Jumat, 30 September 2011

Biogas, Sumber Energy Alternative Dari Limbah Kotoran Kita.

Pernahkah terbayangkan jika sajian masakan istimewa, yang dimasak oleh seorang cheef terkenal dari sebuah restoran mewah, lalu disajikan di hadapan kita. Ternyata dimasak dengan menggunakan api yang berasal dari kotoran manusia, atau kotoran hewan ?

Mungkin sebagian dari kita masih merasa jijik, jika mengetahui asal muasal sumber api tersebut. Namun pada dasarnya, api yang berasal dari kotoran kita, atau kotoran hewan dengan api yang berasal dari gas Elpigy yang biasa kita kenal selama ini, itu hampir sama. "Sama-sama gas, sama-sama dapat menghasillkan api yang berwarna biru, dan jika dibuka gasnya tanpa dibakar akan sama-sama bau, yang baunya hampir sama tidak enaknya". Perbedaannya adalah, jika gas Elpigy harganya mahal, diambil melalui proses penambangan dari dalam pertu bumi, kemudian pemasarannya dimonopoli oleh "Pertamina". Namun jika Biogas, harganya sangat murah bahkan bisa gratis....tiss...tisss, proses eksploitasinya cukup dengan nongkrong di WC yang tiap hari kita lakukan dan tinja atau kotoran yang kita hasilkan ditampung dalam sebuah reaktor/digester, maka dari digister itulah dihasilkan biogas untuk memasak makanan kita. hmmm..... yuummyyy.... bukan..??!!


Ya.... biogas adalah salah satu alternative sumber energy terbarukan, yang ramah lingkungan, cukup ekonomis dan efisien. Biogas dihasilkan dari proses fermentasi dari limbah-limbah organik seperti kotoran hewan ternak, limbah industri pengolahan hulu kopi atau kakao, atau limbah pabrik tahu, termasuk kotoran kita manusia, pokoknya limbah-limbah yang mudah terurai oleh microba. Limbah organik tersebut, sebelumnya ditampung dalam sebuah digester atau semacam spettank khusus, seperti pada foto diatas, (itu merupakan digister biogas yang dimiliki oleh Puslit Kopi dan Kakao Jember Jawa Timur, untuk mengolah limbah pengolahan kopi dan kakao menjadi biogas). Didalam degister tersebut, limbah organik tersebut akan mengalami proses kimiawi, dengan dibantu oleh microba-microba pengurai dalam waktu beberapa hari hingga mengalami pembusukan. Nah proses pembusukan tersebut akan menghasilkan gas, yang disebut sebagai "gas metan". Gas metan ini akan naik memenuhi kubah dari digister, dari kubah digister tersebut kemudian gas metan dialirkan melakui pipa atau selang langsung ke kompor masak. Maka jadilah sebuah sumber energy yang murah meriah, ekonomis, praktis, dan ramah lingkungan.

Kotoran dari peternakan sapi seperti diatas, adalah merupakan berkah tersendiri apabila dipadu dengan pemanfaatan biogas sebagai sumber energi alaternatif. (foto saya ambil di kandang Pakde Bejo, saudara saya di desa Kauripan Bagelen Kab. Purworejo pada beberapa bulan lalu). Karena dari kotoran sapi yang dihasilkan tiap harinya dari peternakan sapi ini, akan menghasilkan biogas yang jumlahnya cukup besar pula.



Diatas adalah bentuk biogas, yang kubahnya menyerupai atap rumah, dipasang berjejeran dengan sistem flup up, artinya kubah digister bisa naik turun seiring dari isi tekanan biogas yang dihasilkannya. Apabila biogas yang dihasilkan banyak, maka kubah akan naik keatas, dan apabila biogas yang dihasilkan habis atau menipis, kubah akan turun kebawah.

Diatas adalah kubah biogas yang baru sementara dalam proses pengerjaan di bengkel pusat produksi peralatan Kopkar Puslit Kopi dan Kakao Jember, (foto saya ambil pada 13 Oktober 2010)

Digister Biogas Sederhana
Diatas adalah contoh bentuk digister sederhana sistem flup up, yang terbuat dari beberapa drum bekas yang disambung-sambaung dengan menggunakan last. Salah satu ujungnya adalah tempat untuk memasukan kotoran. Sementara ujung lainnya yang lebih tinggi adalah kubah penampung gas metan penghasil biogas.

Kompor dan Mesin Berbahan Bakar Biogas.

Ini adalah kompor, seperti kompor gas pada umumnya yang menggunakan bahan bakar biogas. Biogas tersebut dapat ditampung dalam sebuah tanki atau pada ban mobil bekas.


Diatas adalah mesin yang biasanya menggunakan bahan bakar bensin, namun dengan sedikit modifikasi dapat dijalankan dengan menggunakan bahan bakar biogas. Bahan bakar bensin disini hanya sebagai pemancing saat awal mesin itu dihidupkan, selanjutnya akan diganti dengan biogas. Mesin tersebut digunakan sebagai mesin pembangkit tenaga listrik. Kemudian ban-ban mobil bekas yang tergantung diatas mesin tersebut merupakan tampungan biogas yang dihasilkan dari digistger.


Video Biogas
Dari video diatas dapat dilihat, bagaimana biogas dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk menghidupkan mesin yang biasanya menggunakan bahan bakar bensin.


Vodep Reaktor/Digister Biogas Sederhana
Video Diatas adalah contoh sederhana dari penampang reaktor biogas, yang dapat ditiru untuk diaplikasikan. Cukup simpel, hanya dengan menggunakan beberapa drum yang dilas.


Media Penampungan Biogas Sementara

Biogas yang dihasilkan dari reaktor/digester supaya bisa lebih banyak dan dapat digunakan dalam waktu yang lama, dapat ditampung atau disimpan dengan menggunakan ban mobil bekas, atau tengki angin. Seperti pada video diatas, terlihat beberapa buah ban bekas yang disusun untuk menampung biogas dari digester.


Nah bisa dibayangkan, jika Biogas yang telah saya ulas diatas dapat diaplikasikan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Pasti Pertamina akan kehilangan konsumen gas Elpiginya, bahkan bisa merambah juga pada pengurangan penggunaan bensin sebagai bahan bakar.

Jika dibilang gratis sih tidak, cuma memang butuh modal awal untuk membuat digiseter/reaktornya. Besar dananya pun cukup relatif tergantung dari ukuran dan jenis bahan yang digunakan. Namun setelah memiliki reaktor tersebut, akan dirasakan dampak positifnya terutama dalam efisiensi dan ekonomis. Karena tak ada lagi uang minyak atau uang untuk beli gas elpigi yang harus keluar untuk memasak. Atau apabila punya industri rumahan yang membutuhkan tenaga mesin untuk penerangan atau proses produksi lain, yang biasanya menggunakan bensin sebagai bahan bakarnya, dengan mempunyai reaktor biogas sendiri, uang beli bensin pun bisa di minimalisir.

Rabu, 28 September 2011

Minyak Kopra Sebagai Alternatif Bahan Bakar Kompor Untuk Memasak

Bahan bakar minyak tanah yang umum digunakan sebagai bahan bakar untuk kompor masak, dalam waktu kedepan akan menjadi langka. Karena bahan bakar yang diolah dari minyak bumi tersebut, lambat laun persediaannya di dalam perut bumi akan habis, dan karena merupakan bahan energi yang tidak dapat diperbaharui, jikapun bisa akan membutuhkan waktu jutaan tahun lagi untuk memperbaharuinya. Oleh sebab itu, Pemerintah saat ini menggulirkan program konveksi minyak tanah ke gas Elpigi. Hal ini dimaaksudkan untuk menekan atau membatasi penggunaan minyak tanah, supaya stok yang ada di perut bumi tidak cepat habis dan masih dapat di eksploitasi dalam jangka waktu yang lebih lama. Tak dapat dipungkiri, dengan adanya program konveksi ke gas Elpigi ini, harga minyak tanah di pasaran akan lebih mahal dari biasanya.


Melalui alat giling manual ini, dapat dihasilkan minyak kopra yang akan digunakan sebagai bahan bakar alternatif. sedangkan bungkil atau ampasnya, dapat dijadikan sebagai makanan ternak.

Kompor yang digunakan memang tidak seperti kompor minyak tanah yang menggunakan sumbu, tapi hampir mirip dengan kompor minyak tanah burning yang dipompa dengan angin. Seperti yang biasa digunakan oleh mas-mas penjual nasi goreng atau bakso, namun ada modifikasinya sedikit.


Ini adalah alat penggiling kopra yang sudah menggunakan tenaga mesin listrik, yang tentunya akan semakin cepat dalam mengepres atau menggiling kopra untuk diambil minyaknya.



Berikut video proses penggilingan kopra untuk diambil minyaknya, dengan menggunakan mesin penggiling.
Dan diatas adalah video proses penggunaan kompor burning dengan bahan bakar minyak kopra. Jika sudah menyala sempurna, apinya hampir tidak kelihatan dan menghasilkan suhu yang sangat tinggi. sehingga sangat cepat untuk memasak.

Jika alternatif diatas dapat dikembangkan di beberapa daerah yang mempunyai potensi kelapa yang tinggi, seperti di Sulut dan beberapa daerah lain di Indonesia. Mungkin akan sangat membantu masyarakat dalam mendapatkan bahan bakar minyak untuk memasak keperluan sehari-hari, dengan sangat mudah dan murah.

Peralatan mesin giling tersebut, saat ini baru dikembangkan oleh Koprasi Karyawan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao di Jember Jawa Timur. Pengelaman belajar langsung disana, saya dapatkan pada pertengahan Oktober tahun 2010 lalu. Semoga bermanfaat bagi pembaca.

Kamis, 21 Juli 2011

Ragam Talaud di Kota Lirung ( Jejak Talaud Part 3 - habis)

Masih lanjutan dari jejak-jejak sebelumnya..

Kota Melonguane, menurut beberapa orang yang ku temui disini. Dulunya adalah sebuah desa pesisir kecil, dan tak seramai saat sekarang setelah menjadi Ibukota Kabupaten Kepulauan Talaud. Desa ini bergerak berubah menjadi pusat pemerintahan dan menjadi kota bisnis, mennggantikan kota Beo dan Lirung yang dulunya adalah pusat bisnisnya disini. Aktivitas bisnisnya pun bisa berlangsung hingga larut sampai sekitar jam 10 malam, masih banyak ditemui pertokoan yang buka.
Selain sebagai pusat pemerintahan dan pusat bisnis yang baru, di kota ini juga dipusatkan pula pusat jalur transportasi baik udara maupun laut. Disini terdapat pelabuhan Melonguane, yang berada tepat di pusat kota, juga terdapat bandara udara Melonguane, yang dua hari sekali terdapat pesawat yang melayani penerbangan Melonguane - Manado.

Pusat Kota Melonguane

Inilah pusat kota Melonguane, meskipun tampak sepi dan hanya diramaikan oleh Bentor, namanya juga kota dikepulauan terpencil. Namun di kanan-kiri sepanjang jalan ini berdiri banyak ruko-ruko dan pertokoan yang menjual berbagai macam keperluan masyarakat Talaud. Harganya, tentunya agak sedikit mahal bila dibandingkan dengan di Manado.


Aktivitas Nelayan

Sebagai daerah kepulauan, tentu saja daerah ini kaya akan SDA terutama hasil tangkapan ikan. Dan tiap hari, puluhan ton ikan, dihasilkan dari hasil tangkapan nelayan di kepulauan ini. Sebagian kecil dikonsumsi sendiri dan di jual secara lokal, di pasar atau langsung di pantai saat kapal nelayan, orang sini menyebutnya sebagai "Pajeko", dan sebagian besar yang lain dikirim ke Manado atau langsung di ekspor ke luar negeri. Dan inilah saat kapal pajeko, mendarat dari tengah lautan dengan membawa hasil tangkapannya.
Kapal Pajeko saat kembali dari lautan, dengan penuh hasil tangkapan ikan langsung di serbu oleh pembeli ikan, dan langsung terjadi aktivitas transaksi di pinggir pantai Melonguane.


Perahu Ketinting, biasanya digunakan nelayan untuk mencari ikan hanya di sepanjang pesisir pantai, dan tidak bisa sampai ke tengah lautan yang luas


Menuju Lirung

Lirung adalah sebuah ibukota Kecamatan yang terletak di pulau Salibabu, yaitu sebuah Pulau tersendiri yang berada di seberang kota Melonguane. Sedangkan Melonguane dan kota Beo terletak di Pulau Karakelang, yaitu pulau terbesar di Talaud. Untuk menuju ke Lirung, menggunakan speedboat, dengan jarak tempuh kurang lebih 15 menit.
Ini adalah ketika saya menyebrang dari Melonguane menuju Lirung, dengan menggunakan jasa Taxi laut, dengan ongkos Rp. 30.000/0rg untuk speedboat yang kecil dengan kapasitas 4 penumpang. Sedangkan speedboat yang besar ongkosnya lebih murah, sekitar Rp. 20.000/org.


Sesampai di tempat bersandar Speadboat di Lirung, langsung di sambut dengan sebuah menara yang berada di pinggir pantai.


Pelabuhan Kapal Ferry di Lirung, yang nampaknya belum lama dibangun dan belum beroprasional.


Salah satu sudut-sudut jalan di Lirung, yang masih tampak senyap dengan aktivitas lalu-lalang lalu lintas


Pusat Pertokoan di Lirung


Salah satu patung, tokoh pahlawan dari Lirung.


Aliran Kepercayaan Mussi

Di Pulau Salibabu, atau tepatnya sekitar 10 Km dari pusat Kota Lirung, terdapat sebuah tempat pemujaan aliran kepercayaan kuno, animisme dinamisme yang masih di anut oleh sebagian kecil masyarakat di sini, yaitu khususnya masyarakat yang tinggal di Desa Mussi. Tempat pemujaan ini berupa sebuah gua kecil, yang diatasnya terdapat hutan lebat dengan pohon-pohon yang besar. Saat rasa penasaran saya ingin mengetahui lebih jauh, ada apa diatas dari gua tersebut, karena disitu terdapat sebuah undak-undakkan untuk naik keatas. Namun tukang bentor yang mengantar saya melarang untuk naik di kawasan tersebut, karena saat itu tidak ada juru kunci yang biasanya menjaga tempat ini. Kesannya memang lumayan cukup angker di tempat yang disakralkan tersebut. Sehingga tukang bentor tersebut takut, kalau saya terjadi apa-apa disana, jika memaksa naik ke tempat itu. Sehingga aku pun mengurungkan niatku, dan hanya mengambil gambar dari bawah.


Gua Wuidduanne
Masih di sekitar tempat pemujaan Mussi, terdapat gua lain, yaitu Gua Wuidduane. dari papan nama yang terpasang di depannya, dikatakan disitu pernah ditemukan tiga rangka manusia penghuni awal pulau ini. Diantara kerangka-kerangka tersebut juga ditemukan benda-benda lain, berupa beberapa perhiasan kuno.


Pulau Sara
Jika menuju ke Lirung dari Melonguane, akan melewati kedua pulau kecil yaitu Pulau Sara besar dan Pulau Sara Kecil. Kedua pulau ini lah yang selalu disuguhkan bagi pengunjung jika datang ke Talaud. Namun waktu itu karena alasan waktu, saya tidak sempat mengunjungi pulau ini. Katanya disini ada pula peninggalan berupa kubur kuno dari jaman pra sejarah, dan tentu saja yang ditawarkan adalah karena pasirnya yang putih bersih.


Taxi laut mengantar penumpang dari Melonguane ke Lirung


Mendarat lagi di pantai Melonguane dari Lirung.

KPTSP Talaud

Bersama Pimpinan dan Staf Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Talaud.


Penginapan Permata, tempat saya menginap di Talaud.


Bale ke Manado
Jalan menuju Kantor Bupati.


Jalan Menuju Bandara


Gerbang Bandara Melonguane


Airport Melonguane, ruang tunggu pemberangkatan. (Jangan dikira puskesma ya...heheh)


Pesawat yang ditunggu akhirnya mendarat di Bandara Melonguane


Bersiap memasuki pintu pesawat.

Meninggalkan Talaud, dan tampak dari atas Kota Melonguane dari atas udara.

Demikian sepenggal kisah penjejakan di Talaud. Semoga dapat berkenan dan memberi manfaat ketika anda akan merancanakan traveling kesana.

Salam Penjelajah.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...