Sabtu, 15 November 2008

Komunitas Askarseba, beragam warna dalam satu kebersamaan

Menjadi mahasiswa baru dan tinggal di kota kecil Salatiga sebenarnya bukan lah pilihanku, tetapi karena faktor keberuntungan saja aku bisa menikmati kota kecil yang sejuk dan nyaman tersebut. Mengingat kembali saat pertama aku datang di kota itu untuk menempuh pendidikan S1 di UKSW, sebuah kampus hijau yang indah bagiku. Disitulah ku dapat mengenal keragaman budaya yang ada di Indonesia.

Tinggal di Askarseba (Asrama Kartini 11A Salatiga), sebenarnya juga bukan pilihanku. Sebab awalnya aku sudah mencoba keliling mencari tempat kost di sekitar kampus tetapi ternyata semua sudah penuh. Maklum, aku masuk sebagai mahasiswa yang mendaftar di kloter gelombang ke III, jadi tempat-tempat kost yang ada di sekitar kampus sudah dipenuhi dengan anak-anak baru yang telah mendaftar pada kloter gelombang I dan ke II, apalagi tempat kost di kampung Kemiri yang tempatnya di belakang kampus. Sudah gak ada lagi kamar kosong yang dapat ku tempati. Akhirnya, lewat informasi dari salah satu teman sefakultas. Pilihanku pun jatuh pada fasilitas kampus yang konon katanya sedikit angker bagi beberapa orang apalagi orang jawa, karena yang tinggal di situ hampir semua adalah mahasiswa dari luar jawa, di tambah lagi bangunannya adalah bangunan tua.


Dengan kondisdi terpepet karena belum mendapat tempat tinggal, terpaksa aku mendaftar sebagai salah satu penghuni tempat itu. Kesan pertama saat survey lokasi memang sedikit agak takut. Melihat bangunan yang terkesan tua tetapi sedikit terawat, apalagi beberapa penghuni (kakak-kakak senior) beberapa diantaranya bertampang serem dengan rambut keriting gondrongnya yang diribakkan, wah menambah merinding juga neh. Tapi karena dari pada nggak dapat tempat tinggal, apalagi perkuliahan sudah akan dimulai maka ku datanglah kepada Pak Slamet. Pak Slamet adalah pengelola asrama yang biasa ngurus administrasinya untuk melakukan registrasi penghuni Askarseba, dan mengurus uang bulanan asrama.


Setelah registrasi selesai, besoknya baru aku datang lagi dengan membawa barang-barangku yang hanya se tas ransel. Pagi-pagi sekali, aku datang meminta kunci kamar di ruangan kerja Pak Slamet, dan Pak Slamet memberikan kunci kamar dan menempatkanku di Unit V kamar nomer 217. Dia bilang, kamu aku tempatkan sekamar dengan orang Palu, tapi sementara ini lagi skripsi, jadi kamu jangan banyak ganggu dia. Dengan tampang lugu aku langsung meng iya kan.


Sambil menunggu Pak Slamet mempersiapkan berkas administrasi, dan keperluan kamarku. aku pun duduk menunggu disofa diruangannya. Tiba-tiba dimuka pintu ada cewek masuk mencari pak Slamet, yang kebetulan waktu itu baru keluar dari ruangannya, Dia pun menyapaku dengan ramahnya ”Selamat pagi Kak, Pak Slametnya kemana? ”. Tanyanya.


Aku pun bingung, mana yang kak ini, pikirku. Karena aku merasa paling Yunior saat itu. Tetapi akupun menjawab ”ooh.. emm.. baru keluar sebentar, tunggu aja”. Kataku.

”Oo.. kalau begitu, nanti aja deh Kak, saya akan kembali lagi. Makasih ya Kak” katanya. Akupun semakin bingung, sambil tersenyum dikit aku pun mengangguk.. lalu dia berlalu.


Sebelum ku tahu bahwa dia adalah Hellen S. Ginting, teman beretnis Batak tetapi lama tinggal di Jakarta, yang ternyata juga seangkatanku. Dia mengira aku salah satu senior, karena rambutku dan pawakanku tidak seperti teman-teman yang lain, yang saat itu berkepala pelontos karena baru ikut Osmaru atau Ospek asrama yang terkenal kejam katanya. Sedangkan ketika ku masuk, kegiatan ospek sudah selesai. Rambutku pun masih sedikit panjang, seperti senior-senior yang lain. Pantasan dia memanggilku ”Kak”.


Kamar Unit V . 217


Saat memasuki kamar itu ternyata...., ya ampun meskipun kamarnya berukuran 4x4 tetapi tampak penuh dengan barang, apalagi si empunya kamar ternyata enggak ada di tempat. Karena katanya dia saat itu lagi mengikuti acara kampus di luar kota untuk beberapa hari kedepan. Dengan dikasihkan satu ranjang dan satu tempat tidur, maka ku tata sedemikan rupa tenpa mengubah sedikitpun barang friendkamp (teman kamar) ku yang belum aku temui. Selama hampir empat hari, aku selalu was-was karena gak enak juga tinggal sekamar dengan orang, tetapi aku belum bertemu orang itu. Bahkan aku juga tidak tau mau berbuat apa, sebab belum banyak juga kenal dengan penghuni yang lain.


Ketika dia datang, tampaknya dia sudah tahu kalau akan mendapat friendkam, maka saat itulah aku beranikan diri untuk minta izin mengatur barang-barangku. Tak menyangka Kak Erick, mahasiswa FSM (Fakultas Sain Matematika) asal Palu Sulawesi Tengah ini adalah salah satu mahasiswa teladan di kampus dan di Askarseba. Bersyukurlah aku dapat friendkam pinter dan baik. Meskipun orangnya sedikit keras, dan disiplin.


Bulan-bulan pertama memang kurasa sangat berat untuk tinggal di Asrama meskipun masih tinggal di pulau Jawa, tetapi lingkungan pergaulanku di asrama seperti sudah bukan di pulau Jawa lagi. Di sini aku bertemu dengan teman-teman dari latar belakang daerah yang berbeda, seperti friendkamku berasal dari Palu, ada pula temanku yang dari Ambon, Sumba, Kupang, Manado, Papua, Sumatra, Kalimantan dll. Beragam etnis dan suku bahasa berbaur jadi satu disini.


Mulanya aku belum terbiasa dengan logat bahasa Indonesia Timur yang sedikit keras, dan cepat. Tetapi lambat laun, karena memang setiap hari selalu berada ditengah-tengah mereka maka logat bahasa jawaku yang medok pun mulai hilang. Bahkan dialek bahasaku pun mulai mengikuti bahasa yang mereka pakai. Misal bila bicara dengan teman-teman dari Ambon yang terkenal dengan bahasanya yang cepat dan benada tinggi dengan penggunaan kata-kata yang jelas berbeda dengan bahasa jawa yang kalem, dan teratur. Aku yang mulanya denger mereka ngobrol hanya senyum-senyum saja, tanpa mengerti artinya sehingga jadi bahan ketawaan oleh teman-teman dari Ambon. Lambat laun karena sudah terbiasa akhirnya, ngikut juga dengan logat dan gaya bahasa mereka.


Kebersamaan adalah moto Askarseba


Biarpun yang tinggal disana adalah dari beragam latar belakang etnis dan budaya yang berbeda, tetapi yang membuat kami salut dan betah tinggal disana adalah karena seruan ”kebersamaan” dalam setiap perjumpaan ku dengan teman-teman si Askarseba. Seruan ”kebersamaan” ini pula telah ditekankan pada setiap anak-anak baru, yang baru masuk.


Biasanya, bagi mereka yang masih mempertahankan keegoisannya.. rata-rata tidak akan betah untuk tinggal di Askarseba. Paling hanya bertahan sebulan sampai tiga bulan saja. Karena, tinggal di Askarseba ini harus baku tau, baku sapa dan baku tolong. Jika misalnya saat aku mau keluar menuju kampus, dan tiba-tiba aku berpapasan dengan teman Askarseba lain. Kita harus saling menyapa, dan saling mengenal. Jika tidak kita akan di cap sebagai ”Kapal Kayu”. Artinya ya seperti kapal kayu, yang tak bermesin dan tak besuara, sombong dan lain-lain.


Badansa and Sajojo mari badansa rame-rame


Inilah yang paling ditunggu oleh komunitas Askarseba. Yah pesta dansa..
Yang pasti acara ini tidak dimiliki oleh teman-teman lain yang tinggal di kost-kostan. Acara ini biasanya di gelar saat seusai Osmaru penerimaan penghuni baru, pas malam inagurasi. Atau pas acara habis Wisuda, Paskah, Natal atau ada yang Ulang tahun yang ingin dirayakan dengan lumayan meriah, atau kadang-kadang malah spontanitas begitu saja.


Asrama disini mungkin tidak seperti asrama-asrama di tempat lain, yang super ketat penjagaanya. Di Askarseba waktu jamanku dulu, ada peraturannya tetapi tidak seketat sekarang. Kami masih diberi kebebasan untuk membuat kegiatan-kegiatan diluar kegiatan akademik sebagai kegiatan refresing.


Seperti acara dansa hingga larut malam misalnya, meskipun hal ini curi-curi waktu yang diberikan oleh kepala Asrama. Kadang pula karena kenakalan kami, Kepala Arama sampai marah-marah karena mengabaikan peringatannya, meskipun dia sendiri sih memakluminya, karena ini adalah tradisi asrama.


Aku yang dahulu tidak tahu sama sekali apa itu dansa, sajojo, cha-cha dan poco-poco. Akhirnya karena teman-teman asrama sering menggelar acara ini, akupun ikut-ikutan belaja Merari itu. Padahal tubuhku sangat kaku dan terlihat lucu kalau mengikuti tarian-tarian itu.


Yang lebih menarik adalah ketika yang diputar lagu-lagu dansa. Mulanya aku hanya melihat saja dari salah satu sudut hall unit VI yang dijadikan acara pesta malam itu, sambil mengamati beberapa pasang senior dan teman-temanku yang turun melantai. Terang saja aku takut dan malu kalau mengajak atau menarik cewek untuk berdansa, soalnya aku sendiri tidak tahu dansa. Tapi beruntunglah bukan aku yang menarik cewek, tetapi cewek-ceweklah yang menarik aku untuk mengajak dansa. Kebalik memang.


Yah.. mereka teman-teman cewekku, dengan setia mengajariku berdansa. Salah satunya Hellen yang telah kusebut diatas tadi, dan beberapa teman senior dan yunior cewek yang lain.


Karena bantuan mereka, setiap kali ada acara dansa.. pas ada lagu dansa, maka mulailah aku memberanikan diri mengajak salah satu cewek yang kuangap menarik untuk kuajak dansa. Yihhuuiiii.... asyik.... nampak romantis banget dah...


Begitu pun ketika yang diputar adalah lagu Sajojo... pasti lantai langsung penuh. Mereka yang mulanya hanya duduk-duduk atau berdiri dipinggir saja, kalau lagu ini diputar langsung semua turun melantai....


Pokoknya untuk acara ini sangat berkesan sekali...

Hingga saat kita sudah keluar dari asrama, karena waktu itu ada kebijakan kampus yang menyatakan bahwa penghuni lama asrama harus keluar semua, tak ada yang terkecuali... karena penghuni lama dianggap telah banyak membuat kesalahan, dan pelanggaran. Akhirnya pimpinan Universitas mengeluarkan keputusan itu.


Dari Persahabatan sampai Pertunangan


Biarpun kami telah berpisah, karena harus mencari kost masing-masing tetapi ikatan kebersamaan komunitas asrama tidak putus. Baik cewek maupun cowok. Setiap ada acara seremonial tertentu seperti ulang tahun, perayaan paskah, Natal atau bahkan salah satu diantara kami ada yang wisuda. Kami pun bahu membahu membikin acara perayaan. Bila memungkinkan setelah acara ibadah, pasti ditutup dengan acara pesta dansa lagi. Yang penting tempatnya memungkinkan.


Ikatan emosional persahabatan dan persaudaraan pun terjalin sangat kuat diantara kami. Bahkan banyak diantaranya, karena sudah merasa dekat dan sudah saling mengenal. Antara penghuni Unit cowok dan unit cewek banyak yang saling jadian, bahkan setelah lulus banyak diantaranya yang langsung melanjutkan dijenjang pernikahan.


Yah... terkadang aku masih merindukan saat-saat indah ketika masih tinggal disana. Ketika kita berikrar untuk menjadi manusia yang creative minority for Agent of changes di tempat kerja maupun di lingkungan masyarakat dan bernegara.


Saat ini, sudah kurang lebih 5 tahun bahkan hampir 6 tahun saat-saat indah itu berlalu. Tetapi irama dan aura kebersamaan masih tetap aku rasakan. Meskipn satu persatu dari kami sudah berpencar berjuang untuk nasib ditempat perutusan masing-masing di pelosok Indonesia ini, tetapi kami masih saling contak.


Sahabat karibku, sebut saja Willy Corputy anak Ambon yang sekarang sudah menjadi Guru di salah satu sekolah di Makasar, begitu juga Elly Kudubun asli pulau Tual Maluku Tenggara, yang mulanya menjadi dosen di daerah asalnya sekarang kembali lagi ke Salatiga untuk menjadi pengajar di almamaternya. Apalagi si Ernice cewek bersuara emas asli Tobelo Ternate, yang saat ini menjadi aktifis kemanusiaan di Aceh, Gideon S. Manulang beserta Gilbert adiknya anak Batak, Tia dan Filla yang asli Sunda, Nitran yang asli Posso, Like cewek manis asli Minahasa tapi tinggal di Luwuk Sulteng. Dan masih banyak lagi sahabat-sahabat lain yang tak bisa ku sebut satu persatu, tetapi hingga saat ini masih saling kontak untuk mengabari keberadaan masing-masing.


Yah... inilah warna-warni di Askarseba, yang begitu berwarna, tetapi begitu menyatu dalam kebersamaan.

Asrama Blusse

2 komentar:

  1. tinggal di askarseba...wah paling menyenangkan!tidak ada tempat yang penuh dengan memori yang bisa dilupakan kecuali askarseba...saya mantan penghuni askarseba dapat suami juga penghuni askarseba hahaha bagaimana bisa lupa...asrama blues..asrama blues your all i need, i need the song tanya ada kakak2 kita termasuk kakak dharma.salam deh buat pak slamet...dari mbak nova pasti dia kenal

    BalasHapus
  2. wah boleh ikutan coment gk ya kk...

    aku angkatan 2009 yang tinggaL di Askarseba...

    banyak kejadian yang terjadi disini yang nggak pernah aku bayangkan...

    ntr LAgi ada temu aLumni kk...
    CU
    GBU

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...