Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Januari 2014

Akhirnya Aku punya Biogas Sendiri

Diawal tahun 2014 ini kita dikejutkan dengan naiknya harga gas  LPG  ukurang 12 Kg yang semula harga di pasaran antara Rp. 75.000 - RP. 80.000, Kemudian naik secara tiba-tiba pada 1 Januari 2014 ini menjadi Rp.130.000 sampai Rp.140.000,-. Tentu saja hal ini membuat masyarakat yang biasa menggunakan gas ukuran 12 Kg, dulu termasuk orang tua saya  pasti akan menjerit dengan kenaikan harga gas yang selangit itu. Efek dominonya sudah pasti mengikuti, makan di warteg yang biasanya seporsi hanya Rp.9000,- bisa-bisa naik hingga Rp.15.000 atau Rp.17.000,-/ porsi. Bisa bangkrut lah kami anak kost-kostan.
 
Untungnya, dengan kenaikan harga LPG yang masih pro dan kontra di kalangan pimpinan Pertamina, Kementrian BUMN hingga sampai Presiden tersebut, keluarga kami sudah tidak terlalu ambil pusing lagi dengan kenaikan harga BBM LPG tersebut. Karena, sejak akhir Agustus tahun lalu, keluarga kami sudah memensiunkan dua tabung LPG ukuran 12 Kg dan beralih kepada pemanfaatan energy alternatif Biogas yang sangat murah dan efisien. Bahkan setiap hari, kami mendapatkan gas gratis yang berasal dari limbah peternakan sapi milik Bapak saya, yang digunakan masak oleh ibu saya.
 
Awal mula kami berinisiatif membuat biogas, karena didorong oleh rasa kekawatiran akan krisis energy yang menurut oleh banyak ahli diprediksi pada beberapa tahun kedepan, dunia akan mengalami krisis energy secara global yang mengakibatkan harga BBM yang berasal dari fosil akan menjadi langka dan harganya semakin mahal. Itu sudah terbukti, karena hampir setiap tahun harga BBM pasti mengalami kenaikan, dan diawal tahun ini juga kita juga dikagetkan dengan kenaikan harga LPG. Jadi pilihan pemanfaatan energy alternatif adalah langkah yang tepat, yang dapat ditempuh oleh semua orang, untuk tidak bergantung lagi pada energy hasil eksploitasi seperti LPG dan lain-lain.
 
Selain karena pertimbangan kekawatiran akan krisis energy tersebut, pertimbangan lain adalah karena faktor lingkungan. Keberadaan kandang sapi yang ada di halaman belakang rumah, tentu saja mengakibatkan pencemaran lingkungan. Karena kotoran sapi mengakibatkan bau yang tidak sedap, serta banyak lalat yang dapat membawa bibit penyakit serta pemandangan yang juga tidak layak dipandang mata karena tumpukan kotoran sapi tersebut. Sehingga dengan adanya Biogas, kotoran tersebut bisa langsung dimasukkan kedalam digester yang tertutup, sehingga tidak menimbulkan bau dan sudah tidak menjadi berkumpulnya lalat, dan lingkungan menjadi bersih dan sehat.
 
Memang biaya investasi yang kami keluarkan untuk membuat digister biogas ini tidaklah murah. karena ukuran digister yang kami buat pun relatif cukup besar, yaitu yang berkapasitas 12 kubik, dengan struktur bangunan dari beton. Sebenarnya untuk membuat digister biogas dengan biaya yang murah pun bisa dilakukan, dengan bahan-bahan yang lebih sederhana seperti menggunakan drum bekas, tong atau bak penampung air yang besar atau menggunakan plastik. Tapi tentu saja, kualitasnya tidak terjamin dan jangka waktu penggunaannya sangat terbatas, karena belum tentu bahan-bahan itu bisa bertahan hingga puluhan tahun. Tapi jika menggunakan struktur beton, niscaya digister tersebut bisa bertahan hingga puluhan tahun, asal digunakan secara benar dan tidak ada musibah seperti gempa bumi yang dapat merusak struktur beton tersebut.
 
Untuk gambarannya, berikut adalah digister yang kami punyai dirumah.
 
 
 
Sebelum ada biogas, kondisi lingkungan di sekitar kandang sapi kami, begitu sangat kotor dan kumuh. Karena tidak ada tempat khusus untuk menampung kotoran sapi tersebut.



 Proses Penggalian tanah dengan bentuk melingkar, jari-jari lingkarannya disesuaikan dengan ukuran yang dikehendaki. Untuk ukuran diatas jari-jari lingkarannya adalah 4 meter, dengan kedalaman kurang lebih 2 meter.




Proses pembuatan kubah digister. Setelah pondasi awal sudah jadi maka dibuatlah kubah digister yang berbentuk seperti kubah masjid, dengan sistem di cor beton tanpa rangka besi.


Setelah kubah sudah jadi, maka dibuat kotak outlet untuk menampung pembuangan slurry limbah biogas. 

 Pipa yang nampak keluar itu adalah untuk tempat masuknya kotoran, yang disebut inlet, yang nantinya akan dihubungkan dengan mixer.

Ini adalah mixer untuk mencampur kotoran sapi dan air, dengan perbandingan 1:1 sebelum dimasukkan kedalam digister biogas melalui pipa inlet.


Penampakan setelah mau jadi adalah seperti foto tersebut diatas. ada mixer untuk tempat masuk kotoran, kemudian digister untuk mengolah kotoran menjadi gas methan, lalu kotak outlet untuk menampung slurry atau limbah biogas, yang sangat ampuh di manfaatkan sebagai pupuk organik.


Setelah semuanya selesai, maka penampakannya adalah seperti diatas. Bangunan kotak yang nampak itu adalah kotak penampung slurry setelah kotak outlet yang telah ketutupan di timbun tanah, begitu pula dengan kubah digisternya yang telah tertutup tanah, yang nampak hanya pipa gas dan kran serta kontrol air, kemudian yang paling ujung tampak mixer yang di hubungkan dengan selokan langsung dari kandang, sehingga memudahkan dalam memasukkan kotoran sapi kedalam digister.


Pipa dari digister biogas, disaambungkan langsung menuju dapur tempat ibu saya beraktifitas memasak, dan inilah api yang berasal dari kotoran sapi kami. Tidak kalah biro dengan api dari LPG kan...???
 
Semoga sherring ini bermanfaat, dan dapat memotifasi para pembaca untuk membuat dan memanfaatkan energy alternatif yang ada disekitar kita, untuk kehidupan yang lebih baik.
"Let's using green energy"

Kamis, 10 Januari 2013

SEHARUSNYA DUNIA INDUSTRI BELAJAR DARI TRAGEDI MINAMATA


PENGANTAR

Harapan akan adanya aktivitas Industrialisasi yang ramah lingkungan, nampaknya menjadi impian banyak orang di saat ini. Dengan perubahan iklim yang semakin dratis, udara yang kotor, air yang keruh dan bau, menandakan akan perubahan keseimbangan alam yang semakin tidak nyaman lagi bagi kehidupan manusia. Berbagai macam bahan polutan berbahaya akibat akitivitas industri, tanpa kita sadari merasuki tubuh kita melalui udara yang kita hirup, air yang kita minum maupun makanan yang kita makan. Semua seakan menuju pada satu titik, yaitu “kehancuran”. Aktivitas industri, merupakan bagian dari salah satu olah budaya manusia dalam mencapai kehidupannya yang lebih baik, dan sampai pada titik ini tidak ada sesuatu yang perlu disalahkan. Namun terkadang, para kapital sebagai kelompok yang mampu menjalankan roda industrialisasi,  dengan berbagai macam alasan untuk mencapai tingkat keuntungan yang diinginkannya, menjalankan aktivitas industrinya selalu berkecenderungan untuk semakin merusak alam. Baik melalui kegiatan eksplorasinya dengan mendapatkan bahan baku yang didapat dari alam, maupun dengan efek sampingnya berupa polutan yang dihasilkan dari aktivitas industri yang dapat mencemari udara, air dan tanah yang merupakan tiga bagian vital dalam kehidupan manusia dan maklhuk hidup lain.
Tulisan ini merupakan salah satu tugas dari mata kuliah Sustainable Development, yang diminta oleh dosen pengampu untuk mengkaji dan mentelaah dampak aktivitas industri yang berkontribusi pada kerusakan lingkungan dan mengakibatkan bencana bagi umat manusia. Dengan mengacu dari tugas bacaan dari buku Tragedi Minamata yang ditulis oleh Harada Masazumi, penulis akan membagi menjadi tiga bagian penulisan dari tugas ini. Pertama; memaparkan dengan singkat review buku Tragedi Minamata dari Harada Masazumi, mengapa penyakit itu bisa terjadi?, apa masalahnya dan apa sebabnya?; Kedua: Analisa kasus dampak industri di Indonesia, dengan contoh kasus bencana ekologi teluk Buyat dan luapan lumpur Lapindo, mengapa mereka tidak belajar dari tragedi Minamata, dan bagaimana arah kebijakan pemerintah kita pada konsep industri berbasis lingkungan?; Ketiga: Landasan filosofi etis apa yang seharusnya dipakai dalam bidang industrialisasi untuk pembangunan berkelanjutan.
Topik ini mendiskripsikan bagaimana industrialisasi yang merupakan bagian dari aktivitas manusia itu dapat mengubah tatanan alam, yang berdampak buruk pada kehidupan manusia itu sendiri. Kemudian bagaimana seharusnya dilakukan untuk menunjang konsep Pembangunan Berkelanjutan.

TRAGEDI MINAMATA

Tahun 1950 an, Jepang dihentak oleh kasus ditemukannya  penyakit aneh yang menyerang warga yang tinggal di sekitar perkampuangan nelayan yang berada di sepanjang pesisir teluk Minamata. Penyakit yang diderita ribuan warga tersebut gejala utamanya adalah bersifat Neurologik, atau gangguan pada sistem sensorik, dimana pasien mengalami kesulitan menggerakan kaki dan tangan-tangannya sehingga susah untuk berjalan dan memegang sesuatu, karena terjadi nyeri pada lutut dan jari-jarinya, susah untuk berbicara dan susah untuk menelan,  menurunnya fungsi koordinasi, bentangan pandang yang menyempit, tampak pucat dan mengalami susah tidur  serta  mengalami kejang-kejang.
Kejadian ini mengundang keprihatinan berbagai kalangan dan menjadi pekerjaan besar dari banyak ahli dalam mengungkap asal muasal penyebab yang dapat menimbulkan penyakit aneh yang diderita oleh ratusan warga tersebut. Karena rata-rata korban atau pasien penyakit ini hanya ditemukan di sekitar teluk Minamata, maka penyakit aneh tersebut diberi nama penyakit Minamata.
Harada Masazumi, seorang guru besar dari Depertemen Kesejahteraan Sosial Universitas Gakuen Kumamoto Japan, merupakan salah satu dari para peneliti yang melakukan kajian penelitian yang mengungkap penyebab terjadinya penyakit Minamata tersebut. Dalam bukunya “Tragedi Minamata” yang diterbitkan tahun 1972, dan telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia edisi cetakan tahun 2005, Ia memaparkan secara gamblang bagaimana tragisnya derita para korban pengidap penyakit Minamata yang diakibatkan keserakahan para kapital dalam menjalankan roda bisnisnya untuk mengeruk keuntungan, tanpa memikirkan dampak terhadap lingkungan disekitarnya, yang berefek pada timbulnya suatu penyakit baru yang tidak ada cara atau metode pengobatannya, dan berujung pada kematian kepada mereka yang tak berdosa.  

 Penyebab Penyakit Minamata
Masyarakat Jepang pada umumnya adalah masyarakat pengkonsumsi ikan nomer satu dunia, dan mereka mempunyai cara terbaik untuk menikmati hasil tangkapan laut tersebut, yaitu dengan memakannya secara mentah, atau dibuat sasimi, tanpa melalui proses dimasak. Begitu pula bagi masyarakat yang tinggal di sekitar teluk Minamata, yang sebagian besar diantaranya adalah bermatapencaharian sebagai nelayan dan semua masyarakatnya adalah pengkonsumsi ikan yang ditangkap di sekitar teluk tersebut.
Kota Minamata sendiri adalah merupakan kota industri, disitu berdiri sebuah pabrik kimia terbesar di Jepang dengan nama perusahaan Shin Nihon Chisso Hiryo Kabushik Kaisha, atau New Japan Nitrogenous Fertilizaers, Inc, atau terkenal dengan nama Chisso. Perusahaan ini mulai beroprasi sejak tahun 1908, dan tahun 1909 perusahaan ini memiliki hak paten untuk memproduksi pupuk nitrigenus dengan menggabungkan kalsium karbid dengan nitrogen atmosforik, yang kemudian dikembangkan pada satu perusahaan elektro kimia dengan skala besar. Seiring pesatnya kemajuan perusahaan, Chisso memperluas oprasinya untuk memproduksi juga sintesis amonia, produksi kalsium karbid dari asetelin, asetaldehida dan asam asetat, resin vinil klorida dari asetilen, sintesis oktanol dari asetaldehida dan masih banyak lagi, sehingga Chisso merupaka pabrik kimia paling maju di Jepang, sebelum atau sesudah PD II.
Namun pabrik sebesar Chisso ini tidak mempunyai sistem pengelolaan limbah yang memadai, sehingga semua limbah-limbah kimia, hasil indurstri yang beracun tersebut hanya dibuang langsung begitu saja melalui pipa-pipa pembuangan ke laut yang bermuara di teluk Minamata tanpa proses penetralisir limbah. Tak pelak, berbagai ekosistem yang mendiami teluk Minamata semua tercemar.
Beberapa ikan dikabarkan mati mengapung, rumput laut tidak bisa bertumbuh dengan baik dan berubah warna menjadi putih, kerang-kerang pun mati membusuk dan hasil tangkapan nelayan menurun dratis. Ikan-ikan dan berbagai ekosistem yang masih bertahan hidup dan tinggal di teluk tersebut ternyata telah menyesuaikan diri dengan lingkungannya yang tercemar tersebut, namun sangat berbahaya untuk dikonsumsi, karena dagingnya mengandung mercuri organik, yang merupakan limbah dari perusahaan Chisso dan menjadi penyebab dari penyakit Minamata ini.
Awal mula, orang-orang tidak tahu jika ikan-ikan hasil tangkapan para nelayan tersebut sangat berbahaya jika dikonsumsi. Namun sejak penyakit Minamata diketemukannya secara resmi pada tahun 1956 dari salah seorang pasien pertama yang dibawa pada Bagian Anak Rumah Sakit Perusahaan Chisso, dan pasien-pasien lain yang menyusul dengan gejala yang sama seperti yang telah disebutkan diatas. Maka setelah banyak penelitian yang dilakukan oleh para ahli, mereka menyimpulkan bahwa ikan dan semua hasil laut yang mereka tangkap di perairan teluk Minamata, dan mereka konsumsi sehari-hari inilah yang mengakibatkan penyakit aneh yang diderita oleh masyarakat disana.

Bantahan Perusahaan Chisso
Setelah diketahui bahwa ikan dan kerang yang ditangkap di perairan teluk Minamata ini telah tercemar oleh limbah dari  pabrik Chisso, dan menyebabkan penyakit Minamata. Namun perusahaan ini membantah, bahwa limbahnya menjadi penyebab penyakit Minamata tersebut. Berbagai upaya dilakukan oleh pihak perusahaan untuk berkelit dari tanggung jawab yang harus mereka emban. Sebelumnya perusahaan hanya memberi kompensasi berupa uang simpati kepada warga. Namun perusahaan terus menyangkal dari tuduhan banyak ahli yang telah banyak melakukan penelitian tentang penyakit Minamata yang menyatakan limbah pabrik kimia inilah yang menjadi penyebab penyakit tersebut. Namun pihak perusahaan Chisso beralasan bahwa ada banyak perusahaan seperti ini di Jepang, tapi kenapa hanya Chisso saja yang disalahkan. Sebelum benar-benar diketemukan secara pasti penyebab penyakit Minamata ini yang dapat dibuktikan secara ilmiah, pihak Chisso belum mau bertanggung jawab dan menghentikan pembuangan limbah ke teluk Minamata.  
Para peneliti dibawah Kementrian Kesehatan Masyarakat Jepang, yang kelompok penelitinya berasal dari Fakultas Kedokteran Universitas Kumamoto terus melakukan upaya keras untuk mencari sedetil-detilnya penyebab penyakit Minamata ini, mereka menganalisis satu persatu korban dengan menelusuri apa saja yang dikonsumsi, dan apakah penyakit tersebut adalah penyakit turunan atau kutukan. Selain melakukan penelitian dari para korban, mereka juga melakukan penelitian tentang air, lumpur, ikan dan kerang yang ada di sekitar teluk Minamata. Mereka juga melakukan berbagai percobaan dengan menggunakan kucing dan tikus yang diberikan makanan dari ikan yang ditangkap di perairan teluk Minamata, hasilnya kucing-kucing dan tikus-tikus tersebut menjadi gila lalu mengalami kejang-kejang dan akhirnya mati.
Berbagai teori yang diungkapkan  oleh para ahli untuk menyimpulkan penyebab penyakit Minamata ini, masih bisa dibantah oleh perusahaan Chisso, namun pada akhirnya para ahli menyimpulkan bahwa terdapat kadar kandungan  merkuri yang cukup tinggi yang ditemukan dalam lumpur yang diambil  di dasar teluk di sekitar pembuangan limbah dan diketemukan juga kandungan merkury tersebut pada ikan dan kerang  yang tercemar, serta pada rambut si penderita. Akhirnya mereka mengambil kesimpulan, larutan merkuri yang ikut terbuang dalam limbah perusahaan inilah yang mengakibatkan penyakit tersebut.
Kemudian tanggal 12 November 1959, anggota Komite Dewan Investigasi Makanan dan Sanitasi Kementrian Kesehatan dan Kesejahteraan memaparkan laporannya kepada menteri, yang menyatakan bahwa “Penyakit Minamata adalah suatu penyakit keracunan yang utamanya mempengaruhi sistem saraf pusat akibat mengkonsumsi ikan dan kerang-kerangan dari teluk Minamata dan sekitarnya dalam jumlah banyak, dimana agen penyebabnya adalah semacam campuran merkuri organik”.

Sikap Pemerintah Yang Melindungi Perusahaan.
Meski sudah diketahui secara gamblang tentang penyebab dari penyakit Minamata ini, seperti yang dikemukakan oleh Tim Survey Penyakit Minamata/Keracunan Makanana dari Dewan Investigasi dan Sanitasi, dengan memberikan laporan pada menteri, namun hari berikutnya yaitu tanggal 13 November, tim survey tersebut malah dibubarkan oleh Kementrian Kesehatan dan Kesejahteraan, alasanya karena adanya tarik menarik kewenangan dalam mengangani kejadian ini. Sehingga  membuat Rektor Universitas Kumamoto Wanaguchi dan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Kumamoto Sera, yang merupakan bagian dari tim peneliti menjadi marah atas pembubaran tersebut, mengingat korban akan terus berjatuhan dan perusahaan terus melakukan oprasinya, dan tidak mengizinkan tim peneliti untuk mengambil sampel limbah secara langsung di dalam pabrik.
Kejadian ini menggambarkan Pemerintah setempat tidak serta merta segera mengambil tindakan untuk menghentikan pencemaran dari perusahaan tersebut, bahkan mereka seakan-akan melindungi perusahaan ini. Untuk meredam berkecamuknya dinamika yang terjadi di masyarakat, karena dianggap mencemari teluk Minamata, Perusahaan Chisso malah mengubah jalur pembuangan limbahnya ke sungai Minamata. Bukannya meminimalisir masalah namun semakin menambah masalah baru, karena dengan dibuangnya limbah pabrik ke sungi minamata maka semakin meluaslah dampak pencemaran yang ditimbulkan dari hasil pencemaran perusahaan tersebut. Beragagam ekosistem ikan air tawar dari sungai Minamata juga mati, dan yang bertahan hidup pun juga berbahaya untuk di konsumsi, sehingga korban penyakit Minamata juga semakin bertambah dan meluas. Meluasnya dampak pencemaran ini telah menyerang  dua provinsi di Jepang yang berada di pesisir teluk Minamata yaitu Provinsi Komamoto dan Provinsi Koghosima yang ribuan warganya teridentfikasi mengidap penyakit Minamata.

Derita Para Korban
Berbagai upaya untuk mencegah warga menangkap dan mengkonsumsi ikan diperairan itu pun menjadi agak susah, karena sudah menjadi kebiasaan sehari-hari mereka untuk mengkonsumsi ikan, dan bagi nelayan tidak ada pilihan lain selain harus menangkap ikan lagi di perairan tersebut, karena harus terus menghidupi keluarganya dari hasil tangkapannya. Namun yang lebih memprihatinkan  adalah, selain hasil tangkapannya sudah sangat menurun akibat pencemaran tersebut, ikan yang mereka tangkap pun sudah tidak laku lagi di jual dipasar. Sehingga keadaan ekonomi mereka semakin memprihatinkan.
Bagi si penderita penyakit Minamata sendiri, mereka juga mendapat diskriminasi di lingkungan masyarakatnya.  Mereka seakan dikucilkan dari lingkungannya, karena penyakit ini dianggap penyakit menular atau merupakan penyakit kutukan. Anggota keluarga yang lain, merasa malu jika ada salah seorang dari anggota keluarganya yang mengidap penyakit Minamata, karena gejala yang nampak dari si penderita adalah seperti orang yang sakit mental atau ideot.
Disamping itu, perhatian pemerintah saat itu masih kurang, hak-hak para korban yang seharusnya mendapat kompensasi yang layak dari perusahaan akibat kerugian yang ditimbulkan dari pencemaran industrinya, tidak juga dipenuhi oleh perusahaan. Bahkan perusahaan membuat semacam perjanjian untuk memberikan kompensasi kepada para korban, namun isinya lebih banyak memberikan keuntungan bagi perusahaan, sedangkan masyarakat tidak punya kekuatan yang bisa menuntut lebih hak-hak mereka.
Campur tangan pemerintah pusat juga terkesan lamban dalam menangani para pasien dan dalam menghadapi kekuatan kapital yaitu persuaan Chisso. Beruntung seiring berjalannya waktu, banyak karyawan dari Chisso sendiri merasa prihatin dengan para korban, dan akhirnya mereka menuntut pihak menejemen untuk bertanggung jawab kepada para pasien.

Penyakit Minamata Bawaan
Menurut para ahli yang tergabung dalam tim peneliti penyakit Minamata dari Universitas Kumamoto, untuk menentukan gejala yang diidap pasien dari awal cukup sulit, karena perubahan yang terjadi pada pada pasien membutuhkan waktu yang cukup lama, namu jika gejala itu sudah nampak dan dan terlihat secara fisik, maka perubahan yang terjadi pada pasien akan begitu cepat terlihat.  Jika yang menderita adalah seorang pasangan yang akan mempunyai anak, maka pada seorang ibu yang sudah terkontiminasi merkuri melalui makanan yang ia konsumsi juga akan berpengaruh pada janin yang ada dalam kandungannya. Ketika bayi itu lahir, biasanya secara fisik bayi yang dilahirkan tersebut mempunyai fisik yang tidak normal. Oleh sebab itulah, penyakit yang diakibatkan oleh polusi atau pencemaran ini sangat berbahaya bagi kehidupan manusia dan kehidupan makhluk hidup lain.

Arah Kebijakan Pemerintah Jepang Setelah Tragedi Minamata
Pengusutan kasus tragedi Minamata ini cukup panjang, sejak awal mula ditemukan secara resmi tahun 1956 dan baru bisa diperadilkan sekitar tahun 1970-an. Itu pun dengan berbagai dorongan dan desakan dunia internasional supaya kasus tersebut di usut secara tuntas. Setelah peristiwa tersebut, pemerintah Jepang menerapkan kebijakan baru untuk aktivitas industrialisasi dan melakukan pengawasan dan kontrol yang sangat ketat tentang pembuangan limbah industri yang dapat berdampak pada pencemaran lingkungan. Serta menindak dengan tegas apabila masih ada perusahaan yang masih nakal dan mengabaikan kebijakan pemerintah tersebut, dan meminta industri-industri  yang  menggunakan air raksa dan merkuri untuk bahan baku produksinya, untuk diganti dengan dengan bahan baku lain yang lebih aman bagi kesehatan dan lingkungan disekitarnya, supaya kejadian tragedi Minamata ini tidak terjadi lagi di Jepang.
Dengan diberlakukan kebijakan tersebut, saat ini Teluk Minamata menjadi teluk terbersih dan aman bagi kehidupan manusia dan ekosistem didalamnya. Begitu pula untuk kawasan-kawasan industri lain di Jepang, yang lebih mengedepankan teknologi ramah lingkungan untuk pengembangan industrinya.


[1] Sebuah revew buku Tragedi Minamata karya Harada Masazumi
[2] Mulai dari teori Thallium, teori Selenium, Teori Mangan, dan teori kontaminasi ganda yang mulanya dicurigai sebagai penyeban penyakit Minamata.

Rabu, 15 Oktober 2008

Urus SIM, Calo liar diusir, diganti "Calo berseragam".


Sebagai warga negara yang baik, tentunya wajib mentaati peraturan undang-undang yang berlaku. Terutama dalam hal ini adalah peraturan lalu lintas yang menunjukan setiap pengendara kendaraan bermotor wajib mempunyai SIM (Surat Izin Mengemudi). Karena saya sudah mahir mengendarai mobil, tanpa harus ikut kursus mengemudi di tempat pelatihan mengemudi, sehingga saya tidak mempunyai sertifikat mengemudi, serta belum punya SIM. Mengendarai mobil tanpa mempunyai SIM, tentu saja melanggar undang-undang. Maka saya pun berniat untuk mengurus SIM A sebagai syarat mengendarai kendaraan bermotor roda empat pribadi.


Setelah meminta surat keterangan domisili dari kantor Lurah setempat, maka saya segera menuju kantor Polres Minahasa Utara yang ”katanya” pengurusan SIM disana lebih murah, dibanding dengan di Manado.


Hari itu Rabu, 8 Oktober 2008, saya bersama teman yang juga akan mengurus perpanjangan SIM, dan saya SIM A baru, sama-sama berangkat ke Polres Minut. Tampak terpampang dengan jelas, informasi pengurusan SIM seperti bagan prosedure atau tahap-tahap yang harus dilewati dalam mengurus SIM yang di pasang di tembok ruangan depan loket pengurusan. Disitu juga di tempel dengan tulisan yang sangat jelas, sebuah informasi yang berisi ”Urus SIM jangan lewat calo, SIM baru : Rp. 75.000,- dan SIM perpanjangan : Rp. 60.000,-” yang ditempel di kaca loket pengurusan SIM.


Karena kami datang sudah agak siang, maka kami hanya sekedar tanya-tanya informasi tentang syarat-syarat dan biaya yang harus kami keluarkan dalam mengurus SIM tersebut, lagi pula saat itu kami belum membawa berkas-berkas seperti pas foto sebagai salah satu syarat yang harus disertakan. Kami pun bertanya pada salah satu petugas yang berjaga di dalam loket tersebut, dia katakan bahwa untuk SIM baru, biayanya Rp. 75.000,- lalu dia bertanya ”sudah ada sertifikat mengemudi ?”, saya jawab ”belum punya, karena saya tidak ikut kursus mengemudi, hanya belajar sendiri”. Lalu saya juga bertanya, bagaimana cara mengurus sertifikat, dan berapa biayanya. Petugas tersebut pun menjelaskan ”untuk memperoleh sertifikat, dapat langsung dibeli disini dengan biaya Rp. 150.000,-” baiklah kalau begitu, besok saya akan datang kembali untuk melengkapi berkas-berkas persyaratannya.


Besoknya, Kamis, 9 Oktober 2008. Saya dan teman kembali lagi untuk mengurus SIM tersebut, dengan membawa sejumlah uang yang sudah saya perkirakan cukup untuk proses pengurusan SIM itu. Setelah sampai didepan loket, saya dipersilahkan dulu untuk melakukan pengambilan sidik jari, dengan membayar Rp. 10.000,-. Setelah itu saya kembali lagi ke loket, tetapi petugas menyuruh langsung untuk melakukan tes kesehatan, dan membawa surat keterangan kesehatan. Tempat melakukan tes kesehatan, berada di ruangan tersendiri di samping loket utama. Ada satu petugas disitu, tetapi ternyata saya tidak di tes kesehatan, meskipun disitu saya melihat ada peralatan untuk mengetes tensi darah, timbangan badan, tes warna untuk mata dan lain-lain, tetapi ternyata tidak dipergunakan. Saya hanya ditanya, berapa tinggi badan, berat badan, dan tanggal lahir. Setelah ia ketik, tidak sampai 5 menit, saya pun diharuskan membayar Rp.30.000,- untuk selembar kertas tersebut.


Kemudian saya membawa surat keterangan kesehatan tersebut, ke loket utama, lalu seorang bapak salah satu petugas tersebut menanyakan kembali, ”bapak belum ada sertifikat mengemudi ya?” iya jawabku. ”begini pak, untuk sertifikat harganya Rp.200.000,-”. Saya pun lantas terperanjat dan kaget, lho kok sudah berubah harganya, katanya kemaren saya datang kesini harganya Rp.150.000,- sekarang kok sudah dua ratus, bantahku. ”emmm.... kata siapa pak” tanya petugas itu. ”kata bapak (saya lupa namanya), yang kemaren ada disini, dan ibu itu pun tahu saya kemaren datang kemari (sambil menunjuk ibu, salah satu petugas disana)” petugas tersebut pun lantas terdiam.


Saya melihat mimik muka petugas tersebut agak kecut, lantas mereka mulai main mata satu dengan yang lain untuk mengadakan konspirasi kepada saya. Berkas saya pun tidak segera diurusnya, dan mendahulukan yang datang dibelakang saya. Kemudian dia (petugas), keluar dari loket menemui saya di ruang tunggu. Kemudian berbicara, sambil berbisik, ”mmm.... tentang administrasinya bagaimana pak?” dia tanyakan kepadaku, lantas saya jawab ”lho khan belum to pak, 75 ribu to?” tegasku, sambil menunjuk informasi biaya SIM yang dipasang di depan kaca loket. ”ahh... bukan, 200 ribu kalau mau cepat !!”, saya kembali terperanjat, ”lho lantas yang dipasang itu apa!!” tanyaku agak keras. ”dia pun lantas kasih solusi, oo... baik lah, kalau gitu bapak ikut tes aja ya.., itu prosedurnya”, (sambil dia menunjuk papan bagan prosedur pengurusan SIM). ”Oke, saya khan mau ikut prosedur resmi, khan disitu nda boleh pake calo” jawabku.


Kemudian dia menyodorkan soal tes kepada saya, yang sesuai dengan golongan SIM yang akan saya urus. Setelah memberikan soal dan lembar jawaban, saya pun mulai mengisi soal-soal yang jumlahnya sekitar 30 soal. Isinya tentang pengetahuan rambu-rambu lalu-lintas, prioritas penggunaan jalan, juga beberapa soal tentang pengetahuan teknis kendaraan. Setelah selesai saya kerjakan, lembar soal dan lembar jawaban, kembali saya serahkan kepada petugas tersebut. Setelah dia ”pura-pura koreksi” dengan mencoret beberapa jawaban yang dianggap salah, lantas kembali dia memanggil saya. ”Wahh... hampir aja pak, hampir bapak lulus. Bapak hanya benar 17 soal, dan salah 13 soal. Sedangkan standar untuk lulus harus benar 18 soal” katanya. Dilihat dari mimik mukannya, dan sorot matanya, saya tahu dia membohongi saya. Saya tahu, saya dapat mengerjakan soal-soal tersebut, sebenarnya dari awal saya sudah bisa membaca niatnya supaya saya, mengurus dengan cara menembak saja. Tetapi tidak saya lakukan. Dengan kekecewaan, saya pun terdiam sedikit lesu.


Lantas dia berkata”bagaimana pak, berarti bapak harus ikut tes ulang lagi, tetapi dua minggu lagi sesuai dengan peraturan. Tetapi sebenarnya kami bisa membantu sih pak, kalau bapak mau butuh cepat”, katanya. Saya pun berpikir, kalau mau cepat, berarti harus dengan cara ”menembak” (menyogok petugtas tersebut), tetapi uang saya sangat ngepas. Lagipula saya pun tidak mau untuk menembak. Lalu saya pura-pura tanya, ”emang berapa pak, kalau saya mau butuh cepat”, dia jawab, ”besok saja pak, bapak kembali kesini, soalnya ini sudah siang” katanya. Tetapi saya desak dia supaya menyebutkan nominal yang akan saya keluarkan, dia pun lantas menyebutkan sebesar Rp. 400.000,-. Dalam hati saya berkata, ”gila, masak dari Rp.75.000,- biaya SIM dan Rp. 150.000,- untuk sertifikat berubah naik menjadi Rp.400.000,-, peraturan dari mana ini”, gerutuku. Belum lagi ditambah biaya surat keterangan kesehatan Rp. 30.000,- dan administrasi sidik jari Rp. 10.000,-. Pelayanan mudah apa semacam ini.


Dengan perasaaan jengkel dan kecewa saya pun pulang, memang benar disitu tidak ada lagi calo-calo liar yang berkeliaran, tetapi ternyata semua petugas polisi yang ada di bagian administrasi pengurusan SIM disana ternyata sudah kong-kalikong untuk menjadi calo berseragam. Kebetulan, saat saya mau keluar meninggalkan kantor Polres, saya bertemu secara singkat salah seorang kenalan Polisi, yang bertugas di bagian Samsat yang katanya juga sebagai ajudan Kapolres Minut. Tetapi saya tidak sempat ngobrol saat itu juga, karena kelihatannya dia buru-buru mengantarkan komendannya. Saya pun lantas mencari nomer Hpnya pada salah seorang teman, orang Toraja satu daerah dengannya. Setelah mendapat nomernya, lantas saya telephon dia. Saya katakan bahwa, semua berkas saya sudah masuk, bisakah saya dibantu, dia bilang ”waduh, kalau sudah masuk berkas saya tidak bisa bantu banyak” katanya. Trus saya ceritakan tentang kejengkelan saya, tidak lulus tes, padahal saya tahu banyak yang benar. Dia jawab ”wah... kalo ikut tes, jarang yang ada diluluskan, dan rata-rata nda ada pengurus SIM yang diluluskan dalam tes tertulis”. ”Ooo... begitu ya...ternyata kelakuan para petugas-petugas itu, ”gerutuku. Besoknya, saya tidak kembali lagi kesana, mungkin saya akan coba untuk ikut tes berikutnya, dengan mengumpulkan bukti-bukti, yang dapat dipertanggung jawabkan. Apakah saya masih diperlakukan hal yang sama, atau sudah menggunakan prosedure yang benar.


Ternyata tidak hanya di jalan raya, citra Polisi yang mulia itu dinodai oleh para oknum-oknum petugas korup, dengan menilang mencari-cari kesalahan para pengendara yang sebenarnya, tidak melanggar aturan. Dan kalau kena tilang, para oknum Polisi itu lebih suka dengan cara ”KUHP” (Keluar Uang Habis Perkara), atau sering disebut dengan istilah ”cara damai”, daripada memberikan surat tilang. Di urusan administrasi pengurusan surat izin mengendara pun, mereka tak kurang akal untuk mencari peluang menguras dompet, warga negara yang hendak mematuhi peraturan dengan mengurus SIM, dengan mengusir calo-calo liar, supaya para putugas tersebut dapat merangkap menjadi calo.


Saya tidak tahu, dengan Polres-Polres didaerah lain, tetapi itu yang saya rasakan ketika hendak mengurus SIM di Polres Minahasa Utara, sungguh sangat mengecewakan dan memalukan citra polisi, yang sebenarnya dari sistemnya sudah baik, tetapi pelaksana sistemnya yang bobrok. Semoga para atasan, dapat mengehahui hal ini, dengan apa yang dilakukan oleh para bawahannya. Atau hal ini memang dibiarkan untuk dilakukan, supaya ada bagi hasil antara bawahan dan atasan. Semoga saja tidak.

Kamis, 14 Agustus 2008

SEMUA BERBAU MINYAK, MINYAK DAN MINYAK…..

Apasih yang tidak berbau minyak dalam hidup kita, pakaian yang kita gunakan pasti berbau minyak, makanan yang kita makan juga berbau minyak, kursi yang kita duduki juga berbau minyak, minuman yang kita minum pun juga jangan-jangan berbau minyak. Bahkan hampir semua yang kita temui dalam keseharian saudara dan saya pasti berbau minyak.

Tidak percaya...???!, coba anda buktikan.

Tanpa kita sadari, ”minyak” dalam hal ini adalah minyak bumi yang telah di proses menjadi BBM telah menjadi sumber energi utama dalam kehidupan manusia. Berbagai bentuk aktifitas manusia seakan selalu bergantung dengan yang namannya minyak, untuk memutar roda kehidupannya. Coba anda bayangkan seandainya pasokan minyak di seluruh dunia ini dihentikan, atau tidak usah teralu rumit lah kita berfikir tentang minyak dunia. Bayangkan saja apabila pasokan BBM di kota anda tiba-tiba mengalami keterlambatan pengiriman, misal sampai beberapa hari saja. Pasti seluruh kota akan kacau balau, dan semua saling menyalahkan.

Saya masih ingat ketika beberapa bulan yang lalu pasokan BBM khususnya untuk Sulawesi Utara mengalami keterlambatan. Dikarenakan kapal tanker yang memuat BBM dari Balikpapan, terlambat bersandar di depot Pertamina Bitung gara-gara cuaca buruk. Hampir di sejumlah SPBU kehabisan stok BBM, sedangkan antrian panjang kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar di beberapa SPBU hingga mencapai beberapa kilo meter. Banyak mobil atau motor karena kehabisan BBM, mogok di jalan. Supir angkota dan kendaraan umum tidak bisa berjalan dan mereka tidak punya pemasukan. Isu-isu mengenai BBM akan naik lagi pun mulai merebak. Lagi-lagi pemerintah yang jadi sasaran.

Kenaikan Harga BBM, sebuah momok yang sangat menakutkan.

Belum lama ini, sekita akhir bulan Mei 2008, lagi-lagi pemerintah menaikan lagi harga BBM. Anda mungkin salah satu orang yang tidak setuju tentunya dengan kebijakan tersebut. Dengan alasan harga minyak dunia sudah melambung tinggi, dan APBN sudah tidak mampu lagi mensubsidi untuk menekan harga minyak di pasar lokal, maka negara lewat Presiden SBY terpaksa mengeluarkan kebijakan tersebut. Anda lihat dampak yang terjadi bukan...? demo dimana-mana, harga-harga kebutuhan pokok juga ikut melambung tinggi, kehidupan pun akan semakin lebih susah.

Bahkan kalau tidak salah, salah satu pemicu kerusuhan Mei 1998 dan lengsernya Alm Soeharto dari tahtanya adalah kebijakkannya dalam menaikkan harga BBM. Dari konteks minyak ini pun saya dapat memberanikan diri mengatakan bahwa, siapapun pemimpinnya, siapapun Presiden yang terpilih pada pemilu tahun 2009, tak akan ada yang bisa menghindari dari polemik kebutuhan BBM untuk rakyat. Tak ada yang bisa menjamin harga BBM akan tetap stabil, jika nanti apabila ada salah satu kandidat presiden yang berjanji untuk tetap bisa menstabilkan harga BBM, saya yakin dan percaya dia adalah orang gila dan kurang waras dalam memperhitungkan konsekwensi-konsekwensi ambisinya. Sebab, mau tidak mau harga minyak akan terus naik dan naik, karena minyak yang kita konsumsi sehari-hari bukan berasal dari sesuatu yang dapat diperbaharui, dan kita tentunya sudah tahu semua bahwa minyak bumi berasal dari sisa-sisa pembusukan fosil hewan-hewan purba yang umurnya sudah berjuta-juta tahun terpendam dalam perut bumi. Jadi sangat tidak mungkin, kalau minyak bumi ini akan terus tetap ada di muka bumi ini, sebab proses untuk menjadi minyak mentah membutuhkan waktu yang sangat lama.

Sedangkan eksploitasi terus menerus dilakukan, demi memenuhi kebutuhan minyak yang terus meningkat. Bila dahulu beberapa puluh tahun yang lalu, mungkin ketergantungan terhadap minyak tidak begitu terasa. Karena jumlah kendaraan tidak sebanyak sekarang, industri tidak sepesat sekarang, dan energi alam lain seperti kayu bakar masih gampang dicari. Tetapi sekarang, coba lihat jalanan di sekitar tempat anda tinggal. Baik di kota maupun di desa, tingkat kepemilikan kendaraan semakin lebih tinggi, jalanan pun semakin lebih penuh dan ramai. Itu dikarenakan hampir di setiap rumah atau keluarga sekarang, rata-rata memiliki kendaraan bermotor, bahkan ada yang memiliki lebih dari satu. Disisi lain, produsen kendaraan pun semakin memberikan sistem kemudahan-kemudahan supaya masyarakat dapat lebih mudah lagi memiliki kendaraan bermotor, dengan cara pemberian kridit dengan bunga ringan. Rata-rata setiap hari kendaraan bermotor dapat mengkonsumsi BBM sekitar 2-60 liter atau bahkan lebih tergantung dari jarak tempuh pemakaian. Belum lagi dengan kendaraan-kendaraan yang sudah tidak normal sistem pembakarannya, akan semakin lebih boros lagi konsumsinya.

Disisi lain, bidang industri baik industri kecil maupun industri besar juga bergantung dengan energi minyak untuk menjalankan roda industrinya. Hampir semua mesin-mesin industri pasti menggunakan BBM minyak, industri makanan pun menggunakan enegi minyak (minyak tanah), semuanya mennggunakan minyak.

Itulah sebabnya, dalam paragraf pertama saya katakan bahwa semua berbau ”minyak”, dari pakaian, perabot yang kita gunakan, makanan bahkan juga minuman. Semua berbau minyak. Pakaian yang kita pakai, tidak tiba-tiba langsung kita beli dari pabrik, tetapi sudah menggunakan alat angkut dari pabrik menuju distributor di toko-toko atau di pasar-pasar menggunakan kendaraan (truk), begitu juga makanan, baik beras, sayur mayur, buah-buahan, air mineral dan sebagainya, semuanya menggunakan kendaraan yang mengkonsumsi BBM minyak untuk sampai ditempat kita. Sehingga semua berbau minyak.

Bagaimana supaya tidak berbau minyak....?

Dengan semakin berkurangnya kandungan minyak diperut bumi, dan melambungnya harga minyak dunia, serta semakin langkanya pasokan minyak tentunya harus dipikirkan alternatif-alternatif lain untuk menggantikan energi minyak bumi, yang telah populer kita gunakan selama ini. Saat ini, sebenarnya telah ditemukan dan sedang dikembangkan energi-energi alternatif lain sebagai pengganti dari minyak bumi, salah satunya adalah dengan biofuel atau biodiesel. Yaitu energi bahan bakar yang terbuat dari tumbuh-tumbuhan seperti biji jarak pagar yang dikembangkan menjadi bio disel, dan ubi atau sorgum yang dikembangkan menjadi etanol sebagai biofuel. Juga pemanfaatan energi matahari, sebagai solar sell untuk kendaraan, meskipun tidak seefesien BBM dari minyak bumi.

Produsen kendaraan pun juga sudah memunculkan inovasi-inovasi baru untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi, salah satunya dengan membuat mobil hibrida, yaitu mobil yang menggunakan perpaduan dua tenaga yang berbeda untuk menjalankannya. Yaitu dengan motor listrik yang dipasok energinya dari batray, yang dapat menchast secara otomatis atau manual, dan mesin bensin. Dalam kondisi jalan normal, motor listrik menggerakkan mobil, tetapi ketika jalan menanjak naik,mesin bensin secara otomatis akan hidup dan menopang gerak mobil. Sedangkan apabila jalan menurun, mobil akan menchast secara otomatis batray untuk motor listirknya.

Bentuk-bentuk energi lain yang dikembangkan oleh produsen mobil antara lain mobil dengan bahan bakar hidrogen, mobil listrik, mobil dengan bahan bakar methana, mobil dengan bahan bakar bio energi dan lain-lain. Tetapi untuk saat ini mobil-mobil tersebut masih terbatas jumlahnya, dan masih banyak mengalami kendala. Salah satunya adalah untuk mobil tenaga listrik, tenaga dan jarak tempuhnya tidak sehandal mobil berbahan bakan minyak, dan masih banyak kelemahan-kelemahan lain. Untuk mobil tenaga hidrogen dan biogas dari methana, stasiun pengisian bahan bakarnya masih sangat terbatas, di Indonesia pun mungkin belum ada, dan baru ada dinegara-negara produsen mobil-mobil tersebut. Untuk energi biofuel dan biodiessel sebenarnya semua mobil bensin dan solar dapat dimodifikasi untuk penggunaan energi ini, tetapi jumlah produksi untuk bahan bakar jenis ini masih sangat terbatas.

Baru-baru ini, untuk menekan jumlah pemakaian BBM, seorang guru SMA di Kota Palu Sulawesi Tengah juga berinovasi dengan memodifikasi motornya supaya dapat berjalan menggunakan bahan bakar air dan bensin, dengan perbandingan 4:1 (empat liter air dan satu liter bensin), dan terbukti dapat berjalan, tetapi pemerintah belum mematenkan penemuannya ini. Seorang penemu lain dari Kota Nganjuk juga menemukkan bahwa air dapat digunakan sebagai pengganti bensin dan solar yang diberinama ”banyugeni”, tetapi penemuannya ini masih mengundang kontroversi dari berbagai pihak.

Seharusnya pemerintah dan masyarakat harus terus mendorong mengenai penemuan-penemuan dan pengembangan pemanfaatan energi lain sebagai upaya mengganti BBM minyak bumi, untuk keberlanjutan dimasa yang akan datang.

Langkah terbaik yang dapat kita lakukan sekarang untuk menekan jumlah pengeluaran akibat penggunaan BBM adalah dengan cara berhemat energi. Ada berbagai banyak cara dilakukan untuk menekan konsumsi BBM di kendaraan kita. Salah satunya adalah dengan merawatnya dengan benar kondisi kendaraan yang kita pakai sehari-hari, selalu melakukan service secara berkala, mengendarai kendaraan dengan santun dan sopan di jalan raya, berkendara sesuai dengan rencana tujuan yang kita tuju, tidak usah selalu menggunakan gas besar untuk memacu kendaraan, bila memungkinkan dapat dicapai dengan jalan kaki, kenapa harus pake mobil.

Harapan saya, semoga secepatnya ada energi alternatif lain yang dapat digunakan secara masal dengan harga murah dan terjangkau, atau bahkan gratis diperoleh dan diproduksi oleh masyarakat sendiri sebagai pengganti BBM dari minyak bumi. Supaya saya dan saudara tidak berbau minyak lagi.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...