Sabtu, 08 Oktober 2011

Travling ala backcaper yang penuh kejutan, ke Pulau Siau Kab. Kepulauan Sitaro. (part 1)


Melengkapi kisah penjejakanku di Sulawesi Utara, tinggal Kabupaten Kepulauan SITARO yang belum pernah aku jejaki. Kata SITARO sendiri merupakan kepanjangan dari Siau, Tanggulandang dan Biaro, karena Kabupaten yang baru dimekarkan dari Kab. Kepulauan Sangihe tahun 2007 ini memiliki tiga gugusan pulau besar tersebut diatas yang merupakan wilayah administratifnya.
Map Kabupaten Kepulauan Sitaro

Berikut adalah foto satelit dari ketiga gugusan pulau tersebut :

Pulau Siau


Pulau Tanggulandang


Pulau Biaro

Kabupaten SITARO letaknya masih lumayan cukup dekat dengan Ibu kota Provinisi Sulut, jika dibandingkan dengan ke Kab. Kepulauan Sangihe atau ke Kab. Kepulauan Talaud. Untuk ke Sitaro atau lebih tepatnya ke Pulau Siau yang merupakan pulau terbesar, dapat ditempuh dengan menggunakan kapal. Tiap hari ada beberapa jenis kapal yang melayani penyebarangan kesana, jika membawa mobil atau muatan banyak bisa menggunakan kapal Ferry KMP. Lokongbanua dengan waktu tempuh antara 8 s/d 9 jam. Namun jika hanya berangkat tanpa banyak barang bawaan, bisa menggunakan kapal cepat Express Bahari, atau Kapal turbo jet Oasis, dengan waktu tempuh sekitar 2.5 s/d 3 jam an atau dengan kapal penumpang biasa KM. Quin Merry dan KM. Victoria, dengan waktu tempuh sekitar 5-6 jam.
Kali ini kesempatan penjejakanku datang kesana berawal ketika salah seorang teman se Gereja yang merupakan temen baikku, memberitahukan kalau ia akan kesana untuk mengantarkan mobil temannya dari Manado ke Pulau Siau. Mendengar info tersebut, langsung kutawarkan diri jika tak keberatan untuk menemaninya kesana, dan memberitahukan kepadanya bahwa biaya transportasi dan akomodasi selama disana saya akan tanggung sendiri. Ia pun juga senang karena ada teman yang akan menemaninya pergi ke pulau itu, karena ia sendiri pun baru sekali ini mau pergi kesana.
Niatku mau pergi kesana, didukung dengan aktivitas kantor yang sudah tidak terlalu padat, sehingga aku dapat mengambil cuti untuk beberapa hari. Awalnya kami akan berangkat pada hari Minggu, 2 Oktober 2011. Namun setelah sampai di pelabuhan Ferry di Bitung, KMP. Lokongbanua yaitu kapal ferry yang akan kami naiki, dek bawahnya sudah full dengan truk-truk besar dan tak ada lagi space yang tersisa untuk satu mobil lagi. Menurut salah seorang ABK, jika ingin mengangkut mobil harus datang pagi-pagi atau memboking tempat dulu, karena kalau tidak, kami tidak akan kebagian space lagi. Akhirnya teman saya si Fanny, mendaftarkan nama dan akan berangkat pada jadwal keberangkatan berikutnya yaitu pada hari Selasa malam, 4 Oktober 2011. Untuk mengobati kekecewaan karena sudah sampai di pelabuhan Bitung dan gagal menyebrang, akhirnya kami melemparkan kail yang kami bawa untuk memancing di pulau Siau di pelabuhan Ferry Bitung, hingga dua jam kami mengail di situ, tak ada satu ikan pun yang memakan umpan kami, bukannya terhibur malah semakin kecewa karena tidak dapat ikan hehehe.
Kejutan pertama, mendapat tiket kapal gratis.
Setelah menunggu jadwal keberangkatan selanjutnya, akhirnya kami pun berangkat pada hari Selasa malam, 4 Oktober 2011. Pagi-pagi sekali, teman saya si Fanny sudah datang membawa mobil yang akan kami angkut, dan sudah terpakir di dek bawah di sudut paling belakang KMP. Lokongbanua. Sedangkan saya sendiri menyusul pada sore harinya sepulang dari kantor. Biasanya, kapal diberangkatkan pada pukul 08.00 malam, namun entah karena muatan kapal waktu itu dinilai melebihi kapasitas, hingga kapal terlambat untuk berlayar. Karena biasanya sebelum kapal berlayar ada petugas Syahbandar yang memeriksa kondisi dan keadaan kapal, untuk menjamin keselamatan berlayar. Malam itu kapal ferry yang kami naiki ini memuat 20 mobil yang terdiri dari 4 mobil kecil, termasuk mobil yang kami bawa dan sisanya ada 16 truk besar yang penuh dengan muatan. Hingga pukul 10 malam, kapal belum juga diberangkatkan, penumpang pun sudah mulai gelisah dan mencari tahu apa yang terjadi, termasuk saya tentunya. Selidik punya selidik, ternyata surat berlayar belum dikeluarkan dari Syahbandar yang punya otoritas pelayaran di lautan Indonesia. Hingga pukul 12 malam, melilhat cuaca waktu itu cukup baik dan tenang, akhirnya pihak Syahbandar mengeluarkan surat berlayar untuk kapal yang kami naiki.
Naik kapal Ferry KMP. Lokongbanua ini mengingatkan aku pada KMP. Muria yang melayani penyebrangan Jepara – Karimun Jawa, waktu keluargaku masih tinggal di pulau itu, pada sekitar 5 tahun yang lalu. Dahulu kalau mau menjenguk orang tuaku, tiap tahun selalu naik Ferry atau kapal cepat KMC. Kartini, namun sekarang kalau mau pulang kampung, Tuhan upgrade perjalananku harus naik pesawat, dari Manado ke Jakarta atau ke Surabaya, kemudian baru ke Solo - Wonogiri. Naik kelas sih...namun naik pula ongkosnya hehe..
Fanny asik tidur
Tidur di dek paling atas, beratapkan langit, berselimutkan angin malam.
“Kembali ke leptop”..... Selama perjalanan, meskipun ada dek kedua yang khusus untuk penumpang, dan ada tempat tidurnya disana, namun kami memilih dek paling atas untuk mengambil posisi tidur dan menanti perjalanan hingga sampai tempat tujuan. Meskipun beratapkan langit, dengan udara malam yang cukup dingin, namun saya cukup menikmatinya, apalagi cuaca malam itu sangat baik, dan tidak bergelombang. Tripku kali ini sangat beruntung. Ketika ABK mulai menarik uang tiket, biasanya jika membawa mobil hanya satu orang saja yang mendapat tiket gratis, namun waktu itu kami berangkat bertiga dan dikasih gratis semua. Begitu pula ketika kami hanya menggunakan satu matras untuk alas kami duduk-duduk diatas dek kapal, setelah Cheff atau salah seorang perwira kapal melihat kami menggunakan satu matras saja, ia menyuruh anak buahnya mengambilkan dua matras lagi untuk kami. Sungguh berkat Tuhan yang luar biasa bagi kami, malam itu.

Singgah sejenak di Pulau Tanggulandang
Tak terasa, waktu telah menunjukkan pukul 5 pagi, saya terbangun dan melihat ada gugusan pulau-pulau, dan kapal pun mengarahkan haluannya menuju salah satu pelabuhan bagian utara pulau itu. Ya... ini adalah pulau Tanggulandang. Semua kapal yang menuju pulau Siau, biasanya singgah dahulu ke Pulau ini untuk menurunkan atau menaikkan penumpang dari Bitung ke Tanggulandang atau dari Tanggulandang ke Siau, begitu pula sebaliknya.

Salah satu perkampungan di sudut utara pulau Tanggulandang, foto diambil dari atas kapal, ketika berlabuh sejenak di pelabuhan ferrynya.

Tampak dari atas kapal, Pulau Tanggulandang bertopografi bergunung-gunung, areal perkampungannya berada di celah-celah bukit, dan sebagian berada diatas bukit. Disebelah pulau Tanggulandang, ada sebuah pulau yang terbentuk dari gugusan gunung berapi, yaitu pulau Gunung Ruang, yang dipisahkan oleh sebuah selat dengan Pulau Tanggulandang. Gunung ini pernah meletus beberapa tahun lalu, dan sisa-sisa lahar panas yang telah membeku dari puncak gunung hingga meleh ke laut masih tampak jelas, menandakan kedhasyatan letusannya waktu itu. Untuk sementara ini, gunung tersebut masih terdiam, dan tak ada aktifitas vulkaniknya. Itulah sebabnya pulau Tanggulandang mempunyai tanah yang subur, oleh abu vulkanik dari gunung ini, dan Pulau Tanggulandang merupakan penghasil buah Salak yang rasanya manis dan buahnya besar-besar, di Sulawesi Utara selain di Desa Pangu Kab. Ratahan.
Setiap kali kapal singgah di pulau ini untuk menaikan dan menurunkan penumpang, penduduk setempat menaiki kapal untuk menjajakan buah salak dari hasil kebun mereka. Untuk satu kardus kecil, awalnya mereka menawarkan dengan harga Rp.20.000,-, namun setelah kapal mau berangkat kembali, mereka menurunkan harga antara Rp. 10.000,- hingga kalau beruntung dapat Rp. 5000,- Per kardusnya.
Setelah kurang lebih 30 menit kapal Ferry menurunkan penumpang dan beberapa mobil truk di pulau ini, serta menaikkan beberapa penumpang dari Tanggulandang yang mau menuju ke Pulau Siau. Klakson kapal kembali berbunyi, sebagai tanda kapal ini akan kembali berlayar. ABK Kapal kembali ke posisinya masing-masing, dan tambatan tali pun mulai dilepaskan untuk meninggalkan pelabuhan Ferry di Tanggulandang, menuju ke Pulau Siau. Perjalanan dari Pulau Tanggulandang ke Pulau Siau, jika menggunakan Ferry masih ditempuh sekitar 2 jam.
Satu setenga jam berlalu, dan Kapal Ferry mulai memasuki perairan pulau Siau. Tampak sebelah kanan gugusan pulau Bahoro yang melindungi teluk Pulau Siau. Katanya di Pulau Bahoro ini ada gua-gua pantai, yang banyak terdapat sarang burung walet, juga disalah satu sisinya terdapat pesisir pantai yang pasirnya putih dan lembut. Sedangkan disebelah kiri kapal, terlihat Pulau Siau dengan Gunung Api Karangetan yang menjulang tinggi dari kejauhan. Pulau ini memang bertopografi bergunung-gunung dan berbukit, dengan hutanya yang masih lebat dan menghijau.

Jumat, 30 September 2011

Biogas, Sumber Energy Alternative Dari Limbah Kotoran Kita.

Pernahkah terbayangkan jika sajian masakan istimewa, yang dimasak oleh seorang cheef terkenal dari sebuah restoran mewah, lalu disajikan di hadapan kita. Ternyata dimasak dengan menggunakan api yang berasal dari kotoran manusia, atau kotoran hewan ?

Mungkin sebagian dari kita masih merasa jijik, jika mengetahui asal muasal sumber api tersebut. Namun pada dasarnya, api yang berasal dari kotoran kita, atau kotoran hewan dengan api yang berasal dari gas Elpigy yang biasa kita kenal selama ini, itu hampir sama. "Sama-sama gas, sama-sama dapat menghasillkan api yang berwarna biru, dan jika dibuka gasnya tanpa dibakar akan sama-sama bau, yang baunya hampir sama tidak enaknya". Perbedaannya adalah, jika gas Elpigy harganya mahal, diambil melalui proses penambangan dari dalam pertu bumi, kemudian pemasarannya dimonopoli oleh "Pertamina". Namun jika Biogas, harganya sangat murah bahkan bisa gratis....tiss...tisss, proses eksploitasinya cukup dengan nongkrong di WC yang tiap hari kita lakukan dan tinja atau kotoran yang kita hasilkan ditampung dalam sebuah reaktor/digester, maka dari digister itulah dihasilkan biogas untuk memasak makanan kita. hmmm..... yuummyyy.... bukan..??!!


Ya.... biogas adalah salah satu alternative sumber energy terbarukan, yang ramah lingkungan, cukup ekonomis dan efisien. Biogas dihasilkan dari proses fermentasi dari limbah-limbah organik seperti kotoran hewan ternak, limbah industri pengolahan hulu kopi atau kakao, atau limbah pabrik tahu, termasuk kotoran kita manusia, pokoknya limbah-limbah yang mudah terurai oleh microba. Limbah organik tersebut, sebelumnya ditampung dalam sebuah digester atau semacam spettank khusus, seperti pada foto diatas, (itu merupakan digister biogas yang dimiliki oleh Puslit Kopi dan Kakao Jember Jawa Timur, untuk mengolah limbah pengolahan kopi dan kakao menjadi biogas). Didalam degister tersebut, limbah organik tersebut akan mengalami proses kimiawi, dengan dibantu oleh microba-microba pengurai dalam waktu beberapa hari hingga mengalami pembusukan. Nah proses pembusukan tersebut akan menghasilkan gas, yang disebut sebagai "gas metan". Gas metan ini akan naik memenuhi kubah dari digister, dari kubah digister tersebut kemudian gas metan dialirkan melakui pipa atau selang langsung ke kompor masak. Maka jadilah sebuah sumber energy yang murah meriah, ekonomis, praktis, dan ramah lingkungan.

Kotoran dari peternakan sapi seperti diatas, adalah merupakan berkah tersendiri apabila dipadu dengan pemanfaatan biogas sebagai sumber energi alaternatif. (foto saya ambil di kandang Pakde Bejo, saudara saya di desa Kauripan Bagelen Kab. Purworejo pada beberapa bulan lalu). Karena dari kotoran sapi yang dihasilkan tiap harinya dari peternakan sapi ini, akan menghasilkan biogas yang jumlahnya cukup besar pula.



Diatas adalah bentuk biogas, yang kubahnya menyerupai atap rumah, dipasang berjejeran dengan sistem flup up, artinya kubah digister bisa naik turun seiring dari isi tekanan biogas yang dihasilkannya. Apabila biogas yang dihasilkan banyak, maka kubah akan naik keatas, dan apabila biogas yang dihasilkan habis atau menipis, kubah akan turun kebawah.

Diatas adalah kubah biogas yang baru sementara dalam proses pengerjaan di bengkel pusat produksi peralatan Kopkar Puslit Kopi dan Kakao Jember, (foto saya ambil pada 13 Oktober 2010)

Digister Biogas Sederhana
Diatas adalah contoh bentuk digister sederhana sistem flup up, yang terbuat dari beberapa drum bekas yang disambung-sambaung dengan menggunakan last. Salah satu ujungnya adalah tempat untuk memasukan kotoran. Sementara ujung lainnya yang lebih tinggi adalah kubah penampung gas metan penghasil biogas.

Kompor dan Mesin Berbahan Bakar Biogas.

Ini adalah kompor, seperti kompor gas pada umumnya yang menggunakan bahan bakar biogas. Biogas tersebut dapat ditampung dalam sebuah tanki atau pada ban mobil bekas.


Diatas adalah mesin yang biasanya menggunakan bahan bakar bensin, namun dengan sedikit modifikasi dapat dijalankan dengan menggunakan bahan bakar biogas. Bahan bakar bensin disini hanya sebagai pemancing saat awal mesin itu dihidupkan, selanjutnya akan diganti dengan biogas. Mesin tersebut digunakan sebagai mesin pembangkit tenaga listrik. Kemudian ban-ban mobil bekas yang tergantung diatas mesin tersebut merupakan tampungan biogas yang dihasilkan dari digistger.


Video Biogas
Dari video diatas dapat dilihat, bagaimana biogas dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk menghidupkan mesin yang biasanya menggunakan bahan bakar bensin.


Vodep Reaktor/Digister Biogas Sederhana
Video Diatas adalah contoh sederhana dari penampang reaktor biogas, yang dapat ditiru untuk diaplikasikan. Cukup simpel, hanya dengan menggunakan beberapa drum yang dilas.


Media Penampungan Biogas Sementara

Biogas yang dihasilkan dari reaktor/digester supaya bisa lebih banyak dan dapat digunakan dalam waktu yang lama, dapat ditampung atau disimpan dengan menggunakan ban mobil bekas, atau tengki angin. Seperti pada video diatas, terlihat beberapa buah ban bekas yang disusun untuk menampung biogas dari digester.


Nah bisa dibayangkan, jika Biogas yang telah saya ulas diatas dapat diaplikasikan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Pasti Pertamina akan kehilangan konsumen gas Elpiginya, bahkan bisa merambah juga pada pengurangan penggunaan bensin sebagai bahan bakar.

Jika dibilang gratis sih tidak, cuma memang butuh modal awal untuk membuat digiseter/reaktornya. Besar dananya pun cukup relatif tergantung dari ukuran dan jenis bahan yang digunakan. Namun setelah memiliki reaktor tersebut, akan dirasakan dampak positifnya terutama dalam efisiensi dan ekonomis. Karena tak ada lagi uang minyak atau uang untuk beli gas elpigi yang harus keluar untuk memasak. Atau apabila punya industri rumahan yang membutuhkan tenaga mesin untuk penerangan atau proses produksi lain, yang biasanya menggunakan bensin sebagai bahan bakarnya, dengan mempunyai reaktor biogas sendiri, uang beli bensin pun bisa di minimalisir.

Rabu, 28 September 2011

Minyak Kopra Sebagai Alternatif Bahan Bakar Kompor Untuk Memasak

Bahan bakar minyak tanah yang umum digunakan sebagai bahan bakar untuk kompor masak, dalam waktu kedepan akan menjadi langka. Karena bahan bakar yang diolah dari minyak bumi tersebut, lambat laun persediaannya di dalam perut bumi akan habis, dan karena merupakan bahan energi yang tidak dapat diperbaharui, jikapun bisa akan membutuhkan waktu jutaan tahun lagi untuk memperbaharuinya. Oleh sebab itu, Pemerintah saat ini menggulirkan program konveksi minyak tanah ke gas Elpigi. Hal ini dimaaksudkan untuk menekan atau membatasi penggunaan minyak tanah, supaya stok yang ada di perut bumi tidak cepat habis dan masih dapat di eksploitasi dalam jangka waktu yang lebih lama. Tak dapat dipungkiri, dengan adanya program konveksi ke gas Elpigi ini, harga minyak tanah di pasaran akan lebih mahal dari biasanya.


Melalui alat giling manual ini, dapat dihasilkan minyak kopra yang akan digunakan sebagai bahan bakar alternatif. sedangkan bungkil atau ampasnya, dapat dijadikan sebagai makanan ternak.

Kompor yang digunakan memang tidak seperti kompor minyak tanah yang menggunakan sumbu, tapi hampir mirip dengan kompor minyak tanah burning yang dipompa dengan angin. Seperti yang biasa digunakan oleh mas-mas penjual nasi goreng atau bakso, namun ada modifikasinya sedikit.


Ini adalah alat penggiling kopra yang sudah menggunakan tenaga mesin listrik, yang tentunya akan semakin cepat dalam mengepres atau menggiling kopra untuk diambil minyaknya.



Berikut video proses penggilingan kopra untuk diambil minyaknya, dengan menggunakan mesin penggiling.
Dan diatas adalah video proses penggunaan kompor burning dengan bahan bakar minyak kopra. Jika sudah menyala sempurna, apinya hampir tidak kelihatan dan menghasilkan suhu yang sangat tinggi. sehingga sangat cepat untuk memasak.

Jika alternatif diatas dapat dikembangkan di beberapa daerah yang mempunyai potensi kelapa yang tinggi, seperti di Sulut dan beberapa daerah lain di Indonesia. Mungkin akan sangat membantu masyarakat dalam mendapatkan bahan bakar minyak untuk memasak keperluan sehari-hari, dengan sangat mudah dan murah.

Peralatan mesin giling tersebut, saat ini baru dikembangkan oleh Koprasi Karyawan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao di Jember Jawa Timur. Pengelaman belajar langsung disana, saya dapatkan pada pertengahan Oktober tahun 2010 lalu. Semoga bermanfaat bagi pembaca.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...