknya dia sudah tahu kalau akan mendapat friendkam, maka saat itulah aku beranikan diri untuk minta izin mengatur barang-barangku. Tak menyangka Kak Erick, mahasiswa FSM (Fakultas Sain Matematika) asal Palu Sulawesi Tengah ini adalah salah satu mahasiswa teladan di kampus dan di Askarseba. Bersyukurlah aku dapat friendkam pinter dan baik. Meskipun orangnya sedikit keras, dan disiplin.


Bulan-bulan pertama memang kurasa sangat berat untuk tinggal di Asrama meskipun masih tinggal di pulau Jawa, tetapi lingkungan pergaulanku di asrama seperti sudah bukan di pulau Jawa lagi. Di sini aku bertemu dengan teman-teman dari latar belakang daerah yang berbeda, seperti friendkamku berasal dari Palu, ada pula temanku yang dari Ambon, Sumba, Kupang, Manado, Papua, Sumatra, Kalimantan dll. Beragam etnis dan suku bahasa berbaur jadi satu disini.


Mulanya aku belum terbiasa dengan logat bahasa Indonesia Timur yang sedikit keras, dan cepat. Tetapi lambat laun, karena memang setiap hari selalu berada ditengah-tengah mereka maka logat bahasa jawaku yang medok pun mulai hilang. Bahkan dialek bahasaku pun mulai mengikuti bahasa yang mereka pakai. Misal bila bicara dengan teman-teman dari Ambon yang terkenal dengan bahasanya yang cepat dan benada tinggi dengan penggunaan kata-kata yang jelas berbeda dengan bahasa jawa yang kalem, dan teratur. Aku yang mulanya denger mereka ngobrol hanya senyum-senyum saja, tanpa mengerti artinya sehingga jadi bahan ketawaan oleh teman-teman dari Ambon. Lambat laun karena sudah terbiasa akhirnya, ngikut juga dengan logat dan gaya bahasa mereka.


Kebersamaan adalah moto Askarseba


Biarpun yang tinggal disana adalah dari beragam latar belakang etnis dan budaya yang berbeda, tetapi yang membuat kami salut dan betah tinggal disana adalah karena seruan ”kebersamaan” dalam setiap perjumpaan ku dengan teman-teman si Askarseba. Seruan ”kebersamaan” ini pula telah ditekankan pada setiap anak-anak baru, yang baru masuk.


Biasanya, bagi mereka yang masih mempertahankan keegoisannya.. rata-rata tidak akan betah untuk tinggal di Askarseba. Paling hanya bertahan sebulan sampai tiga bulan saja. Karena, tinggal di Askarseba ini harus baku tau, baku sapa dan baku tolong. Jika misalnya saat aku mau keluar menuju kampus, dan tiba-tiba aku berpapasan dengan teman Askarseba lain. Kita harus saling menyapa, dan saling mengenal. Jika tidak kita akan di cap sebagai ”Kapal Kayu”. Artinya ya seperti kapal kayu, yang tak bermesin dan tak besuara, sombong dan lain-lain.


Badansa and Sajojo mari badansa rame-rame


Inilah yang paling ditunggu oleh komunitas Askarseba. Yah pesta dansa..
Yang pasti acara ini tidak dimiliki oleh teman-teman lain yang tinggal di kost-kostan. Acara ini biasanya di gelar saat seusai Osmaru penerimaan penghuni baru, pas malam inagurasi. Atau pas acara habis Wisuda, Paskah, Natal atau ada yang Ulang tahun yang ingin dirayakan dengan lumayan meriah, atau kadang-kadang malah spontanitas begitu saja.


Asrama disini mungkin tidak seperti asrama-asrama di tempat lain, yang super ketat penjagaanya. Di Askarseba waktu jamanku dulu, ada peraturannya tetapi tidak seketat sekarang. Kami masih diberi kebebasan untuk membuat kegiatan-kegiatan diluar kegiatan akademik sebagai kegiatan refresing.


Seperti acara dansa hingga larut malam misalnya, meskipun hal ini curi-curi waktu yang diberikan oleh kepala Asrama. Kadang pula karena kenakalan kami, Kepala Arama sampai marah-marah karena mengabaikan peringatannya, meskipun dia sendiri sih memakluminya, karena ini adalah tradisi asrama.


Aku yang dahulu tidak tahu sama sekali apa itu dansa, sajojo, cha-cha dan poco-poco. Akhirnya karena teman-teman asrama sering menggelar acara ini, akupun ikut-ikutan belaja Merari itu. Padahal tubuhku sangat kaku dan terlihat lucu kalau mengikuti tarian-tarian itu.


Yang lebih menarik adalah ketika yang diputar lagu-lagu dansa. Mulanya aku hanya melihat saja dari salah satu sudut hall unit VI yang dijadikan acara pesta malam itu, sambil mengamati beberapa pasang senior dan teman-temanku yang turun melantai. Terang saja aku takut dan malu kalau mengajak atau menarik cewek untuk berdansa, soalnya aku sendiri tidak tahu dansa. Tapi beruntunglah bukan aku yang menarik cewek, tetapi cewek-ceweklah yang menarik aku untuk mengajak dansa. Kebalik memang.


Yah.. mereka teman-teman cewekku, dengan setia mengajariku berdansa. Salah satunya Hellen yang telah kusebut diatas tadi, dan beberapa teman senior dan yunior cewek yang lain.


Karena bantuan mereka, setiap kali ada acara dansa.. pas ada lagu dansa, maka mulailah aku memberanikan diri mengajak salah satu cewek yang kuangap menarik untuk kuajak dansa. Yihhuuiiii.... asyik.... nampak romantis banget dah...


Begitu pun ketika yang diputar adalah lagu Sajojo... pasti lantai langsung penuh. Mereka yang mulanya hanya duduk-duduk atau berdiri dipinggir saja, kalau lagu ini diputar langsung semua turun melantai....


Pokoknya untuk acara ini sangat berkesan sekali...

Hingga saat kita sudah keluar dari asrama, karena waktu itu ada kebijakan kampus yang menyatakan bahwa penghuni lama asrama harus keluar semua, tak ada yang terkecuali... karena penghuni lama dianggap telah banyak membuat kesalahan, dan pelanggaran. Akhirnya pimpinan Universitas mengeluarkan keputusan itu.


Dari Persahabatan sampai Pertunangan


Biarpun kami telah berpisah, karena harus mencari kost masing-masing tetapi ikatan kebersamaan komunitas asrama tidak putus. Baik cewek maupun cowok. Setiap ada acara seremonial tertentu seperti ulang tahun, perayaan paskah, Natal atau bahkan salah satu diantara kami ada yang wisuda. Kami pun bahu membahu membikin acara perayaan. Bila memungkinkan setelah acara ibadah, pasti ditutup dengan acara pesta dansa lagi. Yang penting tempatnya memungkinkan.


Ikatan emosional persahabatan dan persaudaraan pun terjalin sangat kuat diantara kami. Bahkan banyak diantaranya, karena sudah merasa dekat dan sudah saling mengenal. Antara penghuni Unit cowok dan unit cewek banyak yang saling jadian, bahkan setelah lulus banyak diantaranya yang langsung melanjutkan dijenjang pernikahan.


Yah... terkadang aku masih merindukan saat-saat indah ketika masih tinggal disana. Ketika kita berikrar untuk menjadi manusia yang creative minority for Agent of changes di tempat kerja maupun di lingkungan masyarakat dan bernegara.


Saat ini, sudah kurang lebih 5 tahun bahkan hampir 6 tahun saat-saat indah itu berlalu. Tetapi irama dan aura kebersamaan masih tetap aku rasakan. Meskipn satu persatu dari kami sudah berpencar berjuang untuk nasib ditempat perutusan masing-masing di pelosok Indonesia ini, tetapi kami masih saling contak.


Sahabat karibku, sebut saja Willy Corputy anak Ambon yang sekarang sudah menjadi Guru di salah satu sekolah di Makasar, begitu juga Elly Kudubun asli pulau Tual Maluku Tenggara, yang mulanya menjadi dosen di daerah asalnya sekarang kembali lagi ke Salatiga untuk menjadi pengajar di almamaternya. Apalagi si Ernice cewek bersuara emas asli Tobelo Ternate, yang saat ini menjadi aktifis kemanusiaan di Aceh, Gideon S. Manulang beserta Gilbert adiknya anak Batak, Tia dan Filla yang asli Sunda, Nitran yang asli Posso, Like cewek manis asli Minahasa tapi tinggal di Luwuk Sulteng. Dan masih banyak lagi sahabat-sahabat lain yang tak bisa ku sebut satu persatu, tetapi hingga saat ini masih saling kontak untuk mengabari keberadaan masing-masing.


Yah... inilah warna-warni di Askarseba, yang begitu berwarna, tetapi begitu menyatu dalam kebersamaan.

Asrama Blusse

Senin, 03 November 2008

Si Om Manado yang Sok Tau

Ini sapa pe Oom Kang..?

Kejadiannya di pesawat Garuda flight No. GA603 rute Manado- Makassar - Jakarta . Ada 1 penumpang... orang manado yg baru pertama kali naik pesawat, duduk di seat 20A (Klas economy) udah agak di belakang. Dia naik dari Manado dan tidak ada masalah. Pada saat transit di Makassar, dia turun dari pesawat melalui pintu depan sehingga melewati kompartmen kelas Bisnis, mungkin dia perhatikan perbedaan kelas bisnis dan ekonomi dari ukuran besarnya kursi. Nah pada saat boarding lagi dari Makassar , si Oom Manado naik ke pesawat, duduk di seat no.1F (Bisnis kelas paling depan lagi....).


Kemudian ada cabin crew nanya:

Cabin Crew : Selamat Sore Pak.
Om Manado : Selamat Sore Nona .....
Cabin Crew : Mohon Maaf pak, bisa lihat Boarding Passnya ??
Om Manado : Oh... kita nen tau apa itu koa. Ngana minta apa ??
Cabin Crew : Maaf pak, saya mau lihat potongan pass naik, berupa kertas mungkin ada di tiket yang bapak pegang.
Om Manado : Oh.. kalo teket ada nooo.... ngana mo lia ?? sabar ne ..
Oom Manado ambil tiketnya di kantong celana, kemudian diberikan ke Cabin crew.
Cabin Crew : Oh Maaf pak, tempat bapak bukan disini, tapi di belakang, tepatnya no 20A, di kelas ekonomi. Mohon maaf pak, mari saya antar ke tempat duduk bapak.
Oom Manado : Nimau !!!!!! kita mo dudu disini.... kita suka dudu disini!!!
Cabin Crew : Maaf pak.. tapi bapak bayarnya untuk klas ekonomi sementara yg disini buat yg bayar tiket Klas Bisnis.

Oom Manado : Itu ngana pe urusan.... bukan kita pe urusan noo.... yg kita tau... kita su bayar tiket.. kong kita mau dudu dimuka sini. Pigi sana ..... jauh2 jo ngana......! !!!!

Si cabin crew tetap dengan ramahnya menjelaskan ke oom Manado , tetapi si Oom tetap Ngeyel bin Ngotot gak mau pindah. Akhirnya karena penumpang sudah pada naik semua dan pintu pesawat akan ditutup namun si oom manado tetap gak mau pindah, maka melaporlah si cabin crew ke PIC (Pilot in Command). Si pilot yg kebetulan orang ambon (Fam-nya Tapillatu, klo tdk salah...).. trus keluar untuk ketemu dgn oom Manado .


Pilot : Oom... selamat sore om.... Apa kabar oom ??
Oom Manado: Selamat sore... (tapi tetap tidak tersenyum)
Pilot : Oom dapa lia gagah skali,,,,, mau berangkat ke mana Oom ??
Oom Manado: Jakarta . Ngana orang Menado ???
Pilot : Bukan Oom..... beta orang Ambon .... tapi Oom ... beta ada mau bilang .... kalo mau ke Jakarta musti dudu di belakang Oom.
Oom Manado: Oh ?? Begitu ka?? Kong dorang yg dudu dimuka ini mau pigi mana?
Pilot : ..Klo yang di muka sini Oom... itu mau bale ulang ke Menado.

Oom Manado cepat2..berdiri trus pindah tempat sambil ngomong ke Cabin Crew "Kiapa ngoni nda kase tau dari tadi, klo yg di muka mau bale ke Manado "?
Kita rugi no.. klo su beli teket dari Manado mau pigi jakarta ... maar dapa bale ulang ke Manado '.

------------------------
Diceritain oleh Salmon Tarigan

Rabu, 22 Oktober 2008

Seporno apakah RUU APP itu?

Saya sebenarnya masih tampak dingin menganggapi pro dan kontra masalah akan disah kannya RUU APP, yang kian memanas akhir-akhir ini. Jika saya baca, rancangan undang-undang ini memang ada beberapa poin yang saya setuju. Tetapi beberapa poin-poin dari pasal-pasal yang terkandung dalam RUU APP ini masih sangat rancu, meskipun saya bukanlah orang Hukum yang paham akan Undang-Undang. Katakanlah saya sama dengan anda sebagai orang awam lainnya, dalam menanggapi RUU APP ini.

Pengertian pornografi yang tertuang dalam Pasal 1 ayat 1 pada RUU APP ini berbunyi ”Pornografi adalah materi seksualitas yang dibuat oleh manusia dalam bentuk gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan suara, bunyi, gambar bergerak animasi, kartun, syair, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan komunikasi lain melalui berbagai bentuk media komuniknikasi dan / atau pertunjukan di muka umum, yang dapat membangkitkan hasrat seksual dan/atau melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat”

Jadi menurut saya, sesuatu yang dapat membangkitkan hasrat seksual adalah dapat dikatakan sebagai pornografi. Sedangkan tingkat orientasi seksual seseorang berbeda-beda. Sebagian besar memang bila melihat sesuatu yang sedikit terbuka dari tubuh wanita atau sebaliknya, sudah dapat menaikan hasrat seksualnya. Tetapi mungkin ada juga yang orientasi seksualnya jika melihat sesuatu yang tertutup, karena dengan tubuh wanita yang tertutup maka akan kelihatan lebih seksi, dan rasa penasaran akan membangkitkan hasrat seksualnya. Jadi seporno apakah pornografi itu?


Pornografi ibarat Hukum Ekonomi

Menurut saya, selama manusia masih punya hasrat hawa nafsu birahi, dan kebutuhan secara biologis. Masalah pornografi dan pornoaksi akan tetap terus ada dalam setiap kehidupan masyarakat. Sebab, ibarat hukum ekonomi, ”ada kebutuhan ada juga penawaran”. Imaginasi manusia dipengaruhi oleh banyak faktor, selain diisi dengan imaginasi oleh hal-hal positif, dimana manusia berimaginasi untuk bagaimana cara mendapatkan kebutuhan sehari-hari, dalam mendapatkan uang, makan, berinteraksi, mempunyai kehidupan rohani yang baik dan lain-lain. Tetapi disisi lain, manusia juga mempunyai kebutuhan biologis, dan ini adalah kebutuhan dasar yang dimiliki oleh manusia normal. Nah kebutuhan inilah yang seringkali menimbulkan imaginasi-imaginasi negatif, meskipun sebenarnya juga dapat dikatakan sebagai imaginasi positif, jika imaginasi itu mengarah pada hal yang bertanggung jawab (yang sudah menikah). Kenapa disebut sebagai imaginasi negatif atau sering disebut pikiran kotor, karena setiap manusia normal selalu punya orientasi seksual yang dimiliki dari usia anak-anak. Dari pikiran-pikiran kotor ini, timbul keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang dapat ”melengkapi” imaginasinya, dalam hal ini mencari dan mendapatkan hal-hal yang berbau porno.

Dengan adanya kebutuhan dan penawaran itu, maka maraklah sekarang beredar hal-hal berbau porno untuk memenuhi kebutuhan ”pikiran kotor” manusia. Sialnya, peredaran hal-hal berbau porno ini sudah sangat marak, dan susah sekali untuk dibendung. Anak dibawah umur pun, yang seharusnya belum boleh untuk menikmati meskipun sudah punya orientasi seksual, sudah sangat mudah untuk mendapatkan akses untuk melihat dan memiliki media atau hal-hal berbau pornografi. Jadi saya masih katakan wajar jika media pornografi itu harus dibendung peredarannya.


RUU APP ibarat proyek Politik

Masalah pornografi dan pornoaksi, sebenarnya saya sangat setuju jika hal ini dikendalikan. Tetapi, sebenarnya bukannya hal ini sudah diatur dalam undang-undang yang sudah berlaku. Kalau tidak salah dalam KUHP telah diatur mengenai Pornografi dan Pornoaksi. Tinggal bagaimana penegakannya dari pihak yang berwajib untuk mengoptimalkan peraturan tersebut, tanpa harus membuat undang-undang lagi yang sebenarnya sama, substansialnya.

Saya melihat dikeluarkannya peraturan ini, lebih banyak mengandung muatan politis untuk melancarkan kepentingan dari pihak-pihak tertentu. Dikawatirkan, kelompok-kelompok masyarakat tertentu akan menekan kelompok masyarakat yang lain, karena adanya undang-undang ini. Sebab, Indonesia ini sangat plural. Berbagai macam etnis dan budaya, agama dan adat istiadat yang berbeda hidup dalam satu ke Bhineka Tunggal Eka.

Mengutip dari Pasal 21 RUU APP disebutkan bahwa ”Masyarakat dapat berperan serta dalam melakukan pencegahan terhadap pembuatan, penyebarluasan dan penggunaan pornografi”. Yang saya khawatirkan muatan dalam pasal ini adalah, masyarakat seperti apakah yang nanti akan berperan serta. Saat ini saja, sudah ada yang mengaku sebagai bagian kelompok masyarakat yang sudah ”merasa” sangat berperan serta dalam menegakkan anti pornografi dan pornoaksi dengan cara mereka sendiri. Dengan membabi buta, merahasia dan menghancurkan serta kadang kala diselingi oleh tindak kekerasan dan penganiyayaan dengan dalih memberantas kemaksiatan. Bukankah ini seharusnya tugas Polisi.

Jika Undang-Undang ini benar-benar di sahkan, maka kemungkinan akan meleluasakan beberapa kelompok organisasi masyarakat ini, yang ideologinya sebenarnya bertentangan dengan Pancasila untuk melakukan penekanan kepada kaum minoritas dan kelompok-kelompok masyarakat yang lain. Yang dianggap bersebrangan dengan ideologi mereka.

Lagipula, ditengah kondisi bangsa yang carut marut dengan masalah kemiskinan dan pengangguran karena minimnya lapangan kerja, kenapa para wakil rakyat itu lebih suka mengurusi yang berbau porno. Bukankah lebih baik mengurusi kesejahteraan rakyat, mendorong investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia supaya lapangan kerja terbuka lebih luas. Mendorong dan memberi bantuan kepada petani dan nelayan, supaya pertanian dan perikanannya lebih maju. Memberi bantuan kepada pengusaha kecil supaya dapat mengembangkan usahanya, memperbaiki kualitas dan mutu pendidikan, dan menyediakan sekolah gratis atau murah bagi kaum miskin, memberantas korupsi dan tidak berkorupsi dan masih banyak lagi yang lebih berguna untuk dilakukan, daripada mengurusi porno.


RUU APP ibarat tak tau adat istiadat

Untuk beberapa adat istiadat, di beberapa daerah di Indonesia jika konteks RUU APP ini diterapkan, maka musnahlah beberapa tradisi kebudayaan tersebut. Misalnya, untuk di Bali, yang beberapa masyarakatnya atau pada beberapa acara adat masayarakatnya masih menggunakan kembe, kebudayaan Jawa pun juga masih ada yang menggunakan kembe, apalagi masyarakat di Papua dan Suku Anak Dalam. Maka dapat juga terkena sanksi atas pelanggaran membuka syahwat dimuka umum. Meskipun dalam RUU tersebut, ada pengkecualian pada budaya dan adat istiadatnya, tapi sejauh mana pelaksanaan itu dapat berjalan?. Ini masih sangat rancu. Okelah kita sebagai orang timur, memang mempunyai batas-batas tertentu yang tidak sevulgar orang barat. Tata cara pergaulan dan berpakaian orang Indonesia pun, masih sangat wajar dan belum keluar pada kaidah orang timur. Indonesia ini sangat plural dengan ragam budaya yang ada dan berkembang. Hal ini tidak bisa disamaratakan antara daerah yang satu dengan daerah yang lain.

Bila Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi ini diberlakukan untuk mengendalikan aksi peredaran hal-hal berbau porno, atau membatasi orang berbuat pornoaksi dimuka umum mungkin saya masih setuju. Tetapi jika sudah mengarah pada mengatur cara berbusana seseorang hal ini mungkin sudah lain ceritanya.

Disamping itu, beberapa pasal dalam RUU APP ini jika memang di tegakkan secara benar-benar di Indonesia, maka mungkin pemerintah harus membangun gedung Lembaga Pemaasyarakatan baru yang lebih besar tentunya. Sebab kalau untuk menegakkan UU APP, kemungkinan besar kapasitas LP-LP yang ada sekarang sudah tidak akan muat lagi kapasitasnya. Karena, setiap wanita berpakaian sedikit seksi yang biasa saya temui di mall-mall, dijalan-jalan, di tempat-tempat wisata, di tempat hiburan mungkin sudah ditangkap dan dijebloskan kepenjara. Atau mungkin para penari Jawa, penari Bali, wisatawan asing yang menikmati mandi matahari di pantai-pantai di Indonesia, atau masyarakat pedalaman Papua yang masih menggunakan koteka, dan yang wanita tidak mengenakan bra (telanjang dada), pasti juga sudah ditangkap dan di jebloskan kepenjara kalau tidak mau membayar denda antara Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta) sampai Rp. 7.500.000.000,- (tuju miliar lima ratus juta).

Kemanakah Peran Agama, Lembaga Pendidikan dan Orang Tua?

Disetiap agama apapun, namanya Pornogragfi dan Pornoaksi itu dilarang. Jika masih ada orang yang melakukan tindakan-tindakan yang berbau pornografi dan pornoaksi, maka perlu dipertanyakan bagaimana kehidupan kerohaniannya. Dan bagaimana peran pemuka agama dalam memberikan pembinaan kepada jemaatnya. Memang benar, urusan agama dan kerohanian merupakan urusan pribadi masing-masing orang. Tetapi setidaknya, penekanan untuk menegakkan hukum-hukum agama itu juga harus dilakukan untuk membendung pengaruh pornografi dan pornoaksi. Sebab melalui pembinaan kerohanian yang intensif yang dilakukan oleh masing-masing agama, baik itu Kristen, Katolik, Islam, Hindu, Budha, Konghucu dapat menumbuhkan akhlak dan moralitas yang baik.

Yang terjadi sekarang adalah, orang-orang yang mengaku ”beragama”, bahkan ”katanya” merupakan pemuka agama dengan mendirikan organisasi keagamaan yang radikal, malah tidak memberikan contoh yang baik kepada umatnya. Tindakan kekerasan, hujat menghujat, memprofokasi malah sering ditunjukan daripada memberikan dakwah yang menyejukkan.

Lembaga-lembaga keagamaan seharusnya mulai menjaring umat-umatnya yang terperosok dalam kesesatan, untuk segera dilakukan pendekatan secara personal sebagai upaya penyadaran dan pembinaan kerohanian. Tentunya dengan cara pendekatan yang penuh kasih, bukan dengan cara pemaksaan. Kalau hanya menghancurkan, dan mencebloskan mereka ke penjara karena ada Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi hal itu tidak menyelesaikan masalah, tetapi malah akan menambah masalah baru, dan belum tentu dapat mengubah kehidupan mereka lebih baik.

Peran dunia pendidikan juga sangat berpengaruh dalam memberikan pendidikan mental dan moral yang positif. Di dalam lembaga pendidikan inilah seharusnya penekanan dan pengawasan terhadap hal-hal berbau porno ini sudah dilakukan sejak dini. Sebab pada masa usia di bangku pendidikan, disiniah terjadi kerentangan terhadap keingin tahuan seseorang dengan sesuatu yang dianggapnya tabu. Terlebih lagi, pada masa ini pengaruh pergaulan dan sosialnya sangat mempengaruhi, sehingga perlu ada kegiatan-kegiatan yang positif sebagai tambahan yang dapat memberikan alternatif para siswa untuk memikirkan hal-hal yang positif.

Orang tua mempunyai peran yang sangat mendasar dalam mendidik anak-anaknya. Didalam lingkungan keluarga inilah karakter seseorang itu dibentuk sejak usia dini. Sikap mental dan moral dapat menjadi sangat baik dan sangat buruk, bisa terjadi dalam lingkungan keluarga. Jika dalam keluarga sudah ada kehangatan kasih sayang, ditanamkan nilai-nilai keagamaan yang mendalam, mengajarkan sikap sopan dan santun, memberi tahu mana yang baik dan yang buruk pada anak, tanpa harus membentak atau dengan kekerasan tetapi dengan lembut menasihati, sambil membelai dan mengajarkan anak tentang kasih. Pasti nantinya hal-hal yang berbau negatif dapat ditangkal dengan sendirinya. Orang tua juga mulai dini sudah harus memberikan pendidikan dan pengertian sex yang benar, supaya anak tidak mencari tahu sendiri.

Intinya adalah, lebih baik mengoptimalkan saja Undang-Undang yang sudah ada sekarang yang mengatur tentang pornografi dan pornoaksi, tanpa harus membuat undang-undang baru yang banyak makan biaya. Dan optimalkan peran agama sebagai pembina kerohanian dan akhlak yang baik, supaya rakyat tidak terjerumus dalam pengaruh pornografi dan pornoaksi. Dan yang terpenting adalah kesejahteraan rakyat yang merata. Jika kesejahteraan itu sudah dapat dirasakan bersama, dan para birokrat sudah tidak ada yang korupsi, niscaya bangsa ini akan menjauhi pornografi dan pornoaksi.

Bagaimana mau memberantas pornografi dan pornoaksi, lha wong wakil rakyatnya aja ada yang cari penghasilan tambahan sebagai pemain film bokep, nlingsepin uang rakyat sambil membawa PSK ke kamar hotel, mencabuli sekretaris pribadinya, korupsi dan lain-lain. Ck...ck... ck... ngaca dulu deh kalau mau ngesahin nih RUU APP.

Wassallam..

Rabu, 15 Oktober 2008

Urus SIM, Calo liar diusir, diganti "Calo berseragam".


Sebagai warga negara yang baik, tentunya wajib mentaati peraturan undang-undang yang berlaku. Terutama dalam hal ini adalah peraturan lalu lintas yang menunjukan setiap pengendara kendaraan bermotor wajib mempunyai SIM (Surat Izin Mengemudi). Karena saya sudah mahir mengendarai mobil, tanpa harus ikut kursus mengemudi di tempat pelatihan mengemudi, sehingga saya tidak mempunyai sertifikat mengemudi, serta belum punya SIM. Mengendarai mobil tanpa mempunyai SIM, tentu saja melanggar undang-undang. Maka saya pun berniat untuk mengurus SIM A sebagai syarat mengendarai kendaraan bermotor roda empat pribadi.


Setelah meminta surat keterangan domisili dari kantor Lurah setempat, maka saya segera menuju kantor Polres Minahasa Utara yang ”katanya” pengurusan SIM disana lebih murah, dibanding dengan di Manado.


Hari itu Rabu, 8 Oktober 2008, saya bersama teman yang juga akan mengurus perpanjangan SIM, dan saya SIM A baru, sama-sama berangkat ke Polres Minut. Tampak terpampang dengan jelas, informasi pengurusan SIM seperti bagan prosedure atau tahap-tahap yang harus dilewati dalam mengurus SIM yang di pasang di tembok ruangan depan loket pengurusan. Disitu juga di tempel dengan tulisan yang sangat jelas, sebuah informasi yang berisi ”Urus SIM jangan lewat calo, SIM baru : Rp. 75.000,- dan SIM perpanjangan : Rp. 60.000,-” yang ditempel di kaca loket pengurusan SIM.


Karena kami datang sudah agak siang, maka kami hanya sekedar tanya-tanya informasi tentang syarat-syarat dan biaya yang harus kami keluarkan dalam mengurus SIM tersebut, lagi pula saat itu kami belum membawa berkas-berkas seperti pas foto sebagai salah satu syarat yang harus disertakan. Kami pun bertanya pada salah satu petugas yang berjaga di dalam loket tersebut, dia katakan bahwa untuk SIM baru, biayanya Rp. 75.000,- lalu dia bertanya ”sudah ada sertifikat mengemudi ?”, saya jawab ”belum punya, karena saya tidak ikut kursus mengemudi, hanya belajar sendiri”. Lalu saya juga bertanya, bagaimana cara mengurus sertifikat, dan berapa biayanya. Petugas tersebut pun menjelaskan ”untuk memperoleh sertifikat, dapat langsung dibeli disini dengan biaya Rp. 150.000,-” baiklah kalau begitu, besok saya akan datang kembali untuk melengkapi berkas-berkas persyaratannya.


Besoknya, Kamis, 9 Oktober 2008. Saya dan teman kembali lagi untuk mengurus SIM tersebut, dengan membawa sejumlah uang yang sudah saya perkirakan cukup untuk proses pengurusan SIM itu. Setelah sampai didepan loket, saya dipersilahkan dulu untuk melakukan pengambilan sidik jari, dengan membayar Rp. 10.000,-. Setelah itu saya kembali lagi ke loket, tetapi petugas menyuruh langsung untuk melakukan tes kesehatan, dan membawa surat keterangan kesehatan. Tempat melakukan tes kesehatan, berada di ruangan tersendiri di samping loket utama. Ada satu petugas disitu, tetapi ternyata saya tidak di tes kesehatan, meskipun disitu saya melihat ada peralatan untuk mengetes tensi darah, timbangan badan, tes warna untuk mata dan lain-lain, tetapi ternyata tidak dipergunakan. Saya hanya ditanya, berapa tinggi badan, berat badan, dan tanggal lahir. Setelah ia ketik, tidak sampai 5 menit, saya pun diharuskan membayar Rp.30.000,- untuk selembar kertas tersebut.


Kemudian saya membawa surat keterangan kesehatan tersebut, ke loket utama, lalu seorang bapak salah satu petugas tersebut menanyakan kembali, ”bapak belum ada sertifikat mengemudi ya?” iya jawabku. ”begini pak, untuk sertifikat harganya Rp.200.000,-”. Saya pun lantas terperanjat dan kaget, lho kok sudah berubah harganya, katanya kemaren saya datang kesini harganya Rp.150.000,- sekarang kok sudah dua ratus, bantahku. ”emmm.... kata siapa pak” tanya petugas itu. ”kata bapak (saya lupa namanya), yang kemaren ada disini, dan ibu itu pun tahu saya kemaren datang kemari (sambil menunjuk ibu, salah satu petugas disana)” petugas tersebut pun lantas terdiam.


Saya melihat mimik muka petugas tersebut agak kecut, lantas mereka mulai main mata satu dengan yang lain untuk mengadakan konspirasi kepada saya. Berkas saya pun tidak segera diurusnya, dan mendahulukan yang datang dibelakang saya. Kemudian dia (petugas), keluar dari loket menemui saya di ruang tunggu. Kemudian berbicara, sambil berbisik, ”mmm.... tentang administrasinya bagaimana pak?” dia tanyakan kepadaku, lantas saya jawab ”lho khan belum to pak, 75 ribu to?” tegasku, sambil menunjuk informasi biaya SIM yang dipasang di depan kaca loket. ”ahh... bukan, 200 ribu kalau mau cepat !!”, saya kembali terperanjat, ”lho lantas yang dipasang itu apa!!” tanyaku agak keras. ”dia pun lantas kasih solusi, oo... baik lah, kalau gitu bapak ikut tes aja ya.., itu prosedurnya”, (sambil dia menunjuk papan bagan prosedur pengurusan SIM). ”Oke, saya khan mau ikut prosedur resmi, khan disitu nda boleh pake calo” jawabku.


Kemudian dia menyodorkan soal tes kepada saya, yang sesuai dengan golongan SIM yang akan saya urus. Setelah memberikan soal dan lembar jawaban, saya pun mulai mengisi soal-soal yang jumlahnya sekitar 30 soal. Isinya tentang pengetahuan rambu-rambu lalu-lintas, prioritas penggunaan jalan, juga beberapa soal tentang pengetahuan teknis kendaraan. Setelah selesai saya kerjakan, lembar soal dan lembar jawaban, kembali saya serahkan kepada petugas tersebut. Setelah dia ”pura-pura koreksi” dengan mencoret beberapa jawaban yang dianggap salah, lantas kembali dia memanggil saya. ”Wahh... hampir aja pak, hampir bapak lulus. Bapak hanya benar 17 soal, dan salah 13 soal. Sedangkan standar untuk lulus harus benar 18 soal” katanya. Dilihat dari mimik mukannya, dan sorot matanya, saya tahu dia membohongi saya. Saya tahu, saya dapat mengerjakan soal-soal tersebut, sebenarnya dari awal saya sudah bisa membaca niatnya supaya saya, mengurus dengan cara menembak saja. Tetapi tidak saya lakukan. Dengan kekecewaan, saya pun terdiam sedikit lesu.


Lantas dia berkata”bagaimana pak, berarti bapak harus ikut tes ulang lagi, tetapi dua minggu lagi sesuai dengan peraturan. Tetapi sebenarnya kami bisa membantu sih pak, kalau bapak mau butuh cepat”, katanya. Saya pun berpikir, kalau mau cepat, berarti harus dengan cara ”menembak” (menyogok petugtas tersebut), tetapi uang saya sangat ngepas. Lagipula saya pun tidak mau untuk menembak. Lalu saya pura-pura tanya, ”emang berapa pak, kalau saya mau butuh cepat”, dia jawab, ”besok saja pak, bapak kembali kesini, soalnya ini sudah siang” katanya. Tetapi saya desak dia supaya menyebutkan nominal yang akan saya keluarkan, dia pun lantas menyebutkan sebesar Rp. 400.000,-. Dalam hati saya berkata, ”gila, masak dari Rp.75.000,- biaya SIM dan Rp. 150.000,- untuk sertifikat berubah naik menjadi Rp.400.000,-, peraturan dari mana ini”, gerutuku. Belum lagi ditambah biaya surat keterangan kesehatan Rp. 30.000,- dan administrasi sidik jari Rp. 10.000,-. Pelayanan mudah apa semacam ini.


Dengan perasaaan jengkel dan kecewa saya pun pulang, memang benar disitu tidak ada lagi calo-calo liar yang berkeliaran, tetapi ternyata semua petugas polisi yang ada di bagian administrasi pengurusan SIM disana ternyata sudah kong-kalikong untuk menjadi calo berseragam. Kebetulan, saat saya mau keluar meninggalkan kantor Polres, saya bertemu secara singkat salah seorang kenalan Polisi, yang bertugas di bagian Samsat yang katanya juga sebagai ajudan Kapolres Minut. Tetapi saya tidak sempat ngobrol saat itu juga, karena kelihatannya dia buru-buru mengantarkan komendannya. Saya pun lantas mencari nomer Hpnya pada salah seorang teman, orang Toraja satu daerah dengannya. Setelah mendapat nomernya, lantas saya telephon dia. Saya katakan bahwa, semua berkas saya sudah masuk, bisakah saya dibantu, dia bilang ”waduh, kalau sudah masuk berkas saya tidak bisa bantu banyak” katanya. Trus saya ceritakan tentang kejengkelan saya, tidak lulus tes, padahal saya tahu banyak yang benar. Dia jawab ”wah... kalo ikut tes, jarang yang ada diluluskan, dan rata-rata nda ada pengurus SIM yang diluluskan dalam tes tertulis”. ”Ooo... begitu ya...ternyata kelakuan para petugas-petugas itu, ”gerutuku. Besoknya, saya tidak kembali lagi kesana, mungkin saya akan coba untuk ikut tes berikutnya, dengan mengumpulkan bukti-bukti, yang dapat dipertanggung jawabkan. Apakah saya masih diperlakukan hal yang sama, atau sudah menggunakan prosedure yang benar.


Ternyata tidak hanya di jalan raya, citra Polisi yang mulia itu dinodai oleh para oknum-oknum petugas korup, dengan menilang mencari-cari kesalahan para pengendara yang sebenarnya, tidak melanggar aturan. Dan kalau kena tilang, para oknum Polisi itu lebih suka dengan cara ”KUHP” (Keluar Uang Habis Perkara), atau sering disebut dengan istilah ”cara damai”, daripada memberikan surat tilang. Di urusan administrasi pengurusan surat izin mengendara pun, mereka tak kurang akal untuk mencari peluang menguras dompet, warga negara yang hendak mematuhi peraturan dengan mengurus SIM, dengan mengusir calo-calo liar, supaya para putugas tersebut dapat merangkap menjadi calo.


Saya tidak tahu, dengan Polres-Polres didaerah lain, tetapi itu yang saya rasakan ketika hendak mengurus SIM di Polres Minahasa Utara, sungguh sangat mengecewakan dan memalukan citra polisi, yang sebenarnya dari sistemnya sudah baik, tetapi pelaksana sistemnya yang bobrok. Semoga para atasan, dapat mengehahui hal ini, dengan apa yang dilakukan oleh para bawahannya. Atau hal ini memang dibiarkan untuk dilakukan, supaya ada bagi hasil antara bawahan dan atasan. Semoga saja tidak.

Minggu, 28 September 2008

"The Docktor" Kembali Rebut Juara Dunia Motor GP 2008


Valentino Rossi, seorang yang sangat fenomenal bagi saya, dan tentu saja bagi para penggemar lain. Tetapi saya bukan orang yang ikut-ikutan ngefans dengannya,  sama seperti teman-teman saya dan para pecinta balap motor GP lainnya. Sosok Valentino Rossi pemuda kelahiran Urbino, Italia 16 Februari 1979 ini sangat istimewa dan  banyak memberi inspirasi bagi saya. 
Dia bukan hanya dilahirkan dari lingkungan pembalap, karena  ayahnya Graziano Rossi yang merupakan pembalap besar Motor GP kelas 250 cc di era 70-an. Tetapi, jika saya amati dibandingkan dengan pembalap-pembalap lain di kelasnya, seperti musuh bebuyutannnya Cassy Stoner, Dany Peddrosa, dan lain-lain. Rossi punya keistimewaan, yaitu dengan mempunyai mental pemenang. "Sekali didepan, harus terus didepan" itulah Rossi menurut saya.


Aksinya diatas lintasan sirkuit, selalu memukau dan memberikan kepuasan bagi para penggemarnya. Ia adalah pembalap handal, yang sulit untuk dikalahkan setelah era Michael Doohan. Sejak kecil, saat anak-anak seusianya masih main dengan mainan motor-motoran, Rossi sudah bermain dengan motor sungguhan dan telah menjuarai berbagai kejuaraan balapan. Saat usianya baru menginjak 7 tahun atau pada tahun 1985, dia sudah menjuarai keuaraan Go-Kart pertamanya. Dan prestasinya semakin meningkat, seiring dengan pertumbuhannya dari balapan Go-Kart kelas 60 cc dan sering mendapatkan juara, lalu naik menjadi minimoto, dan pada tahun 1992 menjuarai Italian minibike Endurance. Pada tahun 1993 - 1997 dia selalu menguasai balapan pada kelas 125 cc, baik sebelum masuk Granprix, maupun setelah dia masuk Grandprix.
Pada tahun 1998 dia naik kelas menjadi 250 cc  dan menjadi runner up,  tetapi pada musim berikutnya, dia berhasi menjurai Grandprix 1999 pada kelas yang sama.

Di tahun 2000 hingga sekarang, dia selalu menjadi bintang sirkuit yang selalu mendominasi balapan di kelas bergengsi Motor GP 500 cc.  Mulanya ia mendukung pabrikan tim Repsol Honda, dengan mengendarai Honda RC211V yang pernah mengantarkan Doohan menjadi juara dunia berturut-turut dari tahun 1992 - 1998, dan juga dirinya (Roosi-red) pada tahun 2002-2003. Tetapi selanjutnya, ia memutuskan untuk hijrah ke pabrikan Yamaha, dan membuat pesimis banyak orang. Karena motor dari pabrikan Yamaha dipandang belum pernah atau jarang naik podiom di Motor GP. 
Perpindahan Rossi ke tim Yamaha tidak sendiri, dia membawa kepala mekaniknya Jerremy Burgess, yang dulu juga menjadi mekanik Michael Doohan di Honda. Mereka melakukan serangkaian tes membenahi teknologi motor Yamaha YZR M1 milik Rossi agar mampu menandingi motor terkuat di MotoGP saat itu, RC211V milik Honda.
Hasilnya, motor Yamaha setelah Rossi yang pegang selalu naik podium. Hal ini membawa keberuntungan bagi Yamaha, karena secara tidak langsung pabrikan motor ini menjadi lebih terkenal dan mendapat kepercayaan dari konsumen dunia. 


Setelah sempat terpuruk pada tahun 2007, karena ketidak cocokannya dengan masalah ban yang mendukungnya yaitu menggunakan ban Macceline, sehingga membuat dia tidak bisa memberikan penampilan terbaiknya. Hal itu memberikan kesempatan kepada Cassy Stoner untuk menjadi juara dunia Motor GP pada musim itu, dengan dukungan dengan motor Ducati  yang prima dan ban Brigiston, yang dianggap Rossi merupakan ban yang sempurna.
Bagi Rossi motornya mungkin tidak masalah, tetapi ban sangat berpengaruh. ketika masih menggunakan Macceline,  Rossi sering mengeluhkan pada pasangan ban yang kurang pas pada beberapa kondisi sirkuit dan cuaca, sehingga pada musim lalu dia sering mengalami celaka saat menggeber motornya mengejar motor Ducati milik Stoner.
Harus diakui, Stoner punya motor yang bagus, dan dia juga punya skill membalap yang bagus pula. Sehingga Rossi sangat berhati-hati dengan musuh beratnya ini. Untuk dapat menandingi Stoner, minimal dia harus menyamakan ban yang dipakai oleh Stoner, yaitu menggunakan Brigistone. Oleh sebab itulah, pada musim balap tahun ini (2008) dia ngotot untuk memakai ban ini. Padahal rekan satu timnya Jorge Lorenzo masih menggunakan ban keluaran Micceline.


Dukungan ban Brigistone dikencah Rossi pada musim ini, membawa dia kembali bangkit menunjukkan aksi terbaiknya. Saya sangat terpukau dengan penampilannya,  karena meskipun ia berada pada pole position di urutan bawah, tetapi dengan ketekunan dan kelihaiannya dia mampu mengejar lawan-lawannya yang tengah jauh melesat didepannya.
Saat di Motegi Jepang misalnya, race yang menentukan dia untuk meraih gelar juara dunia ke 8 kalinya. Pada saat start dia berada pada pole urutan ke empat, setelah Pedrosa. Dan saat lampu start menyala dia sempat tertinggal di urutan ke lima dibelakang Hayden. Tetapi kondisi itu tidak berlangsung lama, Lorenzo rekan setimnya yang pole diurutan pertama, malah tertinggal diurutan ke tiga, sedangkan posisi pertama dan kedua ditempati Stoner dan Pedrosa. 
Balapan berjalan sangat dramatis, satu-persatu Rossi melewati lawan-lawannya. Setelah mendahului Hayden, Rossi lantas mengejar Lorenzo, dan berhasi mendahului. Saat itu Stoner dan Pedrosa saling menyalib, dan selalu berganti posisi. Mungkin mereka tidak menyadari, kalau ternyata Rossi sudah berada dibelakang mereka, pada lap ke 10 akhirnya Rossi bisa melampoui Pedrosa, dan sekarang tinggal Stoner yang ada didepannya.
Pertarungan antara Stoner dan Rossi ini pun berlangsung cukup lama.  Rupanya Rossi tidak mau buru-buru untuk ngotot menggeber motornya supaya cepat mengejar Stoner. Dia cukup sabar dan hati-hati, terus memepet berada dibelakang Stoner sambil mencari celah yang pas untuk mendahuluinya.
Motor Ducati milik Stoner memang sangat cepat untuk di geber di trek lurus, dan selalu meninggalkan jarak yang lumayan signivikan dengan motor Yamaha Rossi, tetapi Rossi punya skill yang jitu di tikungan yang tidak dimiliki oleh pembalap-pembalap lain.  Pada lap 13 Rossi berhasil mendahului Stoner, yang diawal lomba telah mendominasi perlombaan. Tetapi Stoner tidak mau mengalah begitu saja, dia terus mengejar dan memberi tekanan kepada Rossi, tetapi pada lap-lap terakhir Rossi mampu meninggalkan Stoner, yang akhirnya dapat merebut kembali gelar juaranya yang ke delapan. 


Nomer 46 bagi Rossi
46 selalu identik dengan Rossi, nomer ini telah dipakainya sejak ia mengawali karir di dunia balap. Latar belakang ia memakai nomer ini adalah karena ia sangat ngefans dengan pembalap Jepang bernama Noric Abe yang juga menggunakan nomer 46. Tetapi tidak karena alasan itu saja ia memakai nomer 46, ayahnya Graziano Rossi saat menjadi pembalap pada massanya juga menggunakan nomer 46. Sehingga nomer ini sangat istimewa bagi dia, meskipun sebenarnya, saat ia menjuarai kejuaraan ia  mempunyai kesempatan untuk mengganti nomer menjadi nomer satu (1), seperti dilakukan oleh pembalap-pembalap lain. Tetapi bagi Rossi nomer 46 adalah nomer yang sakral, yang mungkin menurutnya selalu membawa keberuntungan. Sehingga ia tidak akan mau mengganti dengan nomer yang lain.


Ia tidak mau dijuluki sebagai Super Herro di sirkuit, tetapi ia memilih menjadi "The Doctor" yang punya banyak ide seperti seorang ilmuwan gila dengan melakukan banyak ekperimen edan. Sebab baginya,"membalap itu dibutuhkan keseriusan, ketenangan, kalem dan pemikir seperti seorang dokter" katanya. Motor yang cepat, nyali yang besar belumlah cukup bagi Rossi, kejeniusan seperti Doctor itulah yang ia butuhkan untuk menjadi yang tercepat dalam Motor GP.

Senin, 08 September 2008

Minggu, 24 Agustus 2008

Selat Lembe dalam Foto

Berikut adalah cerita dalam foto yang ku ambil saat berada di sekitar pelabuhan Samudra Bitung, dan ketika menyebrang di selat Lembe saat mengunjungi tugu Trikora di Pulau Lembe Bitung.

Kapal Penyambut Tamu

Dua kapal Tunda sedang melaju, menghampiri sebuah kapal tanker yang akan merapat untuk berlabuh.

Tanker dan Pembantunya

Kapal Tunda tersebut lantas, mendorong kapal Tanker bermuatan minyak untuk merapat di pelabuhan Samudra Bitung untuk membongkar muatannya.


Sinabung Berlayar

Sebuah Kapal milik PT. PELNI (KM. Sinabung) saat meninggalkan pelabuhan Bitung untuk berlayar menghantarkan para penumbang mengarungi perairan nusantara.


Berlabuh Ku

Sebuah kapal barang, dan tampak kapal-kapal lain dibelakangnya yang berlabuh di tengah-tengah selat Lembe yang tenang dari gelombang laut. Sambil mengantri untuk dapat merapat membongkar muatan di Pelabuhan Barang.


Tugu Trikora Nasibmu Kini


Tugu Trikora merupakan monumen peringatan Perjuangan Pembebasan Irian Barat yang dibangun di Pulau Lembe. Sayang sekali, monumen tersebut tidak terawat dengan baik. Padahal tempat tersebut sangat berpotensi untuk tempat tujuan wisata.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...