Rabu, 08 Januari 2014
Akhirnya Aku punya Biogas Sendiri
Kamis, 10 Januari 2013
SEHARUSNYA DUNIA INDUSTRI BELAJAR DARI TRAGEDI MINAMATA
Rabu, 15 Oktober 2008
Urus SIM, Calo liar diusir, diganti "Calo berseragam".
Sebagai warga negara yang baik, tentunya wajib mentaati peraturan undang-undang yang berlaku. Terutama dalam hal ini adalah peraturan lalu lintas yang menunjukan setiap pengendara kendaraan bermotor wajib mempunyai SIM (Surat Izin Mengemudi). Karena saya sudah mahir mengendarai mobil, tanpa harus ikut kursus mengemudi di tempat pelatihan mengemudi, sehingga saya tidak mempunyai sertifikat mengemudi, serta belum punya SIM. Mengendarai mobil tanpa mempunyai SIM, tentu saja melanggar undang-undang. Maka saya pun berniat untuk mengurus SIM A sebagai syarat mengendarai kendaraan bermotor roda empat pribadi.
Setelah meminta surat keterangan domisili dari kantor Lurah setempat, maka saya segera menuju kantor Polres Minahasa Utara yang ”katanya” pengurusan SIM disana lebih murah, dibanding dengan di Manado.
Hari itu Rabu, 8 Oktober 2008, saya bersama teman yang juga akan mengurus perpanjangan SIM, dan saya SIM A baru, sama-sama berangkat ke Polres Minut. Tampak terpampang dengan jelas, informasi pengurusan SIM seperti bagan prosedure atau tahap-tahap yang harus dilewati dalam mengurus SIM yang di pasang di tembok ruangan depan loket pengurusan. Disitu juga di tempel dengan tulisan yang sangat jelas, sebuah informasi yang berisi ”Urus SIM jangan lewat calo, SIM baru : Rp. 75.000,- dan SIM perpanjangan : Rp. 60.000,-” yang ditempel di kaca loket pengurusan SIM.
Besoknya, Kamis, 9 Oktober 2008. Saya dan teman kembali lagi untuk mengurus SIM tersebut, dengan membawa sejumlah uang yang sudah saya perkirakan cukup untuk proses pengurusan SIM itu. Setelah sampai didepan loket, saya dipersilahkan dulu untuk melakukan pengambilan sidik jari, dengan membayar Rp. 10.000,-. Setelah itu saya kembali lagi ke loket, tetapi petugas menyuruh langsung untuk melakukan tes kesehatan, dan membawa surat keterangan kesehatan. Tempat melakukan tes kesehatan, berada di ruangan tersendiri di samping loket utama. Ada satu petugas disitu, tetapi ternyata saya tidak di tes kesehatan, meskipun disitu saya melihat ada peralatan untuk mengetes tensi darah, timbangan badan, tes warna untuk mata dan lain-lain, tetapi ternyata tidak dipergunakan. Saya hanya ditanya, berapa tinggi badan, berat badan, dan tanggal lahir. Setelah ia ketik, tidak sampai 5 menit, saya pun diharuskan membayar Rp.30.000,- untuk selembar kertas tersebut.
Kemudian saya membawa surat keterangan kesehatan tersebut, ke loket utama, lalu seorang bapak salah satu petugas tersebut menanyakan kembali, ”bapak belum ada sertifikat mengemudi ya?” iya jawabku. ”begini pak, untuk sertifikat harganya Rp.200.000,-”. Saya pun lantas terperanjat dan kaget, lho kok sudah berubah harganya, katanya kemaren saya datang kesini harganya Rp.150.000,- sekarang kok sudah dua ratus, bantahku. ”emmm.... kata siapa pak” tanya petugas itu. ”kata bapak (saya lupa namanya), yang kemaren ada disini, dan ibu itu pun tahu saya kemaren datang kemari (sambil menunjuk ibu, salah satu petugas disana)” petugas tersebut pun lantas terdiam.
Saya melihat mimik muka petugas tersebut agak kecut, lantas mereka mulai main mata satu dengan yang lain untuk mengadakan konspirasi kepada saya. Berkas saya pun tidak segera diurusnya, dan mendahulukan yang datang dibelakang saya. Kemudian dia (petugas), keluar dari loket menemui saya di ruang tunggu. Kemudian berbicara, sambil berbisik, ”mmm.... tentang administrasinya bagaimana pak?” dia tanyakan kepadaku, lantas saya jawab ”lho khan belum to pak, 75 ribu to?” tegasku, sambil menunjuk informasi biaya SIM yang dipasang di depan kaca loket. ”ahh... bukan, 200 ribu kalau mau cepat !!”, saya kembali terperanjat, ”lho lantas yang dipasang itu apa!!” tanyaku agak keras. ”dia pun lantas kasih solusi, oo... baik lah, kalau gitu bapak ikut tes aja ya.., itu prosedurnya”, (sambil dia menunjuk papan bagan prosedur pengurusan SIM). ”Oke, saya khan mau ikut prosedur resmi, khan disitu nda boleh pake calo” jawabku.
Kemudian dia menyodorkan soal tes kepada saya, yang sesuai dengan golongan SIM yang akan saya urus. Setelah memberikan soal dan lembar jawaban, saya pun mulai mengisi soal-soal yang jumlahnya sekitar 30 soal. Isinya tentang pengetahuan rambu-rambu lalu-lintas, prioritas penggunaan jalan, juga beberapa soal tentang pengetahuan teknis kendaraan. Setelah selesai saya kerjakan, lembar soal dan lembar jawaban, kembali saya serahkan kepada petugas tersebut. Setelah dia ”pura-pura koreksi” dengan mencoret beberapa jawaban yang dianggap salah, lantas kembali dia memanggil saya. ”Wahh... hampir aja pak, hampir bapak lulus. Bapak hanya benar 17 soal, dan salah 13 soal. Sedangkan standar untuk lulus harus benar 18 soal” katanya. Dilihat dari mimik mukannya, dan sorot matanya, saya tahu dia membohongi saya. Saya tahu, saya dapat mengerjakan soal-soal tersebut, sebenarnya dari awal saya sudah bisa membaca niatnya supaya saya, mengurus dengan cara menembak saja. Tetapi tidak saya lakukan. Dengan kekecewaan, saya pun terdiam sedikit lesu.
Lantas dia berkata”bagaimana pak, berarti bapak harus ikut tes ulang lagi, tetapi dua minggu lagi sesuai dengan peraturan. Tetapi sebenarnya kami bisa membantu sih pak, kalau bapak mau butuh cepat”, katanya. Saya pun berpikir, kalau mau cepat, berarti harus dengan cara ”menembak” (menyogok petugtas tersebut), tetapi uang saya sangat ngepas. Lagipula saya pun tidak mau untuk menembak. Lalu saya pura-pura tanya, ”emang berapa pak, kalau saya mau butuh cepat”, dia jawab, ”besok saja pak, bapak kembali kesini, soalnya ini sudah siang” katanya. Tetapi saya desak dia supaya menyebutkan nominal yang akan saya keluarkan, dia pun lantas menyebutkan sebesar Rp. 400.000,-. Dalam hati saya berkata, ”gila, masak dari Rp.75.000,- biaya SIM dan Rp. 150.000,- untuk sertifikat berubah naik menjadi Rp.400.000,-, peraturan dari mana ini”, gerutuku. Belum lagi ditambah biaya surat keterangan kesehatan Rp. 30.000,- dan administrasi sidik jari Rp. 10.000,-. Pelayanan mudah apa semacam ini.
Dengan perasaaan jengkel dan kecewa saya pun pulang, memang benar disitu tidak ada lagi calo-calo liar yang berkeliaran, tetapi ternyata semua petugas polisi yang ada di bagian administrasi pengurusan SIM disana ternyata sudah kong-kalikong untuk menjadi calo berseragam. Kebetulan, saat saya mau keluar meninggalkan kantor Polres, saya bertemu secara singkat salah seorang kenalan Polisi, yang bertugas di bagian Samsat yang katanya juga sebagai ajudan Kapolres Minut. Tetapi saya tidak sempat ngobrol saat itu juga, karena kelihatannya dia buru-buru mengantarkan komendannya. Saya pun lantas mencari nomer Hpnya pada salah seorang teman, orang Toraja satu daerah dengannya. Setelah mendapat nomernya, lantas saya telephon dia. Saya katakan bahwa, semua berkas saya sudah masuk, bisakah saya dibantu, dia bilang ”waduh, kalau sudah masuk berkas saya tidak bisa bantu banyak” katanya. Trus saya ceritakan tentang kejengkelan saya, tidak lulus tes, padahal saya tahu banyak yang benar. Dia jawab ”wah... kalo ikut tes, jarang yang ada diluluskan, dan rata-rata nda ada pengurus SIM yang diluluskan dalam tes tertulis”. ”Ooo... begitu ya...ternyata kelakuan para petugas-petugas itu, ”gerutuku. Besoknya, saya tidak kembali lagi kesana, mungkin saya akan coba untuk ikut tes berikutnya, dengan mengumpulkan bukti-bukti, yang dapat dipertanggung jawabkan. Apakah saya masih diperlakukan hal yang sama, atau sudah menggunakan prosedure yang benar.
Ternyata tidak hanya di jalan raya, citra Polisi yang mulia itu dinodai oleh para oknum-oknum petugas korup, dengan menilang mencari-cari kesalahan para pengendara yang sebenarnya, tidak melanggar aturan. Dan kalau kena tilang, para oknum Polisi itu lebih suka dengan cara ”KUHP” (Keluar Uang Habis Perkara), atau sering disebut dengan istilah ”cara damai”, daripada memberikan surat tilang. Di urusan administrasi pengurusan surat izin mengendara pun, mereka tak kurang akal untuk mencari peluang menguras dompet, warga negara yang hendak mematuhi peraturan dengan mengurus SIM, dengan mengusir calo-calo liar, supaya para putugas tersebut dapat merangkap menjadi calo.
Saya tidak tahu, dengan Polres-Polres didaerah lain, tetapi itu yang saya rasakan ketika hendak mengurus SIM di Polres Minahasa Utara, sungguh sangat mengecewakan dan memalukan citra polisi, yang sebenarnya dari sistemnya sudah baik, tetapi pelaksana sistemnya yang bobrok. Semoga para atasan, dapat mengehahui hal ini, dengan apa yang dilakukan oleh para bawahannya. Atau hal ini memang dibiarkan untuk dilakukan, supaya ada bagi hasil antara bawahan dan atasan. Semoga saja tidak.
Kamis, 14 Agustus 2008
SEMUA BERBAU MINYAK, MINYAK DAN MINYAK…..
Tidak percaya...???!, coba anda buktikan.
Tanpa kita sadari, ”minyak” dalam hal ini adalah minyak bumi yang telah di proses menjadi BBM telah menjadi sumber energi utama dalam kehidupan manusia. Berbagai bentuk aktifitas manusia seakan selalu bergantung dengan yang namannya minyak, untuk memutar roda kehidupannya. Coba anda bayangkan seandainya pasokan minyak di seluruh dunia ini dihentikan, atau tidak usah teralu rumit lah kita berfikir tentang minyak dunia. Bayangkan saja apabila pasokan BBM di kota anda tiba-tiba mengalami keterlambatan pengiriman, misal sampai beberapa hari saja. Pasti seluruh kota akan kacau balau, dan semua saling menyalahkan.
Saya masih ingat ketika beberapa bulan yang lalu pasokan BBM khususnya untuk Sulawesi Utara mengalami keterlambatan. Dikarenakan kapal tanker yang memuat BBM dari Balikpapan, terlambat bersandar di depot Pertamina Bitung gara-gara cuaca buruk. Hampir di sejumlah SPBU kehabisan stok BBM, sedangkan antrian panjang kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar di beberapa SPBU hingga mencapai beberapa kilo meter. Banyak mobil atau motor karena kehabisan BBM, mogok di jalan. Supir angkota dan kendaraan umum tidak bisa berjalan dan mereka tidak punya pemasukan. Isu-isu mengenai BBM akan naik lagi pun mulai merebak. Lagi-lagi pemerintah yang jadi sasaran.
Kenaikan Harga BBM, sebuah momok yang sangat menakutkan.
Belum lama ini, sekita akhir bulan Mei 2008, lagi-lagi pemerintah menaikan lagi harga BBM. Anda mungkin salah satu orang yang tidak setuju tentunya dengan kebijakan tersebut. Dengan alasan harga minyak dunia sudah melambung tinggi, dan APBN sudah tidak mampu lagi mensubsidi untuk menekan harga minyak di pasar lokal, maka negara lewat Presiden SBY terpaksa mengeluarkan kebijakan tersebut. Anda lihat dampak yang terjadi bukan...? demo dimana-mana, harga-harga kebutuhan pokok juga ikut melambung tinggi, kehidupan pun akan semakin lebih susah.
Bahkan kalau tidak salah, salah satu pemicu kerusuhan Mei 1998 dan lengsernya Alm Soeharto dari tahtanya adalah kebijakkannya dalam menaikkan harga BBM. Dari konteks minyak ini pun saya dapat memberanikan diri mengatakan bahwa, siapapun pemimpinnya, siapapun Presiden yang terpilih pada pemilu tahun 2009, tak akan ada yang bisa menghindari dari polemik kebutuhan BBM untuk rakyat. Tak ada yang bisa menjamin harga BBM akan tetap stabil, jika nanti apabila ada salah satu kandidat presiden yang berjanji untuk tetap bisa menstabilkan harga BBM, saya yakin dan percaya dia adalah orang gila dan kurang waras dalam memperhitungkan konsekwensi-konsekwensi ambisinya. Sebab, mau tidak mau harga minyak akan terus naik dan naik, karena minyak yang kita konsumsi sehari-hari bukan berasal dari sesuatu yang dapat diperbaharui, dan kita tentunya sudah tahu semua bahwa minyak bumi berasal dari sisa-sisa pembusukan fosil hewan-hewan purba yang umurnya sudah berjuta-juta tahun terpendam dalam perut bumi. Jadi sangat tidak mungkin, kalau minyak bumi ini akan terus tetap ada di muka bumi ini, sebab proses untuk menjadi minyak mentah membutuhkan waktu yang sangat lama.
Sedangkan eksploitasi terus menerus dilakukan, demi memenuhi kebutuhan minyak yang terus meningkat. Bila dahulu beberapa puluh tahun yang lalu, mungkin ketergantungan terhadap minyak tidak begitu terasa. Karena jumlah kendaraan tidak sebanyak sekarang, industri tidak sepesat sekarang, dan energi alam lain seperti kayu bakar masih gampang dicari. Tetapi sekarang, coba lihat jalanan di sekitar tempat anda tinggal. Baik di kota maupun di desa, tingkat kepemilikan kendaraan semakin lebih tinggi, jalanan pun semakin lebih penuh dan ramai. Itu dikarenakan hampir di setiap rumah atau keluarga sekarang, rata-rata memiliki kendaraan bermotor, bahkan ada yang memiliki lebih dari satu. Disisi lain, produsen kendaraan pun semakin memberikan sistem kemudahan-kemudahan supaya masyarakat dapat lebih mudah lagi memiliki kendaraan bermotor, dengan cara pemberian kridit dengan bunga ringan. Rata-rata setiap hari kendaraan bermotor dapat mengkonsumsi BBM sekitar 2-60 liter atau bahkan lebih tergantung dari jarak tempuh pemakaian. Belum lagi dengan kendaraan-kendaraan yang sudah tidak normal sistem pembakarannya, akan semakin lebih boros lagi konsumsinya.
Disisi lain, bidang industri baik industri kecil maupun industri besar juga bergantung dengan energi minyak untuk menjalankan roda industrinya. Hampir semua mesin-mesin industri pasti menggunakan BBM minyak, industri makanan pun menggunakan enegi minyak (minyak tanah), semuanya mennggunakan minyak.
Itulah sebabnya, dalam paragraf pertama saya katakan bahwa semua berbau ”minyak”, dari pakaian, perabot yang kita gunakan, makanan bahkan juga minuman. Semua berbau minyak. Pakaian yang kita pakai, tidak tiba-tiba langsung kita beli dari pabrik, tetapi sudah menggunakan alat angkut dari pabrik menuju distributor di toko-toko atau di pasar-pasar menggunakan kendaraan (truk), begitu juga makanan, baik beras, sayur mayur, buah-buahan, air mineral dan sebagainya, semuanya menggunakan kendaraan yang mengkonsumsi BBM minyak untuk sampai ditempat kita. Sehingga semua berbau minyak.
Bagaimana supaya tidak berbau minyak....?
Dengan semakin berkurangnya kandungan minyak diperut bumi, dan melambungnya harga minyak dunia, serta semakin langkanya pasokan minyak tentunya harus dipikirkan alternatif-alternatif lain untuk menggantikan energi minyak bumi, yang telah populer kita gunakan selama ini. Saat ini, sebenarnya telah ditemukan dan sedang dikembangkan energi-energi alternatif lain sebagai pengganti dari minyak bumi, salah satunya adalah dengan biofuel atau biodiesel. Yaitu energi bahan bakar yang terbuat dari tumbuh-tumbuhan seperti biji jarak pagar yang dikembangkan menjadi bio disel, dan ubi atau sorgum yang dikembangkan menjadi etanol sebagai biofuel. Juga pemanfaatan energi matahari, sebagai solar sell untuk kendaraan, meskipun tidak seefesien BBM dari minyak bumi.
Produsen kendaraan pun juga sudah memunculkan inovasi-inovasi baru untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi, salah satunya dengan membuat mobil hibrida, yaitu mobil yang menggunakan perpaduan dua tenaga yang berbeda untuk menjalankannya. Yaitu dengan motor listrik yang dipasok energinya dari batray, yang dapat menchast secara otomatis atau manual, dan mesin bensin. Dalam kondisi jalan normal, motor listrik menggerakkan mobil, tetapi ketika jalan menanjak naik,mesin bensin secara otomatis akan hidup dan menopang gerak mobil. Sedangkan apabila jalan menurun, mobil akan menchast secara otomatis batray untuk motor listirknya.
Bentuk-bentuk energi lain yang dikembangkan oleh produsen mobil antara lain mobil dengan bahan bakar hidrogen, mobil listrik, mobil dengan bahan bakar methana, mobil dengan bahan bakar bio energi dan lain-lain. Tetapi untuk saat ini mobil-mobil tersebut masih terbatas jumlahnya, dan masih banyak mengalami kendala. Salah satunya adalah untuk mobil tenaga listrik, tenaga dan jarak tempuhnya tidak sehandal mobil berbahan bakan minyak, dan masih banyak kelemahan-kelemahan lain. Untuk mobil tenaga hidrogen dan biogas dari methana, stasiun pengisian bahan bakarnya masih sangat terbatas, di Indonesia pun mungkin belum ada, dan baru ada dinegara-negara produsen mobil-mobil tersebut. Untuk energi biofuel dan biodiessel sebenarnya semua mobil bensin dan solar dapat dimodifikasi untuk penggunaan energi ini, tetapi jumlah produksi untuk bahan bakar jenis ini masih sangat terbatas.
Baru-baru ini, untuk menekan jumlah pemakaian BBM, seorang guru SMA di Kota Palu Sulawesi Tengah juga berinovasi dengan memodifikasi motornya supaya dapat berjalan menggunakan bahan bakar air dan bensin, dengan perbandingan 4:1 (empat liter air dan satu liter bensin), dan terbukti dapat berjalan, tetapi pemerintah belum mematenkan penemuannya ini. Seorang penemu lain dari Kota Nganjuk juga menemukkan bahwa air dapat digunakan sebagai pengganti bensin dan solar yang diberinama ”banyugeni”, tetapi penemuannya ini masih mengundang kontroversi dari berbagai pihak.
Seharusnya pemerintah dan masyarakat harus terus mendorong mengenai penemuan-penemuan dan pengembangan pemanfaatan energi lain sebagai upaya mengganti BBM minyak bumi, untuk keberlanjutan dimasa yang akan datang.
Langkah terbaik yang dapat kita lakukan sekarang untuk menekan jumlah pengeluaran akibat penggunaan BBM adalah dengan cara berhemat energi. Ada berbagai banyak cara dilakukan untuk menekan konsumsi BBM di kendaraan kita. Salah satunya adalah dengan merawatnya dengan benar kondisi kendaraan yang kita pakai sehari-hari, selalu melakukan service secara berkala, mengendarai kendaraan dengan santun dan sopan di jalan raya, berkendara sesuai dengan rencana tujuan yang kita tuju, tidak usah selalu menggunakan gas besar untuk memacu kendaraan, bila memungkinkan dapat dicapai dengan jalan kaki, kenapa harus pake mobil.
Harapan saya, semoga secepatnya ada energi alternatif lain yang dapat digunakan secara masal dengan harga murah dan terjangkau, atau bahkan gratis diperoleh dan diproduksi oleh masyarakat sendiri sebagai pengganti BBM dari minyak bumi. Supaya saya dan saudara tidak berbau minyak lagi.













