Minggu, 28 Februari 2010

Para Tan Sin yang selalu menjadi idola dalam setiap Prosesi Ritual Goan Siau atau Cap Go Meh, di Sulut


Kebulan asap dupa yang wanginya menusuk hidung memenuhi ruangan Klenteng Seng Bo Kiong Bitung, meski pengap dengan asap yang baunya menesakkan nafas, namun itulah yang menjadi syarat utama umat Tridharma dalam melakukan ritual sembahyangnya kepada Sang Pencipta. Saat ini mereka merayakan Cap Go Meh, yaitu sebuah prosesi ritual untuk meminta keselamatan dan rejeki setelah 15 hari perayaan Imlek. Prosesi ini juga disebut sebagai prosesi Goan Siau, yang selalu menjadi daya tarik oleh semua lapisan masyarakat, khususnya di Sulawesi Utara untuk menyaksikan ritual tersebut pada 28/02/2010 di Kota Bitung.

Katanya, sebelum prosesi ini dilakukan, sebelumnya mereka meminta izin kepada dewa-dewa yang mereka sembah, apakah mereka boleh mekalukan ritual iring-iringan Tan Sin atau tidak, jika diizinkan oleh dewanya, mereka akan melakukannya. Namun jika tidak, mereka tidak akan membuat pawai tersebut. Berikut adalah snapshot prosesi perayaan Goan Siau di Kota Bitung.


Beberapa sesaji, sebagai persiapan ritual, yang diletakkan di depan pintu masuk klenten Seng Bo Kiong.

Ruangan dalam klenteng, yang pengap oleh asap-asap dupa.


Atraksi BarongSai, membuka prosesi ritual.


Tiga orang umat Tridharma, meminta restu kepada para dewa.


Kertas-kertas doa, sehabis digunakan untuk berdoa, lalu dibakar di tungku pembakaran.



Musik bambu dan tarian Cakalele, turut memeriahkan acara tersebut.


Gubernur Sulut, Drs. S.H. Sarundajang disambut oleh tarian kabesaran Cakalele, sebelum memasuki Klenteng Seng Bo Kiong.


Atraksi Barongsai kembali menghibur para tamu kehormatan.


Tampak Gubernur Sulut, S.H. Sarundajang bersama Walikota Bitung Hanny Sondakh, melepas pawai prosesi Goan Siau yang diikuti oleh BKSAUA (Badan Kerukunan dan Kesatuan Antar Umat Agama)yang terdiri dari Kristen Protestan, Katolik, Islam, Hindu, Budha dan Kong Hu Cu; seni kebudayaan Minahasa, tarian cakalele dan musik bambu, beragam kereta-kereta hias, barisan petugas sembahyah dan barisan usung-usungan tandu.



Beberapa kereta hias, namun sayang pengambilan gambar tidak mendapatkan angel yang bagus karena banyaknya penonton yang memadati areal di sekitar tempat pawai.


Tandu-tandu yang dianggap suci, yang mereka gotong keluar klenteng berisi patung dewa-dewa umat Tridharma.



Inilah para Tan Sin yang telah dirasuki oleh dewa-dewa, yang siap melakukan ritual Goan Siau. Mereka akan menaiki tandu-tandu yang digotong, sesuai dengan tandu yang membawa patung dewa yang merasukinya.


Salah satu Tan Sin menaiki tandu dengan membawa sebilah pedang yang sangat tajam, selama iring-iringan ia akan memotong-motoh bagian-bagian tubuhnya seperti tangan, leher, perut bahkan lidah, namun tak terluka sedikit pun.


Demikian juga dengan Tan Sin yang satu, ia akan menusuk-nusukkan jarum atau kawat dari pipi kanan sampai menembus pipi kiri, namun tidak merasa kesakitan.


Keluarnya para Tan Sin di kota Bitung ini sudah terlalu sore, yaitu pada pukul 17.00. Namun penonton yang menunggu para Tan Sin ini keluar sudah berkerumun sejak pukul 11.00 siang. Sayang sekali saya tidak mendapatkan gambar yang bagus, ketika mereka menusuk-nusukkan jarum atau benda-benda tajam dibagian-bagian tubuhnya, hal ini karena membludaknya penonton, dan karena waktu yang terlalu sore.


Iring-iringan terakhir, sebagai penutup pawai adalah barisan ular naga, yang dibawakan oleh warga lokal bitung.





Jumat, 26 Februari 2010

Menapak Ke Gunung Mahawu - Tomohon

Gunung Mahawu adalah gunung berapi stratovolcano yang terletak di timur gunung berapi Gunung Lokon-Gunung Empung di Sulawesi Utara, Indonesia. Gunung Mahawu memiliki lebar 180 m dan kedalaman kawah 140 m dengan dua kerucut Piroklastik di lereng utara. Letusan kecil terjadi di tahun 1789. Tahun 1994 terjadi letupan lumpur fumarol dan aktivitas geyser yang terjadi sepanjang danau kawah yang berwarna kehijau-hijauan. (sumber : Wikipedia)

Beberapa bulan lalu, tepatnya pada 20 Juli 2009, saya bersama sahabat saya "Obet" mengisi liburan weekend kami dengan menapaki gunung ini. Dari kota Manado, kami menggunakan sepeda motor, saat itu cuaca cerah sekali. Untuk menuju Gunung ini, jalan masuknya ternyata tak jauh dari terminal Kota Tomohon, naik keatas melewati areal pertanian penduduk dengan pemandangan alam yang begitu indah.

Gunung ini memiliki ketinggian 1300 m diatas permukaan laut, namun jangan bayangkan jika mau mendaki gunung ini seperti mendaki gunung-gunung lain yang medannya sulit untuk dijangkau, dan perlu persiapan yang matang. Akses jalan menuju lereng terdekat dengan puncak, sudah dibangun dengan kualitas jalan beraspal. Waktu kami pergi kesana, jalan tersebut baru saja dibuat untuk diaspal, seperti pada foto diatas. Sehingga kami terpaksa jalan kaki lumayan jauh, dan meninggalkan kendaraan kami di pinggir jalan, karena kami tidak berani membawa motor kami meliwati batu-batu tajam yang belum diratakan dengan welles tersebut.


Dari tempat parkir, atau ujung jalan diatas untuk menuju puncaknya sudah tidak terlalu jauh lagi. Mungkin hanya sekitar 300 m saja jalan kaki, dengan sedikit mendaki melewati rumput-rumput tinggi. Begitupun hingga sampai diatas, rumput-rumput tinggi itu hampir mengelilingi kawah gunung, dengan celah-celah jalan setapak didantaranya.


Sesampai diatas, kita dapat langsung melihat kawah yang besar namun sudah tidak aktif lagi. Tampak beberapa jejak atau bekas orang yang nampaknya sering turun kebawah kawah. Mereka meninggalkan tanda-tanda seperti tulisan yang mereka goreskan diantara kawah tersebut.


Ternyata tanpa sengaja, setelah sampai di puncak diantara rimbunya rumput-rumput tinggi, saya melihat sebuah tenda dengan banyak orang didalamnya. Ternyata salah satu diantara mereka adalah teman satu kantor saya si "Allan" yang saat itu sedang kemping bersama teman-temannya. Kebetulannya lagi, saat itu mereka sedang masak untuk makan siang, dengan bekal dan peralatan masak lengkap yang mereka bawa dari rumah sejak dua hari yang lalu katanya. Kebetulan sekali, karena waktu itu kami hanya berbekal satu botol air meneral saja, tanpa membawa makanan apapun. Namun sayang, masakan belum matang, kami sudah diguyur hujan dengan lebatnya. Akhirnya kami tetap melanjutkan masak, meskipun masakan kami juga ketambahan kuah dari langit.

Inilah mereka saat berpose sebelum turun Gunung bersama-sama kami.



Kamis, 25 Februari 2010

Museum KARS Dunia, Ternyata ada di Wonogiri

Kota Wonogiri ternyata menyimpan sebuah potensi keindahan alam yang selama ini tidak pernah aku sadari. Awal tahun lalu, aku melakukan traveling menggunakan sepeda motor menuju Kecamatan Pracimantoro, sekitar 41 Km dari pusat Kota Wonogiri. Di kota kecil ini saya mendapat informasi bahwa di sini ada sebuah museum Kars Dunia. Awalnya aku tidak mengerti, apa itu "Kars". Rasa penasaran ini lah yang menuntunku untuk menemukan tempat itu.



KARS merupakan istilah bahasa Jerman yang diadopsi dari bahasa Slovenia yang berarti lahan gersang berbatu. Pada khasanah pustaka saat ini, kars ditakrifkan sebagai bentangalam yang terbentuk akibat pelarutan batuan (umumnya batugamping, dan atau dolomite) oleh air. Selain itu, pembentukan kars dipengaruhi oleh faktor struktur geologi, relief, iklim dan waktu (Blair, 1986, dalam Srijono, 2000). Lalu kenapa harus dibuat museum untuk Kars semegah ini di kota kecil ini? menurut informasi yang saya peroleh, latar belakan didirikannya Museum Kars Indonesia ini adalah didasari oleh kenyataan bahwa bentang alam kars tersebar hampir di semua pulau di Indonesia. Di dalam bentang alam kars terdapat artefak kehidupan masa lampau dengan sosio-budaya yang khas sesuai dengan ekosistem Kawasan kars. Selain itu juga disadari bahwa kawasan kars merupakan fenomena alam yang memiliki keaneka-ragaman hayati dan nir hayati. Selama ini belum ada media informasi yang memadai tentang kars untuk Masyarakat. (Sumber : web KESOM). Museum ini ternyata baru saja di bangun dan baru diresmikan oleh Presiden SBY pada 30 Juni 2009, seperti yang tercantum dalam prasasti yang terpasang di depan museum ini.


Daerah Wonogiri, khususnya Wonogiri bagian Selatan seperti Pracimantoro memang merupakan daerah yang tandus dan alamnya di penuhi oleh batu-batu kapur. Museum Kars ini letaknya sekitar 2 Km dari pusat kota Pracimantoro. Didalam museum, kita akan disuguhi tentang berbagai gambar, deorama film dan informasi tentang Kars dari seluruh dunia. Berbagai foto tentang isi dalam perut bumi dalam goa-goa, batu-batu stalagmit, dan berbagai macam bentuk satwa yang mendiami isi dalam goa-goa tersebut. Sebelum memasuki museum, kita akan melihat sebuah goa. Goa ini didanamakan sebagai Goa Tembus, karena goa ini menembus sebuah bukit, dan disebelah ujung tembusannya, kita langsung dapat melihat museum ini berdiri dengan megahnya. Selain Goa Tembus, di sekitar museum Kars ini juga di kelilingi oleh goa-goa alam lain diantaranya adalah gua Merica, gua Sodong, gua Gilap, gua Bunder, gua Potro, dan gua Sonya ruri.



Isi dalam museum ini, diceritakan pula dalam sebuah deorama, bagaimana manusia purba hidup dan berlindung di dalam goa serta menggunakan peralatan dari batu-batu alam, disisi lain di ceritakan pula ekspedisi penjelajahan goa-goa terdalam di seluruh dunia. Fasilitas dalam museum tersebut sebenarnya cukup lengkap, dilengkapi dengan teknologi audio visual yang cukup canggih untuk menceritakan dan menggambarkan tentang Kars tersebut, sehingga dapat lebih mudah untuk dipahami.



Berikut adalah foto-foto yang sempat saya ambil ketika berkunjung ke Museum Kars ini pada (01/01/'10) lalu.









Menyempatkan diri berpose didepan pintu masuk Goa Tembus.



Rabu, 24 Februari 2010

Menyulam Kembali, Hutan Mangrove yang tlah Kritis


Senja itu, sang Surya telah kembali ke singgasananya dengan keanggunannya dan aku mengintipnya di antara celah-celah pohon bakau yang tak rimbun lagi. Dahan demi dahan telah banyak yang patah, bahkan pohon yang lainnya hanya tinggal batang tanpa daun, dan di sebelahnya lagi bahkan hanya tinggal cerita "bahwa di sini dulunya adalah bekas hutan mangrove, namun sekarang...lihatlah pantai itu terbuka menyisakan seribu duka. Sedikit mengundang tanda tanya dalam diriku, lalu kemana hutan itu sekarang?
 

Keesokan harinya, aku kembali kepantai itu lagi. Tak jauh dari sana ku lihat bahwa kondisi hutan mangrove itu sudah tak dapat di katakan hutan lagi, karena hanya ada beberapa pohon saja yang menghiasi.

Tak banyak yang menyadari memang mengenai manfaat dan fungsi dari hutan mangrove bagi lingkungan kita. Pohon-pohon bakau itu rusak karena ketidak tahuan masyarakat kita, yang memanfaatkan kayu bakau untuk di jadikan kayu bakar dan keperluan-keperluan lain. Disisi lain, akibat kerusakan hutan bakau, maka akan mengakibatkan abrasi pantai dan berkurangnya sumber daya alam yang dapat bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Karena manfaat dari hutan mangrove adalah, selain melindungi pantai dari abrasi dan tsunami,  pohon bakau juga berfungsi sebagai tempat bertelur dan berkembang biaknya ekosistem pantai seperti ikan, kepiting dan udang, dan tentu saja keberadaan hutan bakau turut menjaga dan melindungi bumi ini dari global warming.



 Kini mungkin saatnya bagi kita untuk kembali memperhatikan lingkungan kita. Melalui sebuah tindakan nyata dengan melakukan penanaman kembali pohon-pohon bakau di lokasi-lokasi yang telah kritis, untuk generasi saat ini dan generasi yang akan datang.

Foto-foto ini adalah sebuah hasil upaya kami dalam memberi penyadaran dan pemberdayaan masyarakat di wilayah pesisir di sekitar Pantai Dusun Bahowo, Desa Darunu dan di Pantai Molas Manado.

 
















Semoga mereka tetap terus menjaga kelesatarian hutan mangrove, untuk bumi yang lebih baik.



Sabtu, 20 Februari 2010

Ketika Air Menjadi Listrik

Kita tahu bersama bahwa air dapat dirubah untuk dijadikan listrik, tentu saja yang dimanfaatkan adalah tenaga air yang mengalir untuk mendorong supaya turbin dapat berputar, lalu dari tenaga putar statis yang dihubungkan dengan generator listrik itu listrik dihasilkan. Berikut perjalanan air itu, sampai kerumah anda untuk menyalakan lampu.


Bermula dari sungai ini. Ini adalah Sungai yang ada di desa Buata di perbatasan antara Provinsi Sulut dengan Provinsi Gorontalo. Dari sungai ini, mungkin juga sungai-sungai lain di Suluruh Indonesia yang sudah dimanfaatkan untuk menjadi listrik tenaga air.

Sungai tersebut kemudian di bendung, di belakang saya foto ini adalah sebuah bendungan yang belum lama di bangun di desa Buata.


Ini tampak sungai yang di bendung, untuk ditinggikan airnya.

Lalu dibuat saluran tersendiri untuk dialirkan menuju turbin.


ini adalah saluran dari bendungan utama menuju rumah turbin.


Ini adalah rumah turbin, tampak di belakang ada sebuah pipa biru besar yang berasal dari saluran dari bendungan diatas. Air itu di jatuhkan ke bawah melalui pipa tersebut dengan ketinggian sekitar 200 m untuk memutar turbin.


Ini adalah turbin yang berada di dalam bangunan diatas, air yang disalurkan dari atas tadi di tangkap oleh turbin ini. Dari turbin ini lah, tenaga air dirubah menjadi listrik.


Kemudian listrik di olah melalui gardu-gardu penyetabil dan kemudian di salurkan.


Ini adalah proses dimana, listrik yang telah dihasilkan dari turbin tadi disalurkan melalui tiang-tiang atau menara sutet ke rumah-rumah.


Dari situlah kita dapat menikmati listrik untuk segala kebutuhan kita, seperti untuk penerangan, menghidupkan tv, komputer dll.

Sebenarnya masih banyak sumber-sumber energi lain yang bisa dimanfaatkan untuk diubah menjadi listrik, dan di Indonesia memiliki sumber-sumber itu, namun belum dimanfaatkan secara maksimal. Sehingga sampai saat ini, beberapa daerah di Indonesia masih kekurangan pasokan listrik, dan jangan heran bila listrik masih sering mati di daerah anda.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...