Tampilkan postingan dengan label Jelajah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jelajah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Januari 2012

Mitos Air Terjun Gerojokan Sewu Tawang Manggu Itu, Ternyata Benar-Benar Terjadi.

Tawang Mangu adalah sebuah kota kecil terletak di bawah lereng Gunung Lawu,  yang merupakan salah satu dari gunung tertinggi di Indonesia. Kota ini merupakan andalan dari kabupaten Karanganyar Jawa Tengah sebagai salah satu tempat tujuan wisata yang paling  banyak dikunjungi oleh wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Karena potensi keindahan alamnya dengan suasana alam pegunungan yang indah dan berudara sejuk,  serta di sini juga terdapat beberapa situs-situs wisata alam yang tak dimiliki oleh kota-kota lain di Indonesia.

Untuk mencapai kota ini cukuplah mudah, dari terminal bus Tirtonadi Solo hanya diperlukan waktu sekitar 3 jam dengan ongkos sekitar Rp. 7000,-/ orang sampai di terminal bus Tawang Mangu. Dari terminal bus Tawang Mangu bila ingin berkeliling kota, ada angkuta umum atau bisa juga dengan menunggangi kuda, karena di kawasan Tawang Mangu banyak sekali penduduk lokal yang menyewakan kudanya untuk berkeliling kota.

Salah satu icon yang paling menarik dan yang paling menjadi alasan orang-orang dari berbagai daerah untuk mengunjungi kota ini adalah,  adanya sebuah tempat wisata alam berupa  air terjun yang diberi nama “Gerojokan Sewu”. Dalam bahasa jawa kata “Gerojokan” artinya adalah air terjun atau water fall jika dalam bahasa inggris. Sedangkan kata “Sewu” berarti seribu.  Namun secara harafiahnya, Gerojokan Sewu disini bukan berarti Air terjun ini jumlahnya ada seribu buah, mungkin hanya menghiperbolakan saja akan ketinggian dari air terjun ini  yang diperkirakan ketinggiannya sekitar 80 m yang merupakan air terjun tertinggi di Jawa Tengah. Sedang untuk mencapainya kita harus menuruni sekitar 1000 an anak tangga, sehingga “mungkin” dengan alasan itulah, air terjun ini diberi nama gerojokan sewu.

Selama menuruni anak tangga untuk menuju air terjunnya, kita akan disambut dan ditemani oleh ratusan monyet ekor panjang yang merupakan penghuni tetap tempat ini.  Itulah sebabnya disarankan, jika ingin berkunjung kesana untuk membawa makanan ringan untuk dibagikan kepada monyet-monyet tersebut. Mereka memang tampak kelihatan jinak, mungkin karena sudah terbiasa dengan para pengunjung, dan tak segan-segan mereka mendekati pengunjung untuk meminta makanan yang dibawanya. Namun harus berhati-hati pula jika menaruh tas atau barang-barang yang menarik perhatian, karena mereka bisa saja mengambil untuk dibawa naik diatas pohon dan tidak mau mengembalikannya.

Sesampai ditempat air terjunnya, kita akan disuguhkan oleh pemandangan yang sungguh sangat luar biasa. Kucuran air yang jatuh dari ketinggian sekitar 80 m lebih itu membuat suara gemuruh, dengan percikan air yang membentuk kabut tipis, dan dengan bantuan pantulan sinar matahari, maka akan terbentuk sebuah pelangi yang indah dengan latar belakang hutan pinus yang lebat. Diantara terjal dan licinnya batu-batu besar yang ada didekat lokasi jatuhnya air terjun, banyak sekali pengunjung yang sengaja membasahkan diri untuk merasakan jernih dan dinginnya air dari kucuran grojokan sewu tersebut.

Tak jauh dari lokasi jatuhnya air terjun, terdapat sebuah jembatan yang menghubungkan sisi kanan dan sisi kiri dari komplek lokasi wisata air terjun Gerojogan Sewu yang dipisahkan oleh aliran sungai kecil dari air terjun tersebut. Jika pengunjung ingin ke sebrang, maka harus melewati jembatan kecil ini.   Namun dibalik eksotiknya tempat ini, tersimpan sebuah mitos atau misteri yang  sangat ditakutkan khususnya bagi para pasangan kekasih yang sedang menjalin hubungan cinta, atau sedang berpacaran.  Mitos ini sebenarnya sudah sangat terkenal di tanah jawa, bagi yang percaya mungkin akan menghindar untuk menjadikan tempat ini sebagai tempat berpacaran. Namun bagi yang tidak percaya akan mitos ini, banyak pula pasangan kekasih yang menjadikan tempat ini sebagai lokasi menjalin kasih bagi mereka.

Mitos dari Gerojokan Sewu ini adalah “apabila sepasang kekasih datang ketempat ini untuk berpacaran lalu menyebrang melalui jembatan tersebut,  maka hubungannya tidak akan lama atau mungkin akan putus dan tidak akan sampai di pelaminan”.

Saya mungkin salah satu orang yang tidak percaya akan mitos tersebut, pada 1 Oktober 2006, saya mengajak pacar (lebih tepatnya mantan karena sekarang sudah menjadi istri orang lain hehehe..) untuk datang ketempat ini. Namun kami tidak datang sendiri, saya mengajak pula teman-teman yang satu rumah kontrakan dengan saya di Salatiga untuk pergi rekreasi bersama ke lokasi ini, dengan menyewa sebuah mobil Avanza. Kebetulan memang tujuan kami kesana adalah untuk menyenangkan pacar saya yang pada waktu itu, adalah merupakan hari-hari terakhirnya di jawa karena dia telah menyelesaikan masa studinya di salah satu Perguruan Tinggi ternama di Kota Salatiga dan akan kembali ke tempat asalnya di Sulawesi Tengah. Saya tidak hanya satu kali itu saja mengunjungi tempat ini, sebelum-sebelumnya saya sering berekreasi ke tempat ini bersama keluarga maupun teman-teman karang taruna di tempat asal  saya.

Selama satu hari full, kami menghabiskan waktu ditempat ini, bercanda bersama, main air sampai basah kuyup, dan bahkan berfoto diatas jembatan keramat bersama monyet-monyet lucu yang selalu mengikuti kami dengan latar belakang air terjun itu sendiri. Selain di Gerojokan Sewu, kami juga mengunjungi tempat-tempat lain yang ada disekitar Kota Tawang Mangu, termasuk di Danau Sarangan, yaitu danau buatan jaman Belanda yang ada di Kab. Magetan Jawa Timur  dan dapat ditempuh sekitar 30 menit dari pusat kota Tawang Mangu.  Karena sebenarnya Tawang Mangu merupakan kota perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Sepulang dari sana, satu minggu kemudian Pacar (mantan) saya harus berangkat pulang menuju daerah asalnya di Sulawesi Tengah dengan menggunakan kapal laut. Saya dengan sedih terpaksa mengantarkan kepergiannya di pelabuhan Tanjung Mas Semarang bersama teman-temannya. Tetesan air mata tak kuasa kami bendung, pelukan perpisahan seakan tak ingin kami lepaskan. Padahal pada waktu itu, hubungan kami sudah berjalan sekitar satu tahun lebih. Namun apa boleh buat, saya juga tak kuasa untuk menahanya tinggal lebih lama, karena ia harus menemani ibunya yang seorang diri disana. Meski saat itu kami telah dipisahkan oleh jarak yang begitu jauh, namun hubungan kami  masih terus berjalan normal, meski hanya suaranya saja yang dapat kudengar via hp buntutku, namun setidaknya itu sudah bisa sedikit mengobati rasa rindu kami berdua, dan kami berusaha untuk mematahkan mitos dari gerojokan sewu tersebut.

Tak menutup kemungkinan pula, jika keraguan dan kebosanan menjadi cobaan dan godaan yang terus menghantui hubungan kami, karena apakah kami masih bisa dipertemukan kembali atau tidak, karena pengaruh jarak ini. Itulah pertanyaan yang kerap kali muncul dalam benak kami. Namun tak disangka setelah hampir satu tahun kemudian, saya diterima bekerja di salah satu NGO di Manado Sulawesi Utara yang notabene merupakan daerah asal keluarga besarnya. Harapan baru pun kembali menyemangati hubungan kami, untuk perlahan-lahan membunuh keraguan yang ada. Itu berarti saya ada harapan untuk dapat bertemu dengannya lagi, dan itu benar-benar terbukti. Satu bulan saya di Manado, saya akhirnya bisa melepas rindu yang lama terpendam dengannya. Waktu itu ia telah berprofesi sebagai guru honorer dengan mengajar di tiga sekolah sekaligus, sehingga waktu liburan sekolah, ia bisa pergi mengunjungi keluarga besarnya di sebuah desa kecil penghasil buah salaknya yang manis dari salah satu Kabupaten yang ada di Provinsi Sulawesi Utara. Kesempatan seperti itulah yang kerap kali kami manfaatkan, untuk saling bertemu lagi. 

Hampir tiap tahun, kami hanya dipertemukan saat dia sedang liburan. Namun sayangnya, saya belum sempat mengunjungi tempat kediamannya di Sulawesi Tengah. Sebab setiap kali saya ada waktu liburan, namun disaat bersamaan saya mendapat tugas menghadiri acara dari kantor ke Jakarta. Setelah  acara kantor baru saya memperoleh liburan, tentu saja saya mengambil waktu tersebut untuk sekalian mengunjungi orang tua saya di kampung, mumpung sudah ada di Jawa.   

Biarpun saya sudah berada di satu daratan yang sama dengan dia, yaitu sama-sama di Sulawesi. Namun ternyata kendala jarak dan waktu masih tetap menjadi kendala utama dari hubungan kami. Jarak antara Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara ternyata masih begitu jauh, dan medanya tak seperti jalan-jalan di Jawa. Dari tempatku ke tempatnya, memakan waktu tiga hari perjalanan darat, dan jika menggunakan kapal laut dapat ditempuh sekitar dua hari. Jika menggunakan Pesawat, tiketnya jauh lebih mahal daripada pergi ke Jawa.  Meski hubungan kami sering pasang surut, namun kami tetap mencoba bertahan untuk dapat mematahkan mitos tersebut.

Berbagai ujian dan godaan setelah saya tinggal di Manado lumayan cukup besar. Tak perlu diperjelas lagi mengenai godaan bagi kaum adam di Manado. Yups... betul sekali... cewek-ceweknya di kota ini dapat meruntuhkan keteguhan hati untuk kata setia, karena  secara fisik banyak yang lebih cantik, seksi dan berani bila dibandingkan dengan mantan saya. Untuk beberapa kali saya hampir sempat terjatuh oleh godaan-godaan tersebut, namun pada akhirnya saya masih bisa mempertahankan hubungan ini, meski begitu amat sulit dengan berbagai tawaran-tawaran cinta yang lebih menggiurkan, apalagi sebagai seorang pendatang yang jauh dari kekasih seperti saya.  

Cobaan lain tentang masalah perbedaan selera rohani dari dominasi gereja kami yang berbeda pun, meskipun melalui pertentangan dan perdebatan yang lumayan alot dengan ibunya, namun demi untuk mempertahankan hubungan ini, saya sudah sedia untuk mengalah untuk mengikuti seleranya. Namun ada satu hal yang menjadi batu sandungan yang tak bisa ku lewati adalah, dengan mendapatkan pekerjaan ditempatnya dia tinggal yaitu di Sulawesi Tengah. Saya sudah mencoba mendapatkan informasi lowongan pekerjaan secara online untuk lokasi disana, namun sangat minim sekali yang sesuai dengan kualifikasi yang saya miliki, namun ada beberapa yang saya tindak lanjuti untuk mengirimkan berkas lamaran saya, namun ternyata belum ada balasannya. Karena saya tidak berhasil mendapatkan pekerjaan di sana inilah, yang menjadi alasan utama, dan memaksa dia untuk mengambil sebuah  keputusan yang mungkin begitu berat baginya.

Dalam keputus asaan dan kebimbangan, serta dari akumulasi berbagai putaran setan masalah yang kami hadapi, didukung dengan pada saat yang sama, saya sedang menghadapi persoalan kehidupan yang menyudutkan saya untuk kehilangan posisi tawar yang kuat darinya.  Maka disaat bersamaan pula, cinta lain pun datang menghampirinya dengan kemasan yang jauh lebih menarik dari pada saya saat itu, dan jauh lebih dari kemapanan dan kesiapan yang mungkin diidamkan olehnya. Tentu saja saya harus terpaksa mengiklaskannya, meski dengan hati yang berat dan penuh penyesalan. Namun apa boleh buat, alasan yang penting dia bahagia pun, mengiringi ketidak mampuanku mendapatkan dia seutuhnya, dan merelakan dia bersama orang lain yang merupakan orang lokal dari tempatnnya ia tinggal. Meski dalam hati kecil ada ketidak relaan untuk melepasnya.

Tak terasa waktu telah begitu cepat berlalu, tujuh tahun sudah kami bergulat pada hubungan cinta yang rumit yang hanya berputar-putar pada persoalan yang sama yang tak dapat kami temukan ujung pangkal penyelesaiannya.  Akhirnya dipenghujung bulan Maret 2011, dengan segala kepedihan dan penyesalan kami berdua resmi mengakhiri kisah ini secara baik-baik, dan dengan lapang dada. Hingga kemudian pada pertengahan November 2011 lalu, ia  memberi kabar akan hari pernikahannya. Meski hati teriris, namun itulah sebuah kenyataan, dan hanya doa yang dapat kusampaikan,  “semoga  berbahagia”.

Hingga pada pertengahan Januari 2011, ternyata saya baru ingat dan menyadari bahwa sekitar 6 tahun lalu, saya pernah mengajaknya menyebrangi jembatan air terjun Gerojokan Sewu Tawang Mangu, yang katanya magis tersebut. Entah itu benar gara-gara hal itu atau tidak, namun pada kenyataannya mitos tersebut benar-benar terjadi pada hubungan kami.

Hmmm..... jadi kapok deh pacaran disitu lagi.. :(

Nb : No Hoax... picture gak bisa ditampilkan, karena sudah bukan haknya hehe

Kamis, 17 November 2011

Pelayaran Pulang dari Pulau Siau, Berkesempatan singgah dari Pulau Ke Pulau (Part 3 - habis)

  Sambungan Part 2
Mengelilingi Pulau Siau dan Mengeksplore Keindangan Alamnya

Namanya backcaper, pasti selalu mencari yang ekonomis untuk bisa menjelajah seluas dan sejauh mungkin, untuk masalah akomodasi dan konsumsi, diusahakan pula kalo bisa mendapatkan gratis hehehe....

Dari kiri, Rio, Saya, Erwin dan Fanny 
Ya....., kami sangat beruntung, selama dua hari tinggal di Pulau Siau, teman kami Rio dan Jelly menerima kami dengan sangat baik. Selain menyediakan tempat untuk kami menginap, dan meminjamkan mobil dan motornya buat kami jalan-jalan, mereka juga menyediakan makanan buat kami.  Itulah sebabnya, kami selalu berdoa semoga keluarga baru ini semakin diberkati. 

Sebelum meninggalkan pelabuhan Ondong
Esoknya, 7 Oktober 2011 kami  harus kembali ke Manado dan berencana mau mencoba menaiki kapal cepat turbo jett Prima Oasis, yang harga tiket kelas ekonominya Rp. 125.000,-. Namun sayang, ternyata kapal ini banyak sekali peminatnya. Jika tidak pesan tiket pada jauh-jauh hari, mungkin tidak kebagian tiket. Karena rute kapal ini adalah dari Tahuna Kepulauan Sangihe  kemudian baru singgah ke Siau setelah itu mampir ke Tanggulandang, baru kemudian ke Manado. Jadi bisa saja sebelum sampai di Siau, penumpang dari Tahuna sudah berjubel.

Menikmati kelas VIP nya KMC Express Bahari
Karena tidak mendapatkan tiket kapal Turbo Jet Prima Oasis, maka terpaksa kami membeli tiket kapal cepat Express Bahari. Rencananya karena kami adalah seorang backcaper, jadi hanya mau membeli kelas ekonomi saja, dan uang tiket kami titipkan ke teman kami Rio karena agen penjualan tiketnya ada di dekat kantornya. Eee....ternyata dia mengupgrade tiket kami dari kelas ekonomi menjadi kelas VIP, diatasnya kelas exekutif. Meskipun tidak kesampaian naik kapal Prima Oasis, namun kami mendapatkan kelas paling prestisius di kapal Express Bahari.

Pukul 12 siang, kapal baru meninggalkan pelabuhan Ondong, saat keluar dari pelabuhan karena cuaca waktu itu kurang baik agak sedikit mendung dan  berombak. Sehingga kapal agak bergoyang. Namun meskipun saya mendapat tempat duduk paling nyaman di kapal ini, dengan ruangan khusus ber AC dan fasilitas TV paling besar serta mendapat pelayanan paling istimewa dibandingkan penumpang di kelas lain, namun sepanjang perlananan saya lebih banyak menghabiskan di luar, duduk di dek belakang yang terbuka sambil menikmati pemandangan gugusan pulau-pulau yang dilewati.

Meninggalkan perairan Pulau Siau
Jika menggunakan kapal cepat, jarak tempuh dari pulau Siau ke Pulau Tanggulandang hanya membutuhkan waktu satu jam. Ketika singgah di pulau Tanggulandang, pelabuhan yang digunakan tidak seperti waktu kami berangkat menggunakan kapal ferry.  Pelabuhan untuk kapal cepat berada di sebelah barat yang tepat berada di samping pulau Gunung Ruang, sedangkan pelabuhan ferry berada di sebelah timur pulau. Sehingga saya sudah melihat semua kondisi dan situasi pelabuhan yang ada di pulau itu, meskipun hanya dari atas kapal.

Pulau Gunung Api Ruang di sebrang Pulau Tanggulandang
Pulau Gunung Ruang yang tepat berada di depan pelabuhan, merupakan gunung Aktif yang dimiliki pulau Tanggulandang, dan pernah meletus dhasyat  pada beberapa tahun yang lalu. Bekas letusannya masih tampak jelas dengan melelehnya lahar panas yang telah membeku dari atas gunung sampai ke pantainya. Untuk sementara ini, gunung ruang tertidur kembali dan tidak ada aktivitas vulkaniknya, namun warga di pulau Tanggulandang masih perlu waspada jika sewaktu-waktu gunung ini terbangun dari tidur pulasnya.

Seperti biasa, setiap kali kapal singgah di pulau ini, maka  akan banyak ibu-ibu warga Pulau Tanggulandang yang menaiki kapal untuk menjajakan buah salak hasil kebunnya. Seperti yang telah dibahas pada bagian pertama dari kisah ku ini, pulau ini memang diberkati dengan hasil kebun salaknya. Sehingga oleh-oleh khas ketika dari Siau, selalu ditanya salak Tanggulandangnya.  Harganya pun cukup murah, apalagi jika kapal sudah mau berangkat, harganya bisa ditawar turun dua kali lipat dari harga penawaran awal.

Pelabuhan Kapal Cepat Pulau Tanggulandang
Setelah menaikan penumpang dari pulau Tanggulandang yang akan ke Manado, kapal pun berlayar kembali. Pada pelayarannya kali ini, kapal Express Bahari akan singgah lagi mengambil penumpang lagi di Pulau Biaro. Biasanya pada pelayaran regulernya, setelah dari Pulau Tanggulandang akan langsung menuju Manado, namun kali ini saya mendapatkan kesempatan langka. Karena kapal yang kami naiki akan mampir dulu ke Pulau Biaro. Perjalanan dari Tanggulandang ke Pulau Biaro tidak sampai memakan waktu 1 jam, mungkin hanya sekitar 30-40 menit.

Menginggalkan Perairan Pulau Tanggulandang
Ketika memasuki sebuah teluk Biaro untuk menuju pelabuhannya, banyak dari penumpang yang berada di kelas VIP dan Exekutif keluar di dek kapal untuk melihat lebih jelas pulau Biaro. Ternyata banyak orang yang berasal dari pulau Siau, belum pernah melihat langsung dari dekat pulau Biaro, biasanya mereka hanya melewatinya saja dari kejauhan ketika menuju Manado atau sebaliknya dengan menggunakan kapal. Jadi kami merasa beruntung, karena ini adalah pelayaran kami yang perdana, dan kami mendapatkan kesempatan langsung melihat secara dekat pulau Biaro.

Memasuki sebuah teluk di pelabuhan Pulau Biaro
Tampak pelabuhan pulau Biaro
Dari pelabuhan Biaro yang terlindung oleh sebuah teluk, tidak tampak terlihat rumah-rumah penduduknya. Mungkin rumah-rumah penduduk pulau Biaro berada di balik bukit dari pelabuhan ini. Pulau ini lebih kecil bila dibandingkan dengan pulau Siau atau pulau Tanggulandang, dan jumlah penduduknya pun lebih sedikit, dan nampaknya kondisi kesejahterannya tak seberuntung dengan warga dari dua pulau tadi.

Menaikan rombongan penumpang dari Pulau Biaro
Pulau Biaro tidak mempunyai gunung api, sehingga tanahnya tidak sesubur seperti tanah di Pulau Siau atau di Pulau Tanggulandang. Tidak ada komonditas perkebunan yang dihasilkan dari tanah pulau ini. Dari atas kapal saya melihat, lebih banyak hamparan rumput ilalang yang menutupi bukit-bukit dan beberapa pohon keras serta kelapa, namun tak serimbun dari kedua pulau yang ku datangi sebelumnya. Sehingga penduduknya hanya hidup dengan mengandalkan hasil tangkapan ikan saja.

Ternyata alasan kapal ini singgah ke pelabuhan Pulau Biaro adalah untuk mengambil rombongan penginjil yang nampaknya baru saja membuat acara KKR di pulau ini. Hanya sekitar 15 menit, setelah penumpang naik semua, kapal pun berlayar kembali menuju pelabuhan Manado.

Fanny in action, sepanjang pelayaran ini.
Sepanjang perlajanan, dek terbuka di belakang kapal masih menjadi tempat favorit saya dibandingkan kursi empuk di kelas VIP yang menjadi hak saya sebagai pemegang tiket kelas VIP. Di area terbuka itu, saya bisa melihat pemandangan diluar secara lebih luas dan bebas. Karena ketika kapal memasuki perairan Bitung, kapal akan melewati gugusan pulau-pulau seperti pulau Talise dan beberapa pulau lain, dan hamparan pesisir pantai dari tanah Sulawesi Utara.  Hingga akhirnya pukul 17.45 Wita atau pukul 6 kurang lima menit sore, kapal sudah bersandar di Pelabuhan Manado.

Demikianlah kisah perjalananku mengelilingi Kabupaten Kepulauan SITARO (Siau Tanggulandang Biaro) yang terlambat posting ini. Semoga memberi inspirasi untuk rencana travling anda.
Matur thankyu.

Minggu, 09 Oktober 2011

Mengelilingi Pulau Siau, dan mengeksplore keindahan alamnya. (Part 2)

Travling ala backcaper yang penuh kejutan ke Pulau Siau Kab. Kepulauan Sitaro

Bersandar di Pelabuhan Ulu
Pelabuhan Ulu
Tak terasa, kapal sudah bersandar di Pelabuhan Ulu, tepat pada pukul 9 pagi. Empunya mobil yang kami bawa yaitu si Rio sudah menunggu di pelabuhan. Setelah melakukan pembayaran ongkos angkut sekitar Rp. 800.000,- , kami pun segera turun dari kapal, bersamaan dengan mobil Mitsubihi Kuda yang kami bawa menuju tempat tinggal  Rio, yang tak jauh dari pelabuhan. Rio sendiri juga merupakan teman se Gereja di Manado, namun dia sudah bekerja di kantor Pegadaian dan ditugaskan di Ulu Siau dan sudah  dua tahun di pulau ini.

Pertokoan di Pusat Kota Ulu-Siau
Kota Ulu sendiri merupakan pusat kota bisnisnya pulau Siau, yang terlatak tepat berada di lereng gunung api Karangetan. Aktifitas bisnis disini sudah cukup lumayan rame, bahkan sudah ada toserba atau toko swalayannya, yaitu Happy Mart, yang baru saja dilounching pembukaannya pada tiga hari lalu sebelum kami datang kesana. Selain didominasi oleh toko kelontong yang menjual bahan bangunan, di Ulu banyak terdapat juga ruko-ruko pengumpul hasil bumi seperti biji dan fuli buah pala, yang merupakan komoditas andalan pulau ini. Rata-rata aktifitas bisnis perdagangan disini didominasi oleh etnis tionghoa, seperti layaknya aktifitas bisnis ditempat lain di Indonesia.

Gunung Karangetan, yang tak lelah beraktifitas.
Gunung Api Karangetan
 Gunung ini merupakan salah satu gunung berapi teraktif di dunia. Setiap hari selalu mengeluarkan larfa pijar. Dahulu katanya, gunung ini pernah meletus dhasyat pada beberpa puluh tahun yang lalu. Pada beberapa bulan lalu gunung Karangetan juga sempat melakukan aktivitas vulkanik dengan status awas, sehingga sempat menghawatirkan penduduk disekitarnya. Letusan-letusan kecil memang sering terjadi, dan tak terhitung jumlahnya.  Jika melewati pulau Siau akan menuju ke Pulau Sangihe atau pulau Talaud pada malam hari dengan menggunakan kapal, akan terlihat jelas luapan larva pijar yang yang menganga kemerahan yang dimuntahkan oleh gunung ini. Namun masyarakat yang tinggal di lereng gunung ini, sudah merasa biasa dengan aktivitas vulkanik yang ditimbulkannya. Bahkan masyarakat disini menganggap bahwa keberadaan gunung Karangetan adalah berkah tersendiri yang diberikan Tuhan kepada masyarakat di Siau, karena dengan adanya gunung ini, tanah di seluruh pulau ini menjadi subur dengan pupuk abu vulkaniknya.

Dua hari dua malam saya tinggal di Ulu, di rumah kontrakan teman kami Rio yang tinggal bersama istrinya Jelly, dan mereka adalah keluarga muda yang baru menikah pada beberapa bulan lalu. Saat hari pertama, sekitar pukul 5 pagi saya sudah bangun dan menikmati pagi di kota Ulu. Didepan rumah, jika kepala mengadah keatas, akan terlihat dengan jelas Gunung Karangetan tepat didepan kami tinggal. Biasanya kalau pagi hari belum ada awan yang menutupinya, sehingga saya puas menikmati keindahan dan keanggunan dari gunung ini. 

Mengelilingi Pulau Siau dengan modal motor pinjaman.
Kantor Bupati Sitaro di Ondong
Setelah sarapan pagi, saya mengajak Fanny untuk jalan-jalan menuju Ondong, dengan meminjam sepeda motornya Rio. Ondong adalah ibu kota Kabupaten Kepulauan Sitaro. Di Ondong inilah pusat pemerintahannya, disini terdapat bangunan Kantor Bupati dan kantor-kantor SKPD lain. Dari Ulu menuju Ondong hanya ditempuh kurang dari 30 menit, atau sekitar 7 Km dengan jalan beraspal hotsmix lebar hanya bisa dilalu dua kendaraan. Kondisi medan jalannya naik turun dan berkelok-kelok dengan sisi-sisinya tebing dan jurang yang dalam. Sehingga kami perlu berhati-hati, dalam membawa kendaraan. Di Ondong juga ada pelabuhan, yaitu pelabuhan Lehi. Biasanya kapal cepat Express Bahari dan KM. Quin Merry berlabuh di pelabuhan ini.
Jalan dari Ulu menuju ke Ondong
Setelah berputar-putar di Ondong, kami tidak kembali menggunakan jalan yang sama menuju Ulu, namun kami melanjutkan menelusuri jalan dari Ondong terus ke arah selatan. Kami tidak tahu, jalan ini nanti akan berujung dimana, karena rasa penasaran terus menuntun kami menelusuri jalan itu. Kondisi jalannya bagus namun lebih sempit, bila dibandingkan dari Ulu ke Ondong, dan medanya masih hampir sama yaitu naik  turun serta berkelok-kelok, namun kali ini melewati pesisir pantai.

Beberapa perkampungan telah kami lewati, dan sepanjang jalan dari rumah-rumah di perkampungan yang kami lewati tak ada satupun rumah reyot atau rumah-rumah papan dengan kondisi yang jelek. Hampir semua rumah penduduk terbuat dari tembok, dan rata-rata rumahnya bagus-bagus. Lantainya sudah berkeramik, dengan disain arsitekturnya yang semi modern. Dengan melihat bangunan-bangunan rumah penduduk yang bagus-bagus tersebut,  menandakan akan tingkat kesejahteraan masyarakat Pulau Siau yang sangat baik, bila dibandingkan dengan perkampungan ditempat lain yang pernah saya lewati.

Buah Pala sebagai sumber penghidupan utama.
Beberapa rumah yang kami lewati, di halaman rumahnya banyak yang sedang menjemur biji buah Pala dan fulinya. Ya... masyarakat disini memang diberkati dengan tanaman Pala yang kualitasnya nomer satu di dunia. Harga biji buah Pala untuk kualitas A dihargai antara Rp. 130.000 – Rp.150.000,- / kilonya, untuk kualitas dibawanya, antara Rp.80.000 sampai Rp.100.000 an lebih / kilonya. Jika pasaran turun, harganya tidak mati dibawah Rp.50.000,-/kilonya. Sedangkan fuli atau kulit ari yang menyelimuti biji pala, harganya lebih mahal. Perkilonya bisa tembus sampai Rp. 200.000 an. Sedangkan tiap pohon Pala, dapat dipanen setiap tiga bulan sekali, dan tanaman ini tidak mengenal musim, sehingga selalu ada buah pala yang dihasilkan dari pulau ini. Rata-rata per pohonnya bisa menghasilkan 2 – 3 karung besar buah Pala. Sedangkan kulit buahnya bisa dimanfaatkan untuk berbagai macam produk makanan, seperti manisan, sirup, selai atau bisa juga dibuat wine pala. Bisa dibayangkan berapa keuntungannya yang didapat.

Itulah sebabnya, di kanan-kiri  jalan saat kami mengelilingi pulau ini, dipenuhi oleh pohon buah pala, dan ada juga tanaman cingkeh namun tidak sebanyak pohon buah pala. Jika didaerah lain si Sulawesi Utara komonditas kelapa menjadi komonditas utama, namun di pulau Siau tanaman kelapa malah kurang.

Meskipun tinggal didaerah kepulauan, namun aktivitas melaut atau profesi sebagai nelayan kurang diminati. Ini bisa dilihat, sepanjang jalan ketika saya menyusuri jalanan melewati perkampungan dipinggir pantai, tak ada kapal atau perahu nelayan yang tertambat ditepinya. Hanya beberapa perahu tradisional kecil saja, yang jumlahnya sangat sedikit. Dengan hasil pala yang begitu menggiurkan tersebutlah, profesi mencari ikan hanya dijadikan sebagai sampingan, bila dibandingkan dengan masyarakat yang tinggal di kepulauan lainya, yang menjadikan profesi nelayan sebagai profesi utama mata pencaharian mereka.

Harga BBM yang mencekik leher
Motor kami kendarai secara bergantian. Kami masih belum tahu ujung dari jalan yang kami lalui. Akhirnya ada sebuah warung, yang disitu juga menjual bensin eceran. Kami pun singgah untuk menambah bensin motor kami, karena ketika dari Ulu hanya mengisi satu liter saja, takutnya jalanan masih jauh dan kehabisan bensin dijalan. Harga bensin disini benar-benar mencikik leher, per liternya rata-rata dijual antara Rp.12.000,- s/d Rp.15.000,- /liter. Terkadang katanya, pas baru langka-langkanya BBM, harga bensin bisa tembus Rp.25.000,-/liter.  Jika dipikir, harga bensin disini jauh lebih mahal daripada di Pulau Sangihe dan di Pulau Talaud yang lebih jauh dari pusat pemerintahan Provinisi. Jika di Pulau Sangihe, tahun 2008 lalu waktu saya pergi kesana harga bensin eceran mahal-mahalnya antara Rp.6000,- s/d Rp.7000,- / liternya. Sedangkan di pulau Talaud harga bensin eceran berkisar Rp. 7000,- s/d Rp. 9000,- / liternya.

Di Pulau Siau ada satu pom bensin Pertamina, namun setiap kali pasokan BBM datang dari Bitung, langsung habis di penjual eceran yang telah mengantri lebih dahulu. Itulah sebabnya ongkos kendaraan umum disini juga lumayan mahal. Sekali jalan menggunakan angkot sekali naik rata-rata harus keluar Rp.5000,-  jika jaraknya lebih jauh tentu saja lebih mahal. Angkota yang digunakan disni adalah mobil pickup yang sudah dipasang kap belakang, dan rata-rata dimodifikasi dengan dipasang sound system yang lengkap. Sehingga sepanjang perjalanan angkota itu beroprasi, selalu full dengan musik, dengan suara yang keras.

Tembus di Pelabuhan Sawang
Setelah bertanya kepada penjual warung akan ujung dari jalan yang kami lalui, katanya nanti kalau kami terus berjalan mengikuti jalan itu akan tembus di Sawang dan dari Sawang bisa langsung tembus kembali ke Ulu. Dari situ hati kami sudah tenang, karena pasti bisa kembali ke Ulu melalui jalan ini. Dari tempat kami bertanya, menuju ke Pelabuhan Ulu ternyata sudah tidak terlalu jauh. Hanya beberapa tanjakan dan melewati hutan pala, kemudian turun menyusuri jalan pesisir pantai lagi dan langsung dapat kelihatan teluk Ulu dan pelabuhan Sawang. Di Pulau Siau ini memang ada tiga pelabuhan yaitu Pelabuhan Ulu, ini adalah pelabuhan pertama yang sekarang baru dalam tahap perbaikan, kemudian pelabuhan Ondong di desa Lehi, dan terakhir adalah pelabuhan Sawang.

Terlihat pelabuhan Sawang dan teluk Ulu
Pelabuhan Sawang ini, biasanya disinggahi oleh kapal turbo jet Prima Oasis, dan kapal KM. Victory. Di situ juga terdapat pelabuhan kapal Ferry, namun ternyata KMP. Lokongbuana lebih suka berlabuh di pelabuhan Ulu karena lebih dekat dengan pusat bisnisnya.

Kapal Turbo Jett Prima Oasis sedang berlabuh sejenak menaikan penumpang di Pelabuhan Sawang
Dari Sawang menuju Ulu, sudah tidak jauh lagi. Hanya beberapa kilo meter saja kami tempuh dengan motor. Sebenarnya setelah sesampai di Ulu, kami akan melanjutkan pergi ke Kalarung, yaitu daerah bagian timur dari pulau Siau, tapi gara-gara jembatan yang baru diperbaiki dan karena perut kami sudah keroncongan akhirnya kami malas untuk mencari jalan alternatif lain, untuk pergi ke Kalarung. Namun malam harinya, akhirnya kami sempat pergi kesana dengan menggunakan mobil. Dengan maksud memancing ikan di pantai Kalarung. Dikarenakan pada waktu itu air laut sedang surut, setelah beberapa kali kail kami lemparkan dan tak ada jawaban dari ikan disana, akhirnya kami pindah mengail di pelabuhan sawang, dan hanya dapat ikan-ikan kecil yang jumlahnya hanya beberapa ekor saja.


Sabtu, 08 Oktober 2011

Travling ala backcaper yang penuh kejutan, ke Pulau Siau Kab. Kepulauan Sitaro. (part 1)


Melengkapi kisah penjejakanku di Sulawesi Utara, tinggal Kabupaten Kepulauan SITARO yang belum pernah aku jejaki. Kata SITARO sendiri merupakan kepanjangan dari Siau, Tanggulandang dan Biaro, karena Kabupaten yang baru dimekarkan dari Kab. Kepulauan Sangihe tahun 2007 ini memiliki tiga gugusan pulau besar tersebut diatas yang merupakan wilayah administratifnya.
Map Kabupaten Kepulauan Sitaro

Berikut adalah foto satelit dari ketiga gugusan pulau tersebut :

Pulau Siau


Pulau Tanggulandang


Pulau Biaro

Kabupaten SITARO letaknya masih lumayan cukup dekat dengan Ibu kota Provinisi Sulut, jika dibandingkan dengan ke Kab. Kepulauan Sangihe atau ke Kab. Kepulauan Talaud. Untuk ke Sitaro atau lebih tepatnya ke Pulau Siau yang merupakan pulau terbesar, dapat ditempuh dengan menggunakan kapal. Tiap hari ada beberapa jenis kapal yang melayani penyebarangan kesana, jika membawa mobil atau muatan banyak bisa menggunakan kapal Ferry KMP. Lokongbanua dengan waktu tempuh antara 8 s/d 9 jam. Namun jika hanya berangkat tanpa banyak barang bawaan, bisa menggunakan kapal cepat Express Bahari, atau Kapal turbo jet Oasis, dengan waktu tempuh sekitar 2.5 s/d 3 jam an atau dengan kapal penumpang biasa KM. Quin Merry dan KM. Victoria, dengan waktu tempuh sekitar 5-6 jam.
Kali ini kesempatan penjejakanku datang kesana berawal ketika salah seorang teman se Gereja yang merupakan temen baikku, memberitahukan kalau ia akan kesana untuk mengantarkan mobil temannya dari Manado ke Pulau Siau. Mendengar info tersebut, langsung kutawarkan diri jika tak keberatan untuk menemaninya kesana, dan memberitahukan kepadanya bahwa biaya transportasi dan akomodasi selama disana saya akan tanggung sendiri. Ia pun juga senang karena ada teman yang akan menemaninya pergi ke pulau itu, karena ia sendiri pun baru sekali ini mau pergi kesana.
Niatku mau pergi kesana, didukung dengan aktivitas kantor yang sudah tidak terlalu padat, sehingga aku dapat mengambil cuti untuk beberapa hari. Awalnya kami akan berangkat pada hari Minggu, 2 Oktober 2011. Namun setelah sampai di pelabuhan Ferry di Bitung, KMP. Lokongbanua yaitu kapal ferry yang akan kami naiki, dek bawahnya sudah full dengan truk-truk besar dan tak ada lagi space yang tersisa untuk satu mobil lagi. Menurut salah seorang ABK, jika ingin mengangkut mobil harus datang pagi-pagi atau memboking tempat dulu, karena kalau tidak, kami tidak akan kebagian space lagi. Akhirnya teman saya si Fanny, mendaftarkan nama dan akan berangkat pada jadwal keberangkatan berikutnya yaitu pada hari Selasa malam, 4 Oktober 2011. Untuk mengobati kekecewaan karena sudah sampai di pelabuhan Bitung dan gagal menyebrang, akhirnya kami melemparkan kail yang kami bawa untuk memancing di pulau Siau di pelabuhan Ferry Bitung, hingga dua jam kami mengail di situ, tak ada satu ikan pun yang memakan umpan kami, bukannya terhibur malah semakin kecewa karena tidak dapat ikan hehehe.
Kejutan pertama, mendapat tiket kapal gratis.
Setelah menunggu jadwal keberangkatan selanjutnya, akhirnya kami pun berangkat pada hari Selasa malam, 4 Oktober 2011. Pagi-pagi sekali, teman saya si Fanny sudah datang membawa mobil yang akan kami angkut, dan sudah terpakir di dek bawah di sudut paling belakang KMP. Lokongbanua. Sedangkan saya sendiri menyusul pada sore harinya sepulang dari kantor. Biasanya, kapal diberangkatkan pada pukul 08.00 malam, namun entah karena muatan kapal waktu itu dinilai melebihi kapasitas, hingga kapal terlambat untuk berlayar. Karena biasanya sebelum kapal berlayar ada petugas Syahbandar yang memeriksa kondisi dan keadaan kapal, untuk menjamin keselamatan berlayar. Malam itu kapal ferry yang kami naiki ini memuat 20 mobil yang terdiri dari 4 mobil kecil, termasuk mobil yang kami bawa dan sisanya ada 16 truk besar yang penuh dengan muatan. Hingga pukul 10 malam, kapal belum juga diberangkatkan, penumpang pun sudah mulai gelisah dan mencari tahu apa yang terjadi, termasuk saya tentunya. Selidik punya selidik, ternyata surat berlayar belum dikeluarkan dari Syahbandar yang punya otoritas pelayaran di lautan Indonesia. Hingga pukul 12 malam, melilhat cuaca waktu itu cukup baik dan tenang, akhirnya pihak Syahbandar mengeluarkan surat berlayar untuk kapal yang kami naiki.
Naik kapal Ferry KMP. Lokongbanua ini mengingatkan aku pada KMP. Muria yang melayani penyebrangan Jepara – Karimun Jawa, waktu keluargaku masih tinggal di pulau itu, pada sekitar 5 tahun yang lalu. Dahulu kalau mau menjenguk orang tuaku, tiap tahun selalu naik Ferry atau kapal cepat KMC. Kartini, namun sekarang kalau mau pulang kampung, Tuhan upgrade perjalananku harus naik pesawat, dari Manado ke Jakarta atau ke Surabaya, kemudian baru ke Solo - Wonogiri. Naik kelas sih...namun naik pula ongkosnya hehe..
Fanny asik tidur
Tidur di dek paling atas, beratapkan langit, berselimutkan angin malam.
“Kembali ke leptop”..... Selama perjalanan, meskipun ada dek kedua yang khusus untuk penumpang, dan ada tempat tidurnya disana, namun kami memilih dek paling atas untuk mengambil posisi tidur dan menanti perjalanan hingga sampai tempat tujuan. Meskipun beratapkan langit, dengan udara malam yang cukup dingin, namun saya cukup menikmatinya, apalagi cuaca malam itu sangat baik, dan tidak bergelombang. Tripku kali ini sangat beruntung. Ketika ABK mulai menarik uang tiket, biasanya jika membawa mobil hanya satu orang saja yang mendapat tiket gratis, namun waktu itu kami berangkat bertiga dan dikasih gratis semua. Begitu pula ketika kami hanya menggunakan satu matras untuk alas kami duduk-duduk diatas dek kapal, setelah Cheff atau salah seorang perwira kapal melihat kami menggunakan satu matras saja, ia menyuruh anak buahnya mengambilkan dua matras lagi untuk kami. Sungguh berkat Tuhan yang luar biasa bagi kami, malam itu.

Singgah sejenak di Pulau Tanggulandang
Tak terasa, waktu telah menunjukkan pukul 5 pagi, saya terbangun dan melihat ada gugusan pulau-pulau, dan kapal pun mengarahkan haluannya menuju salah satu pelabuhan bagian utara pulau itu. Ya... ini adalah pulau Tanggulandang. Semua kapal yang menuju pulau Siau, biasanya singgah dahulu ke Pulau ini untuk menurunkan atau menaikkan penumpang dari Bitung ke Tanggulandang atau dari Tanggulandang ke Siau, begitu pula sebaliknya.

Salah satu perkampungan di sudut utara pulau Tanggulandang, foto diambil dari atas kapal, ketika berlabuh sejenak di pelabuhan ferrynya.

Tampak dari atas kapal, Pulau Tanggulandang bertopografi bergunung-gunung, areal perkampungannya berada di celah-celah bukit, dan sebagian berada diatas bukit. Disebelah pulau Tanggulandang, ada sebuah pulau yang terbentuk dari gugusan gunung berapi, yaitu pulau Gunung Ruang, yang dipisahkan oleh sebuah selat dengan Pulau Tanggulandang. Gunung ini pernah meletus beberapa tahun lalu, dan sisa-sisa lahar panas yang telah membeku dari puncak gunung hingga meleh ke laut masih tampak jelas, menandakan kedhasyatan letusannya waktu itu. Untuk sementara ini, gunung tersebut masih terdiam, dan tak ada aktifitas vulkaniknya. Itulah sebabnya pulau Tanggulandang mempunyai tanah yang subur, oleh abu vulkanik dari gunung ini, dan Pulau Tanggulandang merupakan penghasil buah Salak yang rasanya manis dan buahnya besar-besar, di Sulawesi Utara selain di Desa Pangu Kab. Ratahan.
Setiap kali kapal singgah di pulau ini untuk menaikan dan menurunkan penumpang, penduduk setempat menaiki kapal untuk menjajakan buah salak dari hasil kebun mereka. Untuk satu kardus kecil, awalnya mereka menawarkan dengan harga Rp.20.000,-, namun setelah kapal mau berangkat kembali, mereka menurunkan harga antara Rp. 10.000,- hingga kalau beruntung dapat Rp. 5000,- Per kardusnya.
Setelah kurang lebih 30 menit kapal Ferry menurunkan penumpang dan beberapa mobil truk di pulau ini, serta menaikkan beberapa penumpang dari Tanggulandang yang mau menuju ke Pulau Siau. Klakson kapal kembali berbunyi, sebagai tanda kapal ini akan kembali berlayar. ABK Kapal kembali ke posisinya masing-masing, dan tambatan tali pun mulai dilepaskan untuk meninggalkan pelabuhan Ferry di Tanggulandang, menuju ke Pulau Siau. Perjalanan dari Pulau Tanggulandang ke Pulau Siau, jika menggunakan Ferry masih ditempuh sekitar 2 jam.
Satu setenga jam berlalu, dan Kapal Ferry mulai memasuki perairan pulau Siau. Tampak sebelah kanan gugusan pulau Bahoro yang melindungi teluk Pulau Siau. Katanya di Pulau Bahoro ini ada gua-gua pantai, yang banyak terdapat sarang burung walet, juga disalah satu sisinya terdapat pesisir pantai yang pasirnya putih dan lembut. Sedangkan disebelah kiri kapal, terlihat Pulau Siau dengan Gunung Api Karangetan yang menjulang tinggi dari kejauhan. Pulau ini memang bertopografi bergunung-gunung dan berbukit, dengan hutanya yang masih lebat dan menghijau.

Kamis, 21 Juli 2011

Ragam Talaud di Kota Lirung ( Jejak Talaud Part 3 - habis)

Masih lanjutan dari jejak-jejak sebelumnya..

Kota Melonguane, menurut beberapa orang yang ku temui disini. Dulunya adalah sebuah desa pesisir kecil, dan tak seramai saat sekarang setelah menjadi Ibukota Kabupaten Kepulauan Talaud. Desa ini bergerak berubah menjadi pusat pemerintahan dan menjadi kota bisnis, mennggantikan kota Beo dan Lirung yang dulunya adalah pusat bisnisnya disini. Aktivitas bisnisnya pun bisa berlangsung hingga larut sampai sekitar jam 10 malam, masih banyak ditemui pertokoan yang buka.
Selain sebagai pusat pemerintahan dan pusat bisnis yang baru, di kota ini juga dipusatkan pula pusat jalur transportasi baik udara maupun laut. Disini terdapat pelabuhan Melonguane, yang berada tepat di pusat kota, juga terdapat bandara udara Melonguane, yang dua hari sekali terdapat pesawat yang melayani penerbangan Melonguane - Manado.

Pusat Kota Melonguane

Inilah pusat kota Melonguane, meskipun tampak sepi dan hanya diramaikan oleh Bentor, namanya juga kota dikepulauan terpencil. Namun di kanan-kiri sepanjang jalan ini berdiri banyak ruko-ruko dan pertokoan yang menjual berbagai macam keperluan masyarakat Talaud. Harganya, tentunya agak sedikit mahal bila dibandingkan dengan di Manado.


Aktivitas Nelayan

Sebagai daerah kepulauan, tentu saja daerah ini kaya akan SDA terutama hasil tangkapan ikan. Dan tiap hari, puluhan ton ikan, dihasilkan dari hasil tangkapan nelayan di kepulauan ini. Sebagian kecil dikonsumsi sendiri dan di jual secara lokal, di pasar atau langsung di pantai saat kapal nelayan, orang sini menyebutnya sebagai "Pajeko", dan sebagian besar yang lain dikirim ke Manado atau langsung di ekspor ke luar negeri. Dan inilah saat kapal pajeko, mendarat dari tengah lautan dengan membawa hasil tangkapannya.
Kapal Pajeko saat kembali dari lautan, dengan penuh hasil tangkapan ikan langsung di serbu oleh pembeli ikan, dan langsung terjadi aktivitas transaksi di pinggir pantai Melonguane.


Perahu Ketinting, biasanya digunakan nelayan untuk mencari ikan hanya di sepanjang pesisir pantai, dan tidak bisa sampai ke tengah lautan yang luas


Menuju Lirung

Lirung adalah sebuah ibukota Kecamatan yang terletak di pulau Salibabu, yaitu sebuah Pulau tersendiri yang berada di seberang kota Melonguane. Sedangkan Melonguane dan kota Beo terletak di Pulau Karakelang, yaitu pulau terbesar di Talaud. Untuk menuju ke Lirung, menggunakan speedboat, dengan jarak tempuh kurang lebih 15 menit.
Ini adalah ketika saya menyebrang dari Melonguane menuju Lirung, dengan menggunakan jasa Taxi laut, dengan ongkos Rp. 30.000/0rg untuk speedboat yang kecil dengan kapasitas 4 penumpang. Sedangkan speedboat yang besar ongkosnya lebih murah, sekitar Rp. 20.000/org.


Sesampai di tempat bersandar Speadboat di Lirung, langsung di sambut dengan sebuah menara yang berada di pinggir pantai.


Pelabuhan Kapal Ferry di Lirung, yang nampaknya belum lama dibangun dan belum beroprasional.


Salah satu sudut-sudut jalan di Lirung, yang masih tampak senyap dengan aktivitas lalu-lalang lalu lintas


Pusat Pertokoan di Lirung


Salah satu patung, tokoh pahlawan dari Lirung.


Aliran Kepercayaan Mussi

Di Pulau Salibabu, atau tepatnya sekitar 10 Km dari pusat Kota Lirung, terdapat sebuah tempat pemujaan aliran kepercayaan kuno, animisme dinamisme yang masih di anut oleh sebagian kecil masyarakat di sini, yaitu khususnya masyarakat yang tinggal di Desa Mussi. Tempat pemujaan ini berupa sebuah gua kecil, yang diatasnya terdapat hutan lebat dengan pohon-pohon yang besar. Saat rasa penasaran saya ingin mengetahui lebih jauh, ada apa diatas dari gua tersebut, karena disitu terdapat sebuah undak-undakkan untuk naik keatas. Namun tukang bentor yang mengantar saya melarang untuk naik di kawasan tersebut, karena saat itu tidak ada juru kunci yang biasanya menjaga tempat ini. Kesannya memang lumayan cukup angker di tempat yang disakralkan tersebut. Sehingga tukang bentor tersebut takut, kalau saya terjadi apa-apa disana, jika memaksa naik ke tempat itu. Sehingga aku pun mengurungkan niatku, dan hanya mengambil gambar dari bawah.


Gua Wuidduanne
Masih di sekitar tempat pemujaan Mussi, terdapat gua lain, yaitu Gua Wuidduane. dari papan nama yang terpasang di depannya, dikatakan disitu pernah ditemukan tiga rangka manusia penghuni awal pulau ini. Diantara kerangka-kerangka tersebut juga ditemukan benda-benda lain, berupa beberapa perhiasan kuno.


Pulau Sara
Jika menuju ke Lirung dari Melonguane, akan melewati kedua pulau kecil yaitu Pulau Sara besar dan Pulau Sara Kecil. Kedua pulau ini lah yang selalu disuguhkan bagi pengunjung jika datang ke Talaud. Namun waktu itu karena alasan waktu, saya tidak sempat mengunjungi pulau ini. Katanya disini ada pula peninggalan berupa kubur kuno dari jaman pra sejarah, dan tentu saja yang ditawarkan adalah karena pasirnya yang putih bersih.


Taxi laut mengantar penumpang dari Melonguane ke Lirung


Mendarat lagi di pantai Melonguane dari Lirung.

KPTSP Talaud

Bersama Pimpinan dan Staf Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Talaud.


Penginapan Permata, tempat saya menginap di Talaud.


Bale ke Manado
Jalan menuju Kantor Bupati.


Jalan Menuju Bandara


Gerbang Bandara Melonguane


Airport Melonguane, ruang tunggu pemberangkatan. (Jangan dikira puskesma ya...heheh)


Pesawat yang ditunggu akhirnya mendarat di Bandara Melonguane


Bersiap memasuki pintu pesawat.

Meninggalkan Talaud, dan tampak dari atas Kota Melonguane dari atas udara.

Demikian sepenggal kisah penjejakan di Talaud. Semoga dapat berkenan dan memberi manfaat ketika anda akan merancanakan traveling kesana.

Salam Penjelajah.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...