Minggu, 23 November 2008

Solusi Transportasi di kala Banjir













Rata-rata hampir dibeberapa daerah di Indonesia merupakan daerah yang rawan banjir. Terlebih di ibukota Jakarta yang dapat dikatakan sebagai daerah langganan banjir dikala musim hujan tiba. Segala bentuk kesulitan pun selalu menghadang apabila banjir itu datang, rumah-rumah terendam, segala perabotan hanyut, apalagi akses transportasi yang tertutup air dan tak bisa dilewati oleh segala macam jenis kendaraan keculali perahu sampan atau perahu karet sebagai alat evakuasi.














Hal ini tentu saja sangat merepotkan, terutama bagi mereka yang mempunyai mobilitas tinggi, atau yang ingin bepergian tanpa dihalangi oleh halangan banjir. Setelah aku berselancar sejenak ke dunia maya, lalu kusinggah pada salah satu situs, disitu ada beberapa artikel yang disertai gambar-gambar yang menarik tentang mobil amfibi yang dapat berjalan di darat maupun di air. Lalu ku membayangkan jika kendaraan-kendaraan ini dapat dimiliki oleh sebagian dari penduduk Indonesia terutama bagi mereka yang tinggal didaerah rawan banjir, pastilah sangat membantu sekali. Berikut cuplikan dari gambar-gambar mobil tersebut :

Ini adalah salah satu bentuk kreativitas masyarakat di salah satu daerah di China, dimana jalur transportasinya dipisahkan oleh sungai, sehingga kakek ini (pengemudi) memodifikasi kendaraannya bisa berjalan di darat dan disungi. Bentuknya sangat sederhana sekali.

Ketika berada di air bentuknya seperti perahu sampan.







Konsep mobil yang dapat berjalan di darat dan di air ternyata sudah ada sejak jaman dahulu. Di samping adalah sebuah konsep mobil dengan konsep yang sangat modern, yang dibangun pada tahun antara 40-60 an.

Berikutnya adalah Humdinga, sebuah mobil amfibi yang diciptakan untuk segala macam jenis medan. Baik untuk ofroad, jalan raya maupun di air menerjang banjir.





Dan beberapa jenis mobil amfibi lain, yang tentu saja sangat canggih dengan didukung teknologi tinggi.
































Sayangnya mobil-mobil ini hanya diproduksi beberapa saja, dan belum merupakan kendaraan masal. Sehingga harganya masih selangit.
Tetapi melihat potensi banjir di negara kita, apalagi Indonesia adalah negara maritim yang mempunyai wilayah laut yang luas, serta banyaknya sungai-sungai besar yang menghiasi beberapa daerah terutama di Kalimantan. Maka kiranya Pemerintah Indonesia layaknya memikirkan kendaraan Amfibi dapat dijadikan sebagai Mobil Nasional, dengan harga terjangkau. Kendaraan ini selain dapat membantu untuk menjangkau daerah-daerah yang sulit, membantu dikala banjir juga dapat digunakan sebagai transportasi wisata atau untuk berekreasi menyusuri pantai-pantai yang indah, danau atau sungai.
Dan sayangnya juga, ini masih dalam bentuk hayalan tingkat tinggiku. Siapa tau diwaktu yang akan datang dapat memiliki salah satunya. Terutama yang bermerek aquada he...he...he...


Kamis, 20 November 2008

Masukin Giginya donk!

Alkisah disebuah kampung, Ada seorang cewek sebut aja “Monic”, yang (maaf) giginya agak jongos kedepan. Dia ingin sekali belajar naik motor, karena melihat teman-temanya yang selalu kemana-mana naik motor.

Kebetulan lewatlah “Jeky”, pemuda kampung yang selalu berpenampilan necis dengan motor bebeknya yang selalu dia rawat, sehingga selalu nampak kempling seperti orangnya.

Jecky terkenal sebagai seorang pemuda yang baik hati, dan suka membantu.

Tanpa canggung, Monic pun lantas meminta bantuan supaya mau mengajarinya naik motor, dengan motor bebeknya.

Jecky tak keberatan dengan permintaan Monic, lantas dia memberikan kunci motornya pada Monik. Dengan rasa percaya diri tetapi sedikit ragu, Monik meminta Jecky memandunya, untuk mengajari naik motor.

Monic : Jeck, gimana cara menghidupinnya..?

Jecky : Itu kamu putar kuncinya ke “on” lalu tekan tombol starternya.

(sambil membonceng dibelakang layaknya seorang instruktur, Jecky memberikan intruksi kepada Monik) dan motor pun hidup berbunyi.

Monic : Habis ini apa Jeck.

Jecky : Terus masukin giginya, sambil putar gas pelan-pelan, sambil jaga keseimbangan.

(Monik pun mengikuti intruksi Jecky dengan seksama, dan dengan PDnya pula dia masukin “giginya” dengan susah payah, sambil memutar gas pelan-pelan.

Tetapi motornya tetap tidak bergerak. Semakin dia menambah gas, motornya tetap tidak bergerak hanya suara motornya yang semakin kencang meraung.

Jecky : Nic, dimasukin giginya donk, sudah belum? (sambil sedikit berteriak).

Monic : cudah..cudah giginya cudah tak macukin, tapi kok belum bejalan juga. (dengan suara yang sedikit kepelo-peloan).

Jecky pun heran, dia pikir jangan-jangan motornya rusak. Lalu dia cek, untuk turun dari motor dan mengecek dari depan.

Melihat Monic yang susah payah memasukkan giginya, supaya dapat "mingkem", Jecky pun lantas tertawa terbahak-bahak.

Ternyata bukan gigi kopling motor yang dimasukkan Monic, tetapi gigi Monic sendiri yang dimasukan. Pantasan motor tidak jalan-jalan.

He...he...he...

Seharusnya si monic minum Extra Boss kali ya.., biar jongos bisa jadi boss

Kalo sudah jadi boss, beli motor yang enggak pake gigi, biar enggak susah payah nyembunyiin gigi.. he..he...






Kata Tukul kisah diatas hanya "just kiding" nda bermaksud melecehkan, alias hanya fiktif belaka.

Senin, 03 November 2008

Si Om Manado yang Sok Tau

Ini sapa pe Oom Kang..?

Kejadiannya di pesawat Garuda flight No. GA603 rute Manado- Makassar - Jakarta . Ada 1 penumpang... orang manado yg baru pertama kali naik pesawat, duduk di seat 20A (Klas economy) udah agak di belakang. Dia naik dari Manado dan tidak ada masalah. Pada saat transit di Makassar, dia turun dari pesawat melalui pintu depan sehingga melewati kompartmen kelas Bisnis, mungkin dia perhatikan perbedaan kelas bisnis dan ekonomi dari ukuran besarnya kursi. Nah pada saat boarding lagi dari Makassar , si Oom Manado naik ke pesawat, duduk di seat no.1F (Bisnis kelas paling depan lagi....).


Kemudian ada cabin crew nanya:

Cabin Crew : Selamat Sore Pak.
Om Manado : Selamat Sore Nona .....
Cabin Crew : Mohon Maaf pak, bisa lihat Boarding Passnya ??
Om Manado : Oh... kita nen tau apa itu koa. Ngana minta apa ??
Cabin Crew : Maaf pak, saya mau lihat potongan pass naik, berupa kertas mungkin ada di tiket yang bapak pegang.
Om Manado : Oh.. kalo teket ada nooo.... ngana mo lia ?? sabar ne ..
Oom Manado ambil tiketnya di kantong celana, kemudian diberikan ke Cabin crew.
Cabin Crew : Oh Maaf pak, tempat bapak bukan disini, tapi di belakang, tepatnya no 20A, di kelas ekonomi. Mohon maaf pak, mari saya antar ke tempat duduk bapak.
Oom Manado : Nimau !!!!!! kita mo dudu disini.... kita suka dudu disini!!!
Cabin Crew : Maaf pak.. tapi bapak bayarnya untuk klas ekonomi sementara yg disini buat yg bayar tiket Klas Bisnis.

Oom Manado : Itu ngana pe urusan.... bukan kita pe urusan noo.... yg kita tau... kita su bayar tiket.. kong kita mau dudu dimuka sini. Pigi sana ..... jauh2 jo ngana......! !!!!

Si cabin crew tetap dengan ramahnya menjelaskan ke oom Manado , tetapi si Oom tetap Ngeyel bin Ngotot gak mau pindah. Akhirnya karena penumpang sudah pada naik semua dan pintu pesawat akan ditutup namun si oom manado tetap gak mau pindah, maka melaporlah si cabin crew ke PIC (Pilot in Command). Si pilot yg kebetulan orang ambon (Fam-nya Tapillatu, klo tdk salah...).. trus keluar untuk ketemu dgn oom Manado .


Pilot : Oom... selamat sore om.... Apa kabar oom ??
Oom Manado: Selamat sore... (tapi tetap tidak tersenyum)
Pilot : Oom dapa lia gagah skali,,,,, mau berangkat ke mana Oom ??
Oom Manado: Jakarta . Ngana orang Menado ???
Pilot : Bukan Oom..... beta orang Ambon .... tapi Oom ... beta ada mau bilang .... kalo mau ke Jakarta musti dudu di belakang Oom.
Oom Manado: Oh ?? Begitu ka?? Kong dorang yg dudu dimuka ini mau pigi mana?
Pilot : ..Klo yang di muka sini Oom... itu mau bale ulang ke Menado.

Oom Manado cepat2..berdiri trus pindah tempat sambil ngomong ke Cabin Crew "Kiapa ngoni nda kase tau dari tadi, klo yg di muka mau bale ke Manado "?
Kita rugi no.. klo su beli teket dari Manado mau pigi jakarta ... maar dapa bale ulang ke Manado '.

------------------------
Diceritain oleh Salmon Tarigan
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...