Selasa, 06 Januari 2009

Berlibur ke "Swis" dan berburu barang Filipina

Harusnya liburan kali ini kugunakan untuk pulang kampung di Jawa mengunjungi orang tua dan sanak saudara disana, namun berhubung terkendala dana taktis yang sudah habis sebelum akhir tahun. Akhirnya kuputuskan untuk mencari alternative tempat liburan yang sesuai dengan kocek pribadi saat itu, apalagi kalau berfikir pulang jawa, harga tiket pesawat pas mendekati Natal dan Tahun Baru naik gila-gilaan. Yah beginilah kalau hidup masih belum terbebas secara financial, Semua mesti diperhitungkan baik-baik, apalagi kalau tinggal di daerah rantau yang jaraknya jauh seperti saya.

Kebetulan kali ini aku mendapat alternative tempat liburan yang lumayan menarik, dan cukup keren yaitu pergi ke “SWIS”. Untuk dapat pergi ke Swis (Sekitar Wilayah Sanger) cukup naik kapal dari pelabuhan Manado dengan membeli tiket Rp.110.000,- untuk kelas ekonomi dan Rp.230.000,- untuk kelas VIP, dengan waktu perjalanan sekitar 10 jam perjalanan laut. Ya… tujuanku kali ini adalah menuju ke kepulauan Sangihe, yaitu sebuah Pulau yang terletak di sebelah utara Kota Manado atau secara geografis Kepulauan Sangihe terletak di 2o 04’13” – 4o 44’22” LU dan 125o 9’28 – 26’57” BT dan posisinya terletak diantara Kab. Kepulauan SITARO dan Pulau Mindanau (Filipina).

Saat itu aku berangkat bersama dua orang teman “Stenly dan Ferdy”, satu diantaranya (Ferdy) adalah orang asli “Prancis” (Peranakan Cina Sanger) sehingga kami panggil “Opo” panggilan sayang-sayang untuk anak laki-laki di pulau itu. Dialah yang mengajak kami, dan menjadi tour gaed kami selama disana. Perjalanan kami, kami mulai dari pelabuhan Manado dengan menggunakan kapal Mekar Teratai. Berangkat dari pelabuhan sekitar pukul 19.00 Wita, pas malam Natal 24 Des 08. Beruntung cuaca saat itu cerah, sebab kapal yang kami tumpangi pada saat itu full dengan penumpang. Bahkan kami bertiga hanya kebagian satu tempat tidur saja, sehingga terpaksa kami harus berbagai siff waktu tidur. Karena rasa kantuk yang semakin kuat menyerang kami, dan tak kuasa kami tahan akhirnya motor yang dibawa penumpang lain pun menjadi tempat tidur yang nyaman saat itu, sambil menunggu sift untuk tidur di tempat tidur bergantian dengan teman saya.

Pukul 05.00 Wita, kapal merapat di pelabuhan Tahuna. Meskipun masih pagi sekali, tetapi suasana di pelabuhan sudah sangat ramai dengan para penjemput dan para porter yang menawarkan jasa angkat barang. Setelah turun dari kapal, kami lantas segera mencari kendaraan yang mengantarkan kami ke Petta, salah satu daerah yang kami tuju. Beruntung kami mendapatkan mobil bak terbuka, meskipun sudah diminta untuk duduk dimuka, tetapi saya lebih memilih untuk duduk di belakang supaya dapat melihat pemandangan secara lebih leluasa.

Perjalanan ke Petta dari pelabuhan Tahuna kami tempuh sekitar 30 menit, dengan jalan beraspal dengan lebar 3 m. Kondisi jalannya naik turun dan berbelok-belok, sebelah kiri kami dihadapkan dengan tebing-tebing curam yang rawan longsor, sedangkan sebelah kanannya adalah jurang yang dalam. Meskipun sedikit memacu andrenalin kami dengan kondisi jalan seperti itu, tetapi kami cukup dihibur dengan indahnya pemandangan teluk Tahuna yang kami lihat dari atas mobil yang kami tumpangi.


Tentang Kabupaten Kepulauan Sangihe

Kep. Sangihe merupakan daerah administrative Kabupaten, dengan kepala daerah yang dipimpin oleh seorang Bupati, dengan kota administratifnya di Tahuna. Luas wilayah Kab. Kep. Sangihe secara keseluruhan adalah 11.863.58 Km2 yang terdiri dari luas wilayah laut : 11.126.61 Km2 dan luas wilayah darat : 736.97 Km2. Kabupaten ini sudah mengalami dua kali pemekaran, yang sebelumnya luas wilayah administratifnya sebelum tahun 2002 meliputi Kab. Kep. Talaud dan Kab. Kep. SITARO. Tetapi setelah pemekaran pertama pada tahun 2002, Kabupaten ini telah memisahkan Kepulauan Talaud untuk menjadi daerah kabupaten sendiri, dan pemekaran kedua terjadi pada tahun 2007 untuk memekarkan daerah Siau, Tanggulandang dan Biaro (SITARO) menjadi daerah kabupaten sendiri.

Sebagai daerah kepulauan, Kabupaten ini secara keseluruhan mempunyai 105 gugusan pulau, dan hanya 26 pulau saja yang berpenghuni, sedangkan sisanya 79 pulau tidak berpenghuni. Kepulauan ini mempunyai topografi yang berbukit, dengan kondisi tanah yang labil / mudah longsor. Disamping itu, di pulau Sangihe terdapat dua gunung api, yaitu Gunung Awu dan satu lagi adalah gunung berapi yang berada di bawah laut, yang terletak di dekat pulau Mahengetang. Karena mempunyai gunung api, tanah-tanah disekitarnya menjadi tampak subur dengan tanaman perkebunan kelapa dan pala serta tanaman-tanaman tropis lainnya.

Rata-rata sebagian besar mata pencaharian penduduknya adalah nelayan, dan sebagaian lainya adalah petani dan pedagang. Hasil utama pertaniannya adalah kelapa dan pala. Agama yang dianut oleh masyarakat Kep. Sangihe adalah sebagian besar beragama Kristen Protestan dan Islam. Sedangkan etnis yang ada disana adalah etnis Sanger, tionghua, dan minahasa atau etnis-etnis lain yang datang dari jawa dan daerah lain.

Meskipun digolongkan dalam daerah terpencil, tetapi aktivitas bisnis di kota Tahuna dan kota-kota lain disekitarnya termasuk di Petta begitu hidup. Khusus di kota Tahuna, berbagai toko-toko milik pedagang keturunan Tionghoa dan lokal yang menjajakan barang-barang kebutuhan pokok sehari-hari, pakaian sampai peralatan elektronik dan computer ada disana. Diantara barang-barang itu, sebagaian adalah barang-barang dari Negara tetangga yaitu Filipina yang memang sengaja di pasok oleh pedagang local, mengambil atau membeli barang-barang dari Filipina untuk di pasarkan di pasar-pasar kepulauan Sangihe.


Berburu barang Filipina di Kota Petta


Kota Petta merupakan tempat yang kami tinggali selama 5 hari kami disana. Ini adalah merupakan kota kecil yang masuk dalam daerah administrative kecamatan Tambuka Utara. Untuk menuju ke Petta, hanya diperlukan waktu sekitar 30 menit dari kota Tahuna dengan ongkos kendaraan umum sekitar Rp. 15.000,-

Kota ini adalah kota perdagangan, selain di Tahuna. Sehingga nama Petta sendiri sebenarnya adalah nama pasar. Tetapi pasar disini tidak setiap hari ada, dalam seminggu terdapat tiga kali hari pasar yaitu pada hari Selasa, Kamis dan Sabtu. Pada hari-hari tersebut masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah Petta, seperti dari pulau Nusa tambuka, dan dan daerah-daerah lain semua turun ke Petta untuk membeli barang-barang kebutuhan pokok dan kebutuhan-kebutuhan lain. Pantas saja, orang tua teman saya yang dari Petta ini adalah salah satu pengusaha yang membuka usaha toko kelontong, dan usahanya tampak eksis disana. Sebab setiap hari pasar, tokonya penuh dipadati oleh pembeli yang datang dari beberapa daerah di sekitar Petta.

Barang-barang yang diperjual belikan juga beberapa diantaranya berasal dari Filipina, apalagi kalau dari Petta lokasi geografisnya langsung menghadap ke Filipina, dan lokasi tempat kami foto ini adalah merupakan pelabuhan bagi kapal-kapal yang biasa berlayar ke Filipina. Tetapi untuk sekarang, masuknya barang-barang Filipina dalam jumlah banyak sudah dilarang, dengan aturan-aturan imigrasi dan perdagangan antar Negara.

Untuk beberapa minuman, seperti Cocacola yang merupakan minuman wajib di kala Natal dan tahun baru, dan minuman Royal adalah made in Filipina, termasuk juga beberapa minuman keras seperti Red Hourse dan beberapa minuman lain, yang semuanya adalah dari sana.

Masyarakat kepulauan Sangihe, pada umumnya adalah masyararakat yang ramah dan terbuka bagi para pendatang. Akses transportasi yang melayani adalah dengan transportasi laut, dilayani dengan beberapa kapal yaitu KM. Tera Sancta, KM. Mekar Teratai, KM. Ave Maria serta KMC. Bahari Express. Hampir tiap hari kapal-kapal ini melayani penyebrangan dari Pelabuhan Manado ke Pelabuhan Tahuna begitupun sebaliknya. Di Kep. Sangihe juga terdapat air port / bandara dengan beberapa maskapai yang melayani penerbangan dari Bandara Sam Ratulagi ke Bandara Naha Sangihe, antara lain adalah Wings Air Line, Deraya, dan Merpati. Tetapi penerbangan ke Naha masih jarang-jarang, mungkin dua minggu sekali karena penumpangnya masih sangat kurang.

Minggu, 30 November 2008

Kisah Sejati Seorang KAKA

KAKA: "I belong to Jesus"

Lahir di Brasilia tahun 1982 dengan nama Ricardo Izecson dos Santos Leite, Kaka lahir dari sebuah keluarga penginjil yang kaya raya. Namun hal itu tidak membuat ia menjadi sombong dengan mengandalkan kekayaan keluarganya, ataupun mengikuti jalan hidup keluarganya dengan menjadi penginjil. Kaka punya jalannya sendiri dan caranya sendiri.

Sejak kecil ia sangat menyukai sepakbola, bahkan dalam usia remaja ia menjadi pemain yang cukup terkenal didaerahnya dengan bermain sebagai pemain cadangan di klub San Paulo.

Namun pada usia 18 tahun sebuah bencana terjadi, ia mengalami cidera punggung yang serius saat sedang berenang. Dokter mengatakan ia tidak bisa bermain sepakbola lagi, bahkan kemungkinan besar akan lumpuh akbibat cidera itu. Tidak ada tindakan operasi atau terapi yang bisa menyelamatkannya.

Hidup Kaka hancur berantakan saat itu, kecintaannya pada sepakbola demikian besar, kini semua harus berakhir, bahkan sisa hidupnya harus diisi dengan menjalani kelumpuhannya.

Namun Kaka tahu kemana ia harus minta tolong saat dokter sudah angkat tangan. Kaka bergumul dengan Tuhan, tak putus-putusnya ia berdoa memohon kesembuhannya. Ia bernazar pada Tuhan, bila ia sembuh dan dapat bermain sepakbola lagi, ia akan mempersembahkan seluruh prestasinya itu pada Tuhan Yesus.

Dan keajaibanpun terjadi, setahun setelah kecelakaannya itu tepatnya tahun 2001, Tuhan menyembuhkannya, ia sembuh total dari sakitnya. Bahkan ia dapat merumput bermain sepakbola lagi. Tuhan juga memberikan hadiah bonus, ia tidak lagi menjadi pemain cadangan melainkan menjadi pemain utama dan andalan dalam klubnya.

Tuhan membuat permainan Kaka menjadi begitu hebat sehingga manager tim nasional Brazil terpikat akan permainannya, dan memanggil Kaka untuk mengenakan baju kebesaran tim Brazil, emas dan hijau, dipercaya untuk bertarung di piala dunia 2002.

Dari sekian banyak bakat baru bersinar di Brazil, ia hanyalah seorang pemain muda yang belum setahun membela klubnya, namun sudah dipanggil masuk tim nasional. Bagi Kaka itu adalah keajaiban dan anugerah yang besar baginya.

Walaupun dia hanya jadi pemain cadangan dan duduk dipinggir lapangan menonton pertandingan para seniornya di piala dunia, namun Kaka sudah sangat senang dapat ikut serta dalam kompetisi sebesar piala dunia. Kaka tidak menyadari Tuhan sedang menyediakan keajaiban lainnya bagi dia.

Beberapa pertandingan berjalan begitu keras bagi Brazil, sehingga beberapa pemain bintang harus disimpan karena cidera. Datanglah kesempatan bagi Kaka untuk turun membela timnya. Dibawah pembelaannya Brazilpun menang, peristiwa legendaris yang menggemparkan dunia itupun terjadi, Kaka mengangkat seragam-nya dan di baliknya ada sebuah tulisan yang menggegerkan, kaos putih itu bertuliskan "I Love Jesus".

Itu terus dilakukannya setiap kali teman-temannya merayakan gol. Dan akhirnya Brazil-pun memenangkan Piala Dunia 2002, setelah menaklukan Jerman di final dengan skor 2-0. Dalam parade kemenangan dinegaranya sendiri, kaos kesayangan yang bertuliskan 'I love Jesus' itu tidak pernah dilepasnya. Hal itu menginspirasi banyak pemain Brazil (bahkan pemain negara lain) melakukan hal yang sama.

Saat diwawancara oleh stasiun TV dan ditanya mengapa ia melakukan hal itu, ia berkata, "Saya ingin memperlihatkan dengan hidup dan kerja saya, apa yang telah Tuhan lakukan bagi saya, supaya orang lain dapat melihat apa yang Tuhan bisa lakukan dalam kehidupan mereka."

Permainannya yang cantik di Piala Dunia tidak luput dari perhatian sebuah klub raksasa di Italia, AC Milan. Tidak lama kemudian mereka meminta Kaka masuk dalam timnya sebagai pemain utama. Kaka-pun pindah bergabung dengan AC Milan, masuk dalam liga Italia yang keras dan penuh bintang. Namun dalam musim pertamanya di Liga Italia seri A, ia langsung menyumbangkan gelar juara scudetto bagi AC Milan.

Dalam waktu singkat Kaka menjadi bintang dan pujaan banyak orang khususnya wanita, kegantengannya yang seperti seorang bintang film membuat ia selalu dikejar-kejar fans wanita, dimanapun ia berada akan selalu ada jeritan gadis-gadis muda yang mengaguminya.

Namun cinta dan kesetiannya hanya pada Caroline Celico, kekasihnya yang jauh di Brazil. Walaupun kehidupan pemain sepakbola selalu dikeliling wanita-wanita cantik super model, atau pesta-pesta kemenangan, Kaka selalu menghindari semuanya itu. Ia bahkan tidak mau membawa Caroline tinggal dengannya di Italia sebelum pernikahan, seperti yang dilakukan para pemain bola di liga-liga besar.

Tahun 2005, Kaka meminang Caroline, dalam sebuah upacara perkawinan yang sangat sederhana, sangat berbeda dengan pernikahan selebritis lain yang super mewah. Dalam jumpa pers ia menyatakan bahwa ia masih perjaka dan Caroline masih perawan.

"Itu adalah periode yang penting, sebuah ujian untuk cinta kami berdua. Saya seorang pria normal dan pasti tergoda untuk melakukan hubungan sebelum pernikahan, tapi saya bisa melewatinya. Malam pertama kami juga ditandai darah keperawanan, sebagai tanda cinta suci kami."

Walaupun sebuah isu pindah agama sempat menerpanya diakhir tahun 2006, namun Kaka membuktikan pada mata dunia, bahwa ia adalah murid Kristus sejati dalam final liga Champion Mei 2007. Menjadi pahlawan kemenangan melawan Liverpool, Kaka langsung merayakan golnya dengan membuka kaosnya
dan menunjukan tulisan "I belong to Jesus" kemudian berlutut berdoa bersyukur ditengah lapangan. Teman-temannya yang lain turut merayakannya, tapi mereka mengerti dan tidak mengganggu Kaka yang sedang berdoa. Peristiwa ini ditonton jutaan pemirsa yang menyaksikan final Liga Champion 2007.

Bagi Kaka beserta seluruh pemain dan pendukung AC Milan, kemenangan ini merupakan mujizat. Tidak ada yang menyangka AC Milan akan menang, ditengah kepungan 3 raksasa Inggris yang diunggulkan yaitu Manchester United, Chelsea dan Liverpool.

Kaka menjadi Top Skorer dalam Liga Champion, pertarungan liga paling bergengsi dan tertinggi diseluruh dunia. Membuatnya dinobatkan sebagai raja oleh para media Italia, dan pantas dinobatkan sebagai pemain terbaik didunia. Klub-klub kaya seperti Real Madrid diberitakan telah mengajukan penawaran sebesar 100 juta euro (1 trilyun rupiah lebih) jauh memecahkan rekor pemain termahal saat ini.


Do you belong to Jesus???
"Segala Perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku" [Filipi 4:13]

Minggu, 23 November 2008

Solusi Transportasi di kala Banjir













Rata-rata hampir dibeberapa daerah di Indonesia merupakan daerah yang rawan banjir. Terlebih di ibukota Jakarta yang dapat dikatakan sebagai daerah langganan banjir dikala musim hujan tiba. Segala bentuk kesulitan pun selalu menghadang apabila banjir itu datang, rumah-rumah terendam, segala perabotan hanyut, apalagi akses transportasi yang tertutup air dan tak bisa dilewati oleh segala macam jenis kendaraan keculali perahu sampan atau perahu karet sebagai alat evakuasi.














Hal ini tentu saja sangat merepotkan, terutama bagi mereka yang mempunyai mobilitas tinggi, atau yang ingin bepergian tanpa dihalangi oleh halangan banjir. Setelah aku berselancar sejenak ke dunia maya, lalu kusinggah pada salah satu situs, disitu ada beberapa artikel yang disertai gambar-gambar yang menarik tentang mobil amfibi yang dapat berjalan di darat maupun di air. Lalu ku membayangkan jika kendaraan-kendaraan ini dapat dimiliki oleh sebagian dari penduduk Indonesia terutama bagi mereka yang tinggal didaerah rawan banjir, pastilah sangat membantu sekali. Berikut cuplikan dari gambar-gambar mobil tersebut :

Ini adalah salah satu bentuk kreativitas masyarakat di salah satu daerah di China, dimana jalur transportasinya dipisahkan oleh sungai, sehingga kakek ini (pengemudi) memodifikasi kendaraannya bisa berjalan di darat dan disungi. Bentuknya sangat sederhana sekali.

Ketika berada di air bentuknya seperti perahu sampan.







Konsep mobil yang dapat berjalan di darat dan di air ternyata sudah ada sejak jaman dahulu. Di samping adalah sebuah konsep mobil dengan konsep yang sangat modern, yang dibangun pada tahun antara 40-60 an.

Berikutnya adalah Humdinga, sebuah mobil amfibi yang diciptakan untuk segala macam jenis medan. Baik untuk ofroad, jalan raya maupun di air menerjang banjir.





Dan beberapa jenis mobil amfibi lain, yang tentu saja sangat canggih dengan didukung teknologi tinggi.
































Sayangnya mobil-mobil ini hanya diproduksi beberapa saja, dan belum merupakan kendaraan masal. Sehingga harganya masih selangit.
Tetapi melihat potensi banjir di negara kita, apalagi Indonesia adalah negara maritim yang mempunyai wilayah laut yang luas, serta banyaknya sungai-sungai besar yang menghiasi beberapa daerah terutama di Kalimantan. Maka kiranya Pemerintah Indonesia layaknya memikirkan kendaraan Amfibi dapat dijadikan sebagai Mobil Nasional, dengan harga terjangkau. Kendaraan ini selain dapat membantu untuk menjangkau daerah-daerah yang sulit, membantu dikala banjir juga dapat digunakan sebagai transportasi wisata atau untuk berekreasi menyusuri pantai-pantai yang indah, danau atau sungai.
Dan sayangnya juga, ini masih dalam bentuk hayalan tingkat tinggiku. Siapa tau diwaktu yang akan datang dapat memiliki salah satunya. Terutama yang bermerek aquada he...he...he...


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...